Sabtu, 26 Mei 2012
Kendari: 607 Hektare Padi Puso Karena Keong Mas
Sabtu, 09 Oktober 2010 09:15
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, (9/10) SIGAP - Seluas 607 hektare padi sawah terancam puso atau gagal panen karena serangan hama keong mas yang meresahkan petani di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sultra Abustan di Kendari, Sabtu (9/10) mengatakan, upaya antisipasi telah dilakukan tetapi sulit karena titik serangan hama tidak berada dalam satu hamparan.

"Sulit kita berantas hama keong mas karena berada tidak pada satu lokasi. Hama itu terpencar dan tidak pada satu titik saja," katanya.

Dari 607 hektare lahan padi sawah yang rawan puso karena serangan hama tersebut meliputi Kota Bau Bau 262 hektare, Konawe Selatan 217 hektare, Konawe 85 hektare.

Sedangkan Kabupaten Buton, Muna, Bombana, Kolaka Utara, Kota Kendari dan Buton Utara bebas dari serangan keong mas.

Sementara Kabupaten Wakatobi tidak memiliki lahan persawahan, katanya.

Antisipasi terhadap semakin meluasnya serangan hama keong mas adalah dipungut secara manual.

Pemungutan hama keong mas yang dilakukan petani dinilai tidak memberi harapan untuk menyelamatkan tanaman primadona masyarakat setempat.

Dirinya mengimbau petani atau kelompok tani melakukan penanaman secara kolektif, sehingga serangan hama tidak terkosentrasi pada satu lokasi.

Sebelumnya, seperti diberitakan Bisnis Indonesia, Kementerian Pertanian (KemTan) akan memberikan asuransi pada para petani tanaman padi sebagai antisipasi jika terjadi gagal panen atau puso. 

Menteri Pertanian Suswono menyatakan asuransi ini nantinya dibiayai dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dirinya mengatakan dengan adanya asuransi maka petani tidak perlu kebingungan karena kehilangan potensi pendapatan akibat tanaman padinya terkena puso.

Mentan mencontohkan jika terdapat 100.000 haktere lahan panen yang puso maka petani yang memiliki lahan itu akan mendapatkan asuransi.

Suswono menyatakan upaya pemberian asuransi itu akan diatur melalui aturan pemerintah mengenai perlindungan petani.

Menteri Pertanian Suswono juga menegaskan, Indonesia belum perlu impor beras meskipun terjadi anomali iklim yang berpotensi mengganggu produksi pangan. Alasannya, produksi padi setara beras berdasarkan angka ramalan (aram) II per Juli 2010 mencapai 38 juta ton, sedangkan kebutuhannya hanya 37 juta ton.


"Ada surplus 3 juta ton. Dengan musim hujan yang berlangsung sepanjang tahun, luas tanam padi meningkat," katanya kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (9/8). Dirinya menjelaskan, kenaikan harga beras saat ini disebabkan terganggunya distribusi, bukan karena kekurangan pasokan.(wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita