Sabtu, 26 Mei 2012
Gunung Kidul: Pedagang Keluhkan Harga Hewan Turun
Senin, 04 Oktober 2010 06:32
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 4/10 (SIGAP) - Sejumlah pedagang hewan di Pasar Hewan Siyono, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengeluhkan harga jual sapi menurun sampai Rp1 juta per ekor dibandingkan tahun sebelumnya.

Bahkan, kata mereka, di Gunung Kidul, Minggu (4/10), sejak 3 pekan terakhir terjadi penurunan harga sekitar Rp200 ribu untuk sapi, dan Rp100 ribu untuk kambing.

"Dibandingkan dengan tahun lalu, harga sapi jenis metal yang biasanya terjual Rp11 juta, saat ini hanya laku Rp10 juta per ekor," kata salah seorang pedagang sapi di Pasar Hewan Siyono, Saidi (66), usai menjual 3 ekor sapinya di pasar itu.

Sedangkan sapi putih, menurutnya yang sebelumnya bisa mencapai harga Rp8 juta per ekor, sekarang hanya Rp7 juta. Sementara yang ukuran sedang, harga semula Rp7 juta, sekarang juga turun menjadi Rp6 juta per ekor.

Saidi mengatakan harga sapi di Pasar Hewan Siyono mengalami penurunan sejak tiga pekan lalu. "Harga hewan ternak, baik sapi maupun kambing mengalami penurunan antara Rp100 ribu sampai Rp200 ribu per ekor, dan ini terjadi dalam tiga pekan terakhir," katanya.

Menurutnya, harga sapi mengalami penurunan karena petani sedang konsentrasi memasuki musim tanam, dan membiayai pendidikan anak-anaknya, yaitu membayar biaya tengah semester.

Harga hewan, kata Saidi biasanya akan kembali naik ketika sudah mendekati Hari Raya Idul Adha sekitar dua bulan lagi.

Sementara itu, pedagang kambing dari Kecamatan Playen, Gunung Kidul, Purwo Harsono mengatakan harga kambing jenis etawa saat ini sekitar Rp2,5 juta per ekor. Sedangkan kambing jenis biasa harganya antara Rp600 ribu sampai Rp1 juta per ekor.

"Harga kambing sejak tiga pekan terakhir turun rata-rata sekitar Rp100 ribu per ekor untuk semua jenis, baik kambing peranakan etawa (PE), etawa, maupun kambing biasa," katanya.

Sementara itu, pedagang hewan dari luar daerah Segoroyoso, Kabupaten Bantul, Widodo mengatakan harga hewan yang turun dimanfaatkan untuk memborong sapi dari Gunung Kidul.

"Saya saat ini dapat membeli sapi 20 ekor, dan keuntungan yang saya peroleh bisa mencapai sekitar 25 persen dari harga beli di Pasar Hewan Siyono," katanya.

Menurut Saidi, dirinya berlangganan mencari hewan dari Kabupaten Gunung Kidul, karena daging sapi dan daging kambing dari daerah ini kualitasnya tinggi dan diminati konsumen karena dagingnya kering.

"Saya setiap lima hari sekali atau tepatnya ketika hari pasaran Wage selalu datang ke Pasar Hewan Siyono untuk membeli sapi, dan rata-rata saya membeli 14 sampai 20 ekor," katanya.

Sebelumnya, seperti dilansir Republika online, pemerintah telah mencanangkan program swasembada daging sapi (PSDS) pada 2014.

Pelaksanaan PSDS 2014 dapat terwujud bila produksi sapi dari peternak domestik mencapai 90 persen atau lebih dari keseluruhan ke butuhan nasional. Sehingga, motivasi dan kinerja peternak lokal sangat diperlukan.

Dalam perkembangan lain, harga ternak sapi potong mengalami penurunan. Hal itu dikarenakan pada 20 Januari lalu dilakukan rasionalisasi impor dengan menutup sementara pengeluaran Surat Persetujuan Pemasukan (SPP) Sapi Impor.

Menurut laporan, hal ini sesuai dengan langkah dalam cetak biru PSDS 2014, yaitu pengaturan stok sapi bakalan dan daging, pengaturan distribusi, dan pemasaran sapi dan daging.

Namun, penerbitan SPP telah dibuka kembali sejak April 2010 dengan jumlah terbatas. Tujuannya untuk memenuhi kekurangan kebutuhan daging sapi, khususnya di beberapa daerah.

Hingga saat ini, Kementan telah mengeluarkan 163 ribu ekor SPP Sapi Impor dari target sebesar 190 ribu ekor pada tahun 2010, pada tahun 2009 SPP Sapi Impor yang dikeluarkan sebanyak 760 ribu ekor dan 600 ribu ekor untuk SPP Sapi Impor pada 2008. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita