Sabtu, 26 Mei 2012
IDAI: Sumut Kekurangan Dokter Anak
Minggu, 10 Oktober 2010 12:58
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 10/10 (SIGAP) - Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumut, Prof Guslihan Dasa Tjipta di Medan, Minggu (10/10) mengatakan, Sumatera Utara masih kekurangan dokter spesialis anak, akibatnya banyak penanganan terhadap anak dilakukan oleh dokter umum.

Prof Guslihan menambahkan, dewasa ini dokter spesialis anak di Sumut jumlahnya hanya sekitar 120 orang.

Keberadaan dokter spesialis anak di Sumut saat ini, penyebarannya masih tidak merata. Dari 120 dokter spesialis anak itu, sekitar 80%-nya berada di Medan dan sekitarnya seperti Kota Binjai dan Deli Serdang.

Sementara sisanya sekitar 20% lagi tersebar di beberapa daerah, bahkan beberapa kabupaten/kota sama sekali tidak memiliki dokter spesalis anak seperti kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Tapanuli Utara, dan Nias Selatan.

"Penyebarannya memang tidak merata, sebagian besar dokter spesialias anak terpusat di kota-kota besar saja seperti halnya di Medan. Akibatnya terpaksa dokter umum yang harus melayani anak yang sakit," katanya.

Menurut Prof Guslihan, tidak meratanya penyebaran dokter anak terutama didaerah-daerah, salah satunya diakibatkan tidak adanya kewajiban mengikat yang mengharuskan mereka untuk membuka praktik diwilayah-wilayah yang jauh dari kota besar.

Meski IDAI merupakan organisasi profesi sebagai wadah bernaungnya dokter anak, namun menurutnya lembaga itu tidak memiliki kekuatan dan wewenang dalam hal penempatan dokter di suatu daerah.

Karena kewenangan tersebut terletak sepenuhnya pada Departemen Kesehatan dalam hal ini Dinas kesehatan di daerah, sementara IDAI sendiri hanya berperan dalam hal perekomendasian saja.

"Apalagi kalau dokter tersebut dalam mengambil spesialisnya atas biaya sendiri. Tentunya mereka berhak menentukan lokasi praktiknya sendiri hingga wajar kalau banyak dokter anak yang cenderung membuka praktik di perkotaan," katanya.

Sementara itu, Ketua Departemen Ilmu Penyakit Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Ridwan M Daulay mengatakan, usaha pemerintah untuk pemerataan dokter didaerah sebenarnya sudah ada dengan program tugas belajar.

Dengan adanya ikatan melalui program tugas belajar tersebut, diharapkan keberadaan dokter terutama dokter spesialis anak didaerah-daerah dapat lebih merata hingga pelayanan terhadap masyarakat juga dapat lebih optimal.

Begitu juga dengan USU yang wewajibkan bagi calon dokter spesialis anak untuk mengabdikan ilmunya di daerah yang tidak memiliki dokter anak selama lebih kurang tiga bulan.

"Jadi bagi dokter yang akan mengambil spesialis anak, diwajibkan terlebih dahulu mengabdi selama tiga bulan didaerah," katanya.

Ketua Umum Ikatan DokterAnak Indonesia (IDAI) Dr Badriul Hegar jauh sebelumnya pernah mengatakan, Indonesia hingga saat ini kekurangan dokter anak, karena jumlah dokter per Juni 2010 sekitar 2.700 orang. Selain itu menurut Dr Badriul, keberadaannya masih terkonsentrasi di perkotaan.

“Saat ini satu dokter anak di Indonesia harus melayani sekitar10.000 sampai 20.500 anak, padahal idealnya satu dokter anakseharusnya hanya melayani sekitar 2.500 orang saja,” katanya seperti yang dikutip laman idai.or.id, Juli lalu.

Dr Badriul menjelaskan, dibutuhkan sekitar 8.000 dokter anak untuk mencukupi kebutuhan di seluruh daerah, dan selama ini setiap tahunnya dihasilkan sekitar 150 orang dokter yang berasal dari 14 institusi kedokteran anak, namun distribusinya belum merata.

Berdasarkan data IDAI hingga Januari 2010, jumlah dokter anak yang ada di berbagai daerah di antaranya Bali, jumlahnya hanya 114 orang, Banten 55 orang, DI Yogyakarta 84, DKI sekitar 666 dokter, Jambi 10 dokter, Jawa Barat 300, Jawa Tengah 224 orang, JawaTimur282 orang, dan Kalimantan Barat 15 orang.

Kemudian di Kalimantan Selatan 32 orang, Kalimantan Timur 35,Kepulauan Riau 24, Lampung 30, NAD 38, Riau 42, Sulawesi Selatan106 dokter anak, Sulawesi Utara 58, Sumatera barat 44, SumateraSelatan 77 dan Sumatera Utara 153 dokter anak. (rusman/ant)

 

Arsip Berita