Sabtu, 26 Mei 2012
Sumbar: Swasta Bangun Infrastruktur Guna Seriusi Investasi
Selasa, 05 Oktober 2010 06:24
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/10  (SIGAP) - Sebuah perusahaan swasta PT Pancasona Jaya Pratama berinvestasi dibidang pengolah batu besi di Solok, Provinsi Sumatera Barat, setelah melakukan penelitian selama tujuh tahun.

Presiden Direktur PT Pancasona Jaya Pratama, Parlindungan Selewangi Manurung, di Padang, Senin (4/10) mengatakan, sebagai bukti keseriusan berinvestasi pihaknya telah membangun jalan sepanjang lebih kurang 33 KM tanpa bantuan dari pihak manapun.

Dirinya mengatakan, telah melakukan penelitian batu besi di sepanjang Bukit Barisan di Pulau Sumatera, namun batu besi kualitas yang bagus ada di Sumbar tepatnya di daerah Solok.

"Batu besi yang ada di daerah Solok memiliki kandungan besi yang sangat bagus untuk kualitas ekspor," katanya.

Parlindungan menambahkan, untuk itulah kita berani melakukan investasi murni di Sumbar ini, mengolah batu besi yang ada di daerah Solok tersebut.

"Pemerintah daerah Solok sudah memberikan izin untuk pengolahan batu besi yang sangat dibutuhkan industri besi dunia," katanya.

Dia mengatakan, laju perekonomian Sumbar beberapa tahun kedepan diprediksi akan lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya.

"Percepatan laju ekonomi ini tidak terlepas dari mulai beroperasinya perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan," katanya.

Menurutnya, kita siap untuk pengiriman perdana batu besi pada Selasa (5/10) ke China dengan total 10.000 MT, dengan menggunakan satu kapal.

"Rencananya untuk bulan Oktober tahun 2010, akan dikirim batu besi tidak kurang dari 30.000 MT," katanya.

Dirinya menambahkan, usaha tambang batu besi ini tidak saja menguntungkan pemerintah daerag (Pemda), tapi juga masyarakat Sumbar secara keseluruhan, apalagi sampai kuota pengiriman hingga 500.000 TM/bulannya.

"Berapa pendapatan Asli daerah (PAD) yang dapat disumbangkan dari penambangan batu besi ini," katanya.

Parlindungan berharap, pemerintah benar-benar mempertimbangkan mana yang investor yang serius, dan mana yang sekedar main-main.

"Industri pertambangan ini akan cepat terlaksana, jika pemerintah ikut mendukungnya," kata Parlindungan.

Sementara itu Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association (USIA), Fazwar Bujang kepada Neraca mengatakan, hasil dari kegiatan pertambangan tradisional masyarakat daerah sangat merugikan negara karena harga jual ekspornya sangat rendah.

Saat ini, harga biji besi dari pertambangan masyarakat yang belum diolah hanya sebesar USS 17 per ton.

"Kalau ini diolah, value added yang didapat pemerintah sangat tinggi. Saat ini ekspor bijih besi sangat rendah dibanding dengan harga bijih besi, kalau kita ekspor-bijih besi mentah itu sangat merugikan karena banyak mineral yang akan terbawa," terangnya di Jakarta, agustus silam.

Pemerintah, sambungnya, juga harus membuat batas minimum cadangan bijih besi yang terkandung didalam tanah galian.. Alasannya, jika tidak ada batas minimum cadangan hanya akan merugikan negara. Pihaknya mengusulkan cadangan bijih besi yang dapat dilakukan kegiatan pertambangan adalah sebesar 20 juta ton ke atas. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita