Sabtu, 26 Mei 2012
BMKG: Cuaca Ekstrem Hingga Maret 2011
Selasa, 05 Oktober 2010 01:10
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/10 (SIGAP) - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sri Woro B Harjono di Jakarta, Senin (4/10) mengatakan, Indonesia pada 6 bulan mendatang, yaitu hingga Maret 2011, akan mengalami cuaca ekstrem seperti curah hujan yang sangat tinggi.

Terkait hal ini BMKG menyarankan pemerintah pusat untuk berkoordinasi dengan semua provinsi guna mengantisipasi menghadapi cuaca ekstrem yang akan terjadi hingga 6 bulan mendatang.

"Dengan kondisi cuaca ekstrem ini, kemungkinan terjadinya rawan pangan tak dapat dihindarkan. Jadi para gubernur harus melakukan kegiatan pendataan ketersediaan pangan di daerahnya, mulai dari pusat kota hingga daerah terpencil," katanya.

Sri Woro mengatakan, pemerintah daerah juga perlu mengantisipasi gagal panen dari petani yang menanam padi.

Mengenai cuaca ekstrem tersebut, kata Sri Woro, terjadi karena adanya ekspansi vertikal awan yang mengakibatkan curah hujan meningkat tajam serta peluang angin puting beliung cukup tinggi.

Menurutnya, Indonesia juga harus mewaspadai La nina sampai Februari 2011, pemanasan temperatur laut yang akan terjadi hingga Januari 2011, serta aliran mata air dari Afrika ke Indonesia juga terjadi sampai 2011.

"Dilihat dari empat peristiwa alam tersebut, BMKG memprediksikan enam bulan ke depan perlu dilakukan antisipasi dan meningkatkan kesiapan daerah untuk menghadapi peristiwa alam tersebut yang kemungkinan baru akan reda pada Januari atau Februari 2011," kata Sri Woro.

Sementara itu, peneliti tentang adaptasi iklim, Raja Siregar menyarankan BMKG dan pemerintah mengumumkan puncak musim hujan agar petani bisa menyesuaikan waktu memulai musim tanam.

Hal tersebut diungkapkan Raja, di Jakarta, Senin (4/10) menanggapi prakiraan BMKG yang menyatakan Indonesia bakal mengalami cuaca ekstrim hingga 6 bulan mendatang hingga Maret 2011.

Raja mengatakan, petani perlu mengetahui puncak musim hujan dengan curah hujan tertinggi untuk menentukan memulai menanam tanamannya.

"Bagi petani di daerah yang masih ada sumber air selain hujan, akan memulai menanam beberapa bulan sebelum puncak musim hujan. Sehingga musim kemarau sudah mulai menanam," kata mantan peneliti Oxfam tersebut.

Petani yang melakukan hal tersebut antara lain petani di daerah Pati, Jawa Tengah.

Sedangkan bagi petani yang berada di daerah yang hanya mengandalkan hujan sebagai sumber air, akan mulai menanam setelah lewat puncak musim hujan.

"Bila puncak hujan pada Januari, maka petani akan mulai menanam pada Februari," kata Raja.

Sedangkan petani di daerah yang terus menerus hujan juga terancam gagal panen karena bulir padi tidak terisi.

Menurutnta, untuk mengantisipasi gagal panen yang mengakibatkan rawan pangan karena cuaca ekstrim, pemerintah perlu memberikan bantuan kepada petani.

"Dalam jangka pendek, pemerintah gar menyeiapa sarana bagi petani untuk beradaptasi, misalnya dengan bantuan pompa air bila tidak ada air," katanya

Sedangkan pada jangka panjang, pemerintah perlu mengkonservasi air dengan cara membuat situ atau daerah tangkapan air.

"Pada musim hujan, daerah itu bisa menampung air untuk mengatasi banjir dan bila musim kemarau, bisa jadi tempat cadangan air," katanya.

Seperti diketahui, Raja pernah melakukan penelitian tentang adaptasi petani menghadapi perubahan iklim di daerah Brebes, Jawa Tengah dan Indramayu, Jawa Barat.

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan, pemerintah pusat akan mengumpulkan bupati dan wali kota dari seluruh Indonesia untuk membahas mengenai antisipasi terhadap iklim dan cuaca ekstrim yang diprediksi akan terjadi di Indonesia hingga Januari atau Februari 2011 akibat dampak pemanasan global.

"Pemerintah pusat akan segera mengumpulkan semua bupati dan wali kota dari seluruh Indonesia," kata Agung.

Menko menjelaskan, tujuan mengumpulkan seluruh pemerintah daerah itu untuk menyamakan persepsi mengatasi dampak iklim dan cuaca ekstrim yang belakangan ini sudah dirasakan oleh masyarakat luas.

"Melalui pemerintah kabupaten/kota diharapkan sosialisasi terhadap iklim dan cuaca ekstrim bisa sampai ke lapisan terkecil masyarakat sekaligus menemukan langkah antisipasi yang efektif," katanya. (rusman/ant)

 

Arsip Berita