Sabtu, 26 Mei 2012
Sebanyak 50 Pakar Geologi Dunia Bahas Gunung Api
Kamis, 07 Oktober 2010 06:58
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 7/10 (SIGAP)- Sebanyak 50 pakar geologi dunia dari 11 negara bertemu di Yogyakarta guna menghadiri konferensi IGCP (International Geoscience Programme) Kamis (7/10). Para pakar geologi ini membahas perkembangan gunung api berdasarkan pada paleoclimate.

Para pakar bertemu guna bertukar pengalaman dan keilmuan dari negara masing-masing,  untuk berbagi sesama geolog.

R. Sukhyar, Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral saat membuka konferensi tersebut menjelaskan, sumber daya geologi Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Menurut Sukhyar, terjadinya perubahan iklim dan pergerakan bumi sudah ada sejak dulu dan menjadi siklus. “Iklim pada jaman purba, sekitar 600 juta tahun yang lalu itu bisa menjadi studi yang mendasari perubahan-perubahan pada jaman sekarang,” kata Sukhyar.

Ke-11  negara yang mengutus pakar geologi adalah Jepang, India, Korea Selatan Swedia, Cina, Malaysia, Indonesia, Pakistan, Philipina, Mongolia, dan Rusia.

Para pakar geologi itu kerap datang ke Indonesia.  Mereka bertukar pengalaman dan keilmuan dari negara masing-masing,  terutama dari negara Asia untuk berbagi sesama geolog.

Lebih lanjut Sukhyar menjelaskan, sumber panas bumi (biothermal) yang ada di Indonesia sebesar 28 ribu megawatt jika disetarakan dengan tenaga listrik. Sayangnya, baru ada 1.180 megawatt saja yang dimanfaatkan. Jika sumber daya alam itu dimanfaatkan maka yang paling berkompeten adalah PLN (perusahaan listrik negara).

Jika panas bumi itu dimanfaatkan, lanjut Sukhyar, maka para pengusaha juga meminta jaminan pembelian dengan harga yang disepakati dan pembeli yang sudah siap. Selain itu,  kekayaan sumber daya alam di Indonesia berupa mineral, minyak dan gas. “Para ilmuan melakukan observasi sekarang ini manfaatnya bisa sampai jutaan tahun yang akan datang,” katanya.

Sementara itu, menurut Ahmad Djumarma Wirakusuma, Kepala Pusat Studi Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pertemuan di Yogyakarta itu disebabkan ketertarikan para geolog dunia terhadap geologi di Indonesia terutama terhadap Kawasan Cagar Geologi Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah.

Pasalnya, lokasi tersebut merupakan kawasan bebatuan yang bisa dipelajari. Batu-batu zaman purbakala itu bisa dipelajari oleh para geolog dari berbagai sisi keilmuan. Kawasan bebatuan itu berada di 3 kecamatan yang berbatasan dengan kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo.

“Karena event-nya internasional, kami memilih Yogyakarta sebagai lokasi yang dekat dengan Karangsambung untuk konferensi,” katanya. (rusman/pi)

 

Arsip Berita