Sabtu, 26 Mei 2012
Bantul: Sungai Dipasangi Perangkap Sampah
Jumat, 08 Oktober 2010 03:33
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 8/10 (SIGAP) - Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan memasang perangkap sampah di sejumlah sungai di daerah ini untuk mencegah sampah yang mengalir di sungai semakin meluas.

Kepala Subbidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bantul Antahoni Hutagaol di Bantul, Jumat (8/10) mengatakan, dengan adanya perangkap, maka sampah yang terkumpul bisa dengan mudah diangkut petugas sehingga dapat mengurangi volume penumpukan sampah di sungai.

Menurutnya, pemasangan perangkap sampah kini menjadi pertimbangan untuk menanggulangi permasalahan sampah di sungai sehingga tidak mencemari air sungai akibat pembusukan sampah.

"Terlebih saat musim hujan dimana banyak sampah mengalir ke sejumlah sungai yang bermuara ke Bantul hingga memenuhi sebuah bendungan sehingga kondisi ini harus menjadi perhatian kami," katanya.

Dirinya mengatakan semua pertimbangan memang harus dipikirkan termasuk pemasangan perangkap sampah dan siapa yang akan bertanggung jawab dalam pengangkut sampah secara berkala karena ketika sampah terkumpul harus segera diangkut.

Lebih lanjut Antahoni mengatakan, sungai bebas sampah dapat memberikan dampak positif, seperti dapat mengurangi pencemaran bahkan banjir akibat luapan sungai di sekitar. Sehingga menurutnya, memang perlu ada pendekatan kepada masyarakat sekitar untuk peduli dan merasa ikut menjaga kebersihan sungai.

Antahoni mengatakan, kondisi geografis Bantul memang tidak menguntungkan dari sisi kebersihan karena berada di daerah hilir dan dataran rendah, sejumlah aliran sungai dari utara seperti Sleman dan Kota menuju selatan akan melewati Bantul.

"Aliran sungai itu membawa sampah kiriman yang dibuang masyarakat ditambah dengan masyarakat Bantul sendiri yang membuang sampah disungai maupun ranting atau pohon yang jadi sampah," katanya.

Menurut Antahoni, intansinya pernah mencatat sampah di sejumlah sungai di Bantul pada 2008 seperti Winongo Besar, Winongo Kecil, Gawe, Opak dan Bedog dimana mencapai 329 meter kubik, dan paling banyak di sungai Winongo Besar yang mencapai 70 meter kubik.

Berdasarkan pantauan SIGAP, kebanyakan masyarakat saat ini lebih memilih untuk membuang sampah di sungai daripada di tempat sampah sesuai dengan prosedur pembuangan sampah. Sikap masyarakat yang seperti ini yang perlu untuk diberi penyuluhan dan kesadaran. Pembuangan sampah di sungai sangat merugikan orang banyak.

Sampah yang terbuang ke sungai dapat mencemari sungai sehingga kehidupan hewan-hewan yang ada di sungai akan terancam mati. Selain itu, sungai yang merupakan salah satu sumber air bagi masyarakat akan menjadi kotor. Masyarakat yang mandi dan mengambil air di sungai untuk memasak akan berpeluang besar terkena penyakit.

Dampak pembuangan sampah di sungai yang paling sering terjadi adalah banjir. Sampah yang terbuang ke sungai akan mengalir dan bertumpuk pada satu tempat hingga akhirnya aliran sungai tersumbat. Aliran sungai yang tersumbat mengakibatkan volume air sungai terus meningkat hingga akhirnya meluap dan menimbulkan banjir.

Namun anehnya, meskipun banjir seringkali melanda masyarakat, mereka tetap saja selalu membuang sampah di sungai. Oleh karenanya, penyadaran terhadap masyarakat akan dampak negatif yang terjadi apabila membuang sampah di sungai.

Selain memiliki dampak negatif, sampah juga memiliki dampak positif. Dampak positif sampah akan kita lihat ketika kita melakukan pendauran ulang terhadap sampah. Biasanya sampah yang didaur ulang adalah sampah anorganik. Proses pendauran ulang sampah tidak membutuhkan keterampilan khusus. Dibutuh kreatifitas, inisiatif, dan ketekunan untuk melakukannya.

Sampah yang akan didaur ulang bisa saja hanya dibersihkan kemudian dipergunakan kembali atau dijual kepada agen-agen yang membeli barang bekas, misalnya botol plastik minuman yang bisa dipergunakan kembali ataupun dijual.

Selain itu, bisa mendaur ulang sampah dengan sedikit kreatifitas dari kita sendiri. Misalnya, pengolahan sampah menjadi barang-barang kerajinan yang mempunyai nilai lebih tinggi. Barang-barang kerajinan tersebut bisa disimpan sebagai hiasan atau juga bisa dijual sehingga kita bisa meraih keuntungan dari sampah itu.

Salah satu kerajinan yang dibuat dari sampah adalah tas yang terbuat dari pembungkus plastik makanan ringan. Secara tidak langsung, kita bisa membuka lapangan kerja hanya dengan menggunakan sampah. (rusman/ant)


 

Arsip Berita