Sabtu, 26 Mei 2012
Jambi: Surplus Neraca Perdagangan Naik Empat Kali Lipat
Sabtu, 09 Oktober 2010 10:04
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, (9/10) SIGAP - Surplus neraca perdagangan Provinsi Jambi pada Agustus 2010 sebesar 98,23 juta dolar AS, naik lebih dari empat kali lipat dibanding bulan sebelumnya karena turunnya nilai impor yang cukup signifikan.

Kepala BPS Jambi, Dyan Pramono Effendi, di Jambi Sabtu mengatakan, dari tujuh negara utama hanya Taiwan yang mengalami defisit sebesar 862,42 ribu dolar AS, sedangkan penyumbang surplus neraca perdagangan terbesar berasal dari Malaysia 17,58 juta dolar ASN dan Jepang 15 juta dolar AS.

Dengan demikan Surplus neraca perdagangan Provinsi Jambi periode Januari hingga Agustus 2010 tercatat sebesar 597,96 juta dolar AS dengan rincian volume ekspornya 1.140 ribu ton dan nilai 778 juta dolar AS sedangkan volume impor tercatat 1.862 ton dan nilainya 180 juta dolar AS.

Sedangkan neraca perdagangan Jambi dari Jepang nilai ekspornya 16 juta dolar AS sedangkan impor 1,2 juta dolar AS, dari Taiwan yang mengalami defisit karena nilai impor cukup besar yakni 895 ribu dolar AS sedang nilai ekspornya hanya 33 ribu dolar AS.

Sementara itu dari Cina juga mengalami penurunan namun tidak sampai defisit karena nilai ekspornya tercatat sebesar 19,4 juta dolas AS dan nilai impornya 6,6 juta dolar AS, disusul dari negara Singapura nilai ekpsornya 13,9 juta dolar AS sedangkan impor 1,02 juta dolar AS.

Neraca perdagangan luar negeri Jambi dari Malaysia yakni nilai ekspornya tercatat 18,7 juta dolar AS atau nilainya cukup besar dari impor hanya 1,19 juta dolar AS, kemudian disusul oleh negara nilai ekspornya ada sebesar 236 ribu dolar AS sedangkan nilai impor kosong atau tidak tercatat pada saat itu.

Dari negara Amerika Serikat, neraca perdagangan Jambi juga cukup besar yakni ekspornya senilai 7,89 juta dolar AS sedangkan nilai impor hanya 1,29 juta dolar AS dan negara gabungan beberapa negara lainnya nilai ekspornya tercatat 36,4 juta dolar AS dan impor 2,4 juta dolar AS.

Total neraca perdagangan luar negeri Jambi dari semua negara yang tercatat pada Agustus lalu, nilai ekspornya sebesar 112 juta dolar AS dengan volume 3.421 ton sedangkan nilai impor 14,7 juta dolar AS dengan volume 1.155 ton.

Kepada Metro Jambi, pengamat ekonomi Dr Syamsurijal Tan terkait kompetisi global mengatakan, perdagangan bebas bisa dilihat dari beberapa sisi. Pertama, sebagai peluang. Dengan pasar bebas, ekspansi akan lebih mudah dilakukan pengusaha tanpa hambatan tarif ekspor impor lagi.

Dari sisi impor, ada ada serangan produk-produk dari luar negeri masuk ke pasar lokal. Itu menjadi ancaman bagi produk lokal yang tidak bisa bersaing. “Tanpa AFTA saja, di Jambi produk Cina sudah masuk dengan harga murah,” ungkap Syamsurijal Tan, dosen FE Unja.

Di Jambi, produk lokal tak terlalu terpengaruh, sebab usaha di Jambi cenderung ke produk makanan, bukan barang nonmakanan. “Kalau Cina banyak memasukkan makanan, baru patut diwaspadai,” lanjutnya. Saat ini yang sudah masuk adalah buah-buahan. Jika petani tidak siap, berbahaya.
Pemerintah juga harus bisa memperkuat usaha kecil-menengah agar tidak gampang tergilas persaingan. Apalagi Jambi terkenal dengan industri makanan.

”Peningkatan SDM, kreatif, perhatian pemerintah, sangat penting untuk memastikan UKM tidak terpengaruh,” katanya.

Selain itu, dunia usaha harus bersinergi dengan pemerintah. Selain efisiensi produk, ekspansi pasar juga ditentukan lobi dan promosi baik dari dunia usaha maupun pemerintah. (wa prasetya/ant)



 

Arsip Berita