Sabtu, 26 Mei 2012
Bangka Tengah Akan Bagikan 1.000 Buku Untuk Desa
Selasa, 05 Oktober 2010 02:18
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/10 (SIGAP) – Sebanyak 1.000 buku akan dibagikan Kantor Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung kepada tujuh  taman bacaan di tujuh desa.

Demikian dikatakan Kasi Kearsipan Kantor Arsip dan Perpustakaan Bangka Tengah Ferdiansyah, di Koba, Senin (4/10). Dijelasakan Ferdianysah, sebanyak 1.000 buku tersebut merupakan bantuan dari Perpustakaan Nasional di Jakarta. “Saat ini kami sedang menunggu pengirimannya untuk dibagikan kepada tujuh taman bacaan di tujuh desa," ujarnya

Ferdiansyah mengatakan, bantuan buku tersebut merupakan bantuan pertama yang diterima Bangka Tengah dan merupakan kabar gembira bagi 7 taman bacaan di 7 desa yakni Desa Guntung, Nibung, Kulur, Penyak, Terentang, Namang dan Desa Simpang Katis.

Ferdiansyah mengatakan, para pemilik tamaan bacaan desa menyambut gembira pembagian buku ini karena minat baca masyarakat desa cukup tinggi terutama buku seputar pertanian dan perkebunan.

Dijelaskan Ferdiansyah, sebanyak 1.000 buku itu terdiri atas 500 judul buku yang terdiri atas bermacam-macam jenis buku.

"Bukunya macam-macam dari jenis buku bacaan, pendidikan, buku cerita dan buku lainnya," katanya.

Dikatakan Ferdiansyah, pemilihan tujuh taman bacaan buku di tujuh desa yang mendapatkan bantuan buku merupakan hasil uji kelayakan.

"Taman bacaan buku yang memiliki pegawai, rak buku dan tempat membaca yang representatif yang mendapatkan bantuan," katanya.

Dirinya mengatakan, berdasarkan survei ke taman bacaan buku desa, minat masyarakat terutama kaum petani untuk membaca buku pertanian dan perkebunan cukup tinggi.

"Banyak petani yang menanyakan buku seputar pertanian dan perkebunan untuk menambah pengetahuan mereka tentang teknik bertani dan berkebun," katanya

Berdasarkan catatan SIGAP, budaya membaca masyarakat Indonesia terendah di antara 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja Sama Ekonomi (OECD) akhir 2009 lalu.

Kondisi ini agaknya mengharuskan pemerintah untuk bekerja ekstra keras guna menumbuhkan minat baca di kalangan masyarakat Indonesia. (rusman/ant)

 

Arsip Berita