Sabtu, 26 Mei 2012
BPS: Impor Papua Juli 2010 Naik Signifikan
Kamis, 07 Oktober 2010 04:21
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 7/10 (SIGAP) - Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Djarot Soetanto mengatakan, nilai impor daerah itu pada Juli 2010 naik signifikan menjadi 112,96 juta dolar dibandingkan bulan sebelumnya dari 21,51 juta dolar.

Lebih lanjut kata Djarot, impor Juli 2010 terdiri atas migas senilai 22,40 juta dolar dan non migas 90,55 juta dolar, dengan nilai impor tertinggi pada komoditas bahan bakar diesel yang mencapai 16,18% dari total nilai impor Papua Juli 2010.

Kontributor tertinggi kedua berasal dari golongan non migas, yaitu suku cadang alat-alat konstruksi senilai 7,27 juta dolar atau mencapai 6,44%, kata Djarot di Jayapura, Kamis.

Sementara itu total impor kumulatif Januari-Juli 2010 mengalami kenaikan 15,35% dibanding total impor kumulatif yang sama 2009, dari 467,15 juta dolar menjadi 538,86 juta dolar.

Sebesar 21,67% (116,75 juta dolar) dari total impor Januari-Juli 2010 tersebut adalah impor bahan bakar diesel dari Singapura.

Neraca perdagangan Papua pada Januari-Juli 2010 senilai 2.087,26 juta dolar, naik 21,37% dibanding neraca Januari-Juli 2009 yang hanya 1.719,81 juta dolar.

Sedangkan negara utama asal impor non migas Papua pada Juli 2010, adalah Australia, Amerika Serikat, Singapura, dan Jepang senilai 88,76 jutadolar.

Impor non migas terbesar berasal dari Australia senilai 52,18 juta dolar, di mana komoditas dengan nilai impor tertinggi adalah suku cadang mesin yang dioperasikan dengan listrik sebesar 4,71 juta dolar. Negara asal lainnya adalah Filipina senilai 1,14 juta dolar yang sebagian besar berupa sumbu peledak, ujarnya.

Nilai impor non migas dari tujuh negara utama pada kumulatif Januari-Juli 2010 sebesar 373,86 juta dolar atau naik 13,35% dibanding nilainya pada kumulatif yang sama 2009.

Nilai impor non migas Januari-Juli 2010 berasal dari Australia sebesara 44,24% senilai 173,12 juta dolar. Impor non migas dari negara lain naik dari 2,51 juta dolar pada Januari-Juli 2009 menjadi 17,44 juta dolar pada Januari-Juli 2010.

Impor non migas dari 7 negara utama memberikan andil  95,54% terhadap total impor non migas kumulatif Januari-Juli 2010.

Sementara itu nilai ekspor Papua Juli 2010 mencapai 373,01 juta dolar AS, meningkat 44.49% dibanding ekspor Juni sebesar 256,38 juta dolar.

Kenaikan tersebut disebabkan oleh naiknya volume ekspor bijih tembaga dan konsentrat (HS26) sebesar 71,99%.
Pada Juli 2010 kembali tercatat ekspor kepiting hidup setelah absen pada Mei dan Juni 2010, senilai 0,02 juta dolar ditujukan ke Singapura.

Angka kumulatif Januari-Juli 2010, total ekspor Papua mengalami kenaikan 20,08% dibanding ekspor Januari-Juli 2009, dari 2.186,96 juta menjadi 2.626,12 juta dolar. Pendorong utama kenaikan tersebut adalah meningkatnya volume ekspor HS26.
Nilai ekspor Juli 2010 memberikan andil 14,20% terhadap total ekspor kumulatif Januari-Juli 2010. Sementara nilai ekspor tertinggi terjadi pada Maret 2010 yang mencapai 585,97 juta dolar.

Djarot menjelasakan, hampir 100% dari total ekspor Papua pada Juli 2010 adalah HS26 senilai 372,95 juta dolar. Nilai tersebut naik 77,98% dibandingkan Juni 2010 senilai 209,54 juta dolar.

Peningkatan nilai ekspor HS26 pada Juli 2010 dipicu naiknya volume ekspor komoditas tersebut sebesar 71,99% antara lain ke Spanyol, Jepang dan India, jelasnya.

Pada Juni 2010, nilai ekspor golongan lainnya justru turun dari 48,84 juta dolar menjadi 0,06 juta dolar pada Juli 2010.
Penurunan tersebut disebabkan oleh absennya ekspor golongan kayu dan barang dari kayu (HS44) pada Juli 2010, katanya.

Ekspor HS26 pada kumulatif Januari-Juli 2010 senilai 2.498,68 juta dolar, naik 312.57 dolar dibanding Januari-Juli 2009.
Sejak perekonomian global mulai membaik, permintaan ekspor HS26 mengalami peningkatan. Itulah yang mendorong terus naiknya nilai HS26 dan kenaikan juga terjadi pada nilai ekspor golongan lain yang naik menjadi 127.45 juta dolar.

Meski pada Juli 2010 tidak tercatat adanya ekspor HS44, namun secara kumulatif nilai ekspornya merupakan pemicu kenaikan nilai ekspor golongan lainnya.

Tercatat, selain HS44, pendorong kenaikan nilai ekspor golongan lainnya berasal dari ekspor lemak hewani/nabati (HS15) berupa minyak sawit, baik yang masih mentah maupun yang sudah dijernihkan dan dimurnikan. (rusman/ant)

































 

Arsip Berita