Sabtu, 26 Mei 2012
Banten: Impor Turun 3,23%
Senin, 04 Oktober 2010 15:34
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 4/10 (SIGAP) - Impor Banten pada Juli 2010 mengalami penurunan sebesar 3,23% dari USD 648 juta menjadi USD 627 juta, atau turun sekitar Rp210 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Banten Nanan Sunandi saat dihubungi di Serang, Minggu, mengatakan, meski demikian, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2009, impor Banten mengalami peningkatan 22,7%.

"Juli tahun lalu impor Banten USD 511 juta," katanya.

Nanan mengaku belum mengetahui penyebab turunnya impor Banten. Akan tetapi, kata Nanan, turunnya impor, dan meningkatnya transaksi ekspor, akan membawa dampak positif bagi suatu daerah.

"Secara ekonomi seperti itu. Tetapi dalam hal ini kami hanya melakukan pencatatan dan tidak melakukan analisa ekonomi," katanya.

Nanan mengatakan, 5 golongan barang utama impor Banten pada Juli 2010 adalah golongan barang bahan bakar mineral, bahan kimia organik, ampas/sisa industri makanan, gandum-ganduman, dan bijih, kerak dan abu logam.

"Dari 5 golongan barang utama tersebut, dua golongan barang yaitu golongan barang bahan kimia organik mengalami penurunan sementara tiga lainnya mengalami peningkatan dibanding bulan sebelumnya," katanya.

Peningkatan tertinggi terjadi pada golongan barang ampas/sisa industri makanan yang naik 209,97% dan terendah berasal dari golongan barang gandum-ganduman dengan peningkatan sebesar 16,36%.

Nanan mengatakan, dari sembilan negara asal barang impor utama yakni Singapura, Arab Saudi, Jepang, Argentina, Amerika Serikat, Chili, China, Qatar dan Brazil, lima negara yakni Arab Saudi, Argentina, Jepang, Chili, dan Qatar mengalami peningkatan sementara empat negara lainnya mengalami penurunan impor.

"Peningkatan nilai impor tertinggi dibanding bulan sebelumnya berasal dari negara Arab Saudi yang naik 345,90% dan terendah berasal dari Qatar yaitu sebesar 17,58%," katanya.

Sementara itu, seperti dilansir bataviase, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten. Hudaya mengatakan berdasarkan data hingga akhir triwulan 1 tahun 2010  produksi industri besar, kecil maupun menengah di Banten, untuk nilai ekspor justru mengalami kenaikan sebesar 20,28%.

"Angka ekspor itu merupakan bukti industri di Banten, sanggup bertahan terhadap gempuran produk-produk dari China." katanya beberapa waklu lalu.

Strateginya, menurut Hudaya, agar industri Banten tetap stabil dari dampak pemberlakukan ACFTA yaitu dengan mempertahankan kondisi nilai ekspor tetap pada angka yang sama hingga akhir triwulan tahun ini.

"Kami berharap kondisi ini tetap sampai akhir triwulan tahun 2010, sehingga ekonomi di Banten tetap stabil dan kondusif," katanya.

Adapun Januari 2010, nilai ekspor industri Banten mencapai 586 juta US dolar atau naik 20.28% dari Desember 2009. Dari total ekspor tersebut, sebanyak 58% disumbang dari lima komoditas industri yakni alas kaki, bahan baku mineral, tembaga atau logam, plastik, dan kertas/karton.

Kendati untuk kontribusi industri tekstil pada nilai ekspor Banten hanya mencapai 5%, namun demikian pihaknya perlu mewaspadai terutama bakal dampak yang perlu dikhawatirkan akibat CAFTA itu adalah pada komoditas yang diproduksi oleh industri kecil menengah (IKM) di Banten. Seperti pakaian, komponen elektronik dan logam. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita