Sabtu, 26 Mei 2012
Bengkulu: Usaha Pembuatan Batu Bata Eksis
Rabu, 06 Oktober 2010 02:47
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 6/10 (SIGAP) - Usaha pembuatan batu bata di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu sekarang tetap eksis, menyusul meningkatnya permitaan dari masyarakat untuk mendirikan bangunan.

"Syukur alhamdulillah usaha pembuatan batu bata di Kota Bengkulu masih tetap eksis karena permintaan dari masyarakat masih lancar, sehingga kami tidak kesulitan memasarkanya," kata Samijo (44), salah seorang pembuat batu bata di Kota Bengkulu, Selasa (5/10).

Dirinya mengatakan, selama ini batu bata yang mereka produksi selalu habis terjual. Dalam satu bulan dia berhasil memproduksi batu bata antara 15.000 sampai 35.000 biji.

Sedangkan batu bata yang diproduksi ada dua jenis, jenis batu bata biasa dan batu bara bolong. Harga batu bata bolong dijual Rp700 per biji dan batu bata biasa dengan harga Rp600 per biji.

Batu bata yang diproduksinya selain di pasarkan ke sejumlah depot bangunan di Kota Bengkulu juga dijual langsung kepada konsumen.

"Penjualan langsung biasanya kepada konsumen yang datang sendiri ke lokasi pembuatan batu bata. Masyarakat yang datang sendiri biasanya sudah memesan batu bara kepada kita," ujarnya.

Masyarakat yang membeli batu bata yang diproduksinya tidak hanya berasal dari Kota Bengkulu saja, tapi ada juga dari luar Bengkulu, seperti dari Kabupaten Seluma, Bengkulu Utara dan beberapa kabupaten lainnya di Bengkulu.

"Jadi, kita tidak kesulitan menjual batu bata karena banyak yang membutuhkannya. Bahkan, kadang kalah ada pembeli memberikan uang dulu kepada kita karenak khawatir tidak mendapat jatah lagi," ujarnya.

Hal senada diakui Sarja (37), pembuat perajin batu bata lainnya. Sarja mengatakan, sejak beberapa tahun belakangan ini dirinya tidak kesulitan menjual batu bata yang diproduksinya karena pembelinya cukup banyak.

Sebab, di Bengkulu sedang melaksanakan pembangunan baik bangunan pemerintah maupun milik masyarakat, sehingga kebutuhan batu bata cukup tinggi. "Sekarang kita sedikit kewalahan menerima order dari masyarakat," ujarnya.

Dirinya mengatakan, dalam sebulan dirinya bisa memproduksi batu bara lebih kurang 100 ribu buah dan habis terjual. Harga satu batu bara dijual antara Rp 700- Rp800 per biji.

"Alhamdulillah Mas, kami sekarang tidak kesulitan menjual batu bata karena pembelinya banyak. Kita berharap kondisi terus berlanjut sehingga usaha kami tetap eksis," ujarnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bengkulu, Ahmad Darwin mengakui sejak beberapa tahun belakangan usaha pembutan batu bata di Bengkulu berkembang pesat, menyusul gencarnya pembangunan yang dilaksanakan di daerah itu.

"Kita berharap kondisi ini terus berlanjut, sehingga usaha kecil menengah (UKM) di Bengkulu dapat tumbuh dan berkembang, sehingga perekonomian masyarakat dapat meningkat," ujarnya.

Sebelumya diberitakan, sampai juli lalu, dana usaha kecil dan menengah yang dialokasikan dari anggaran pendapatan belanja daerah Provinsi Bengkulu pada 2010 senilai Rp3,3 miliar belum disalurkan.

"Dana usaha kecil dan menengah (UKM) ini beluma dapat disalurkan karena terjadi kesalahan dalam memasukan anggaran tersebut ke rekening penyimpanan," kata Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bengkulu Lukman.

Kesalahan itu karena menyimpan dana tersebut ke rekening belanja barang dan jasa, semestinya disimpan di rekening dana hibah. Dana itu akan disalurkan setelah dilakukan peralihan rekening penyimpanan setelah APBD perubahan.

Kejadian tersebut, tentunya akan mempengaruhi perkembangan permodalan pengusaha kecil serta menghambat pertumbuhan usaha baru, ujarnya. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita