Sabtu, 26 Mei 2012
Bekasi Antisipasi Banjir Dengan Karung Pasir
Jumat, 08 Oktober 2010 15:22
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 8/10 (SIGAP) - Aparatur Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi dan warga setempat bekerja sama mengantisipasi luapan Sungai Citarum dengan menambal lubang dan tanggul jebol menggunakan ratusan karung pasir. "Banjir kali ini dikarenakan luapan Sungai Citarum dan terjadinya air pasang laut," ujar Camat Muaragembong, Herman Susilo, di Muaragembong.

Menurutnya, luapan Sungai Citarum akibat hujan deras beberapa hari terakhir merendam empat desa di Kecamatan Muaragembong. Keempat desa yang terendam tersebut adalah Desa Pantai Bakti, Pantai Bahagia, Pantai Mekar dan Desa Pantai Sederhana.

"Genangan air setinggi 40 Cm di sepanjang jalan kecamatan, membuat jalan tak bisa dilewati kendaraan bermotor. Namun, sistuasi ini belum terlalu parah," ujarnya. Guna mengantisipasi terjadinya banjir besar, kata dia, pihaknya bersama warga berinisiatif menambal sedikitnya empat titik kebocoran tanggul Sungai Citarum berikut bantaran sungai tempat meluapnya air menggunakan karung pasir bantuan pemerintah setempat.

"Kami telah melaksanakan penambalan dengan karung pasir sejak dua hari lalu bersama warga. Harapannya, banjir di kemudian hari tidak bertambah parah mengingat situasi cuaca yang tidak menentu akan terus berlangsung hingga akhir tahun," katanya.

Faisal, peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, (LP3ES), menegaskan Pemda Bekasi gagal menangani masalah ini. “Inilah salah satu bukti kegagalan Pemda,” katanya kepada SIGAP, Jumat (8/10).

Menurut Faisal, yang juga warga Bekasi ini, yang paling bertanggungjawab terhadap pencegahan banjir adalah pemerintah setempat. “Pemda semestinya membuat program yang di dalamnya melaksanakan berbagai usaha penanggulangan dan pencegahan bencana termasuk banjir. Misalnya, membenahi tata ruang kota Bekasi, merevitalisasi hulu hingga hilir Sungai Citarum,” katanya.

Selanjutnya, menurut Faisal, program edukasi lingkungan hidup kepada masyarakat juga perlu dilakukan. “Pendidikan lingkungan hidup menjadi alternatif pencegahan,”imbuh Faisal, sembari mengakui program memerlukan kajian yang mendalam sebelum dilaksanakan. Partisipasi dan dukungan seluruh komponen masyarakat sepenuhnya sangat dibutuhkan untuk mensukseskan program pendidikan lingkungan hidup ini, tambah Faisal. (Sofyan Badrie/ant)

 

Arsip Berita