Sabtu, 26 Mei 2012
Kupang: Peningkatan Indeks Kesehatan Capai 1,25%
Senin, 04 Oktober 2010 04:36
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 4/10 (SIGAP) - Kelompok Kesehatan di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur mengalami peningkatan indeks terbesar, yaitu 1,25% dari total peningkatan indeks harga konsumen 131,25 pada bulan September 2010.

Kepala Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur, Poltak Sutrisno Siahaan, di Kupang, Minggu, mengatakan, peningkatan indeks tersebut telah menyebabkan terjadinya inflasi di Kota Kupang 0,20%.

Dampak lain, katanya, laju inflasi tahun kalender September 2010 untuk Kota Kupang sebesar 8,81% dan inflasi "year on year" (September 2010 terhadap September 2009) adalah 11,42%.

Dirinya mengatakan, selain kelompok kesehatan, kelompok berikut yang mengalami peningkatan indeks adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakarsebesar 1,23%, diikuti kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,91%.

Sementara, katanya, kelompok sandang sebesar 0,53% dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau, 0,2%.

Sedangkan kelompok yang mengalami perubahan indeks negatif yakni kelompok bahan makanan sebesar -0,98% dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar -0,26%.

Dirinya mengatakan, apabila dikelompokkan dalam beberapa kota di bagian timur Indonesia, maka Kota Kupang berada di urutan ketiga peningkatan indeks yang telah berdampak pada inflasi setelah Kota tetangganya Maumere Kabupaten Sikka sebesar 1,38% dan Kota Ambon 0,95%.

Lalu menyusul di belakang Kota Kupang adalah Kota Mataram 0,59%, Kota Mamuju 0,23%, Kota Ternate -0,57%.

Berikut Kota Watampone 0,82%, Kota Makassar 0,40%, Kota Jayapura 0,59%, Kota Parepare 0,29%, Kota Denpasar 0,22%, Kota Palopo 0,46%, Kota Bima 0,19%, Kota Kendari -0,42%.

Selanjutnya, Kota Manado 0,45%, Kota Gorontalo 0,36%, Kota Manokwari -0,46%, Kota Sorong 0,92%, dan Kota Palu 0,94%.

Dia juga menyebut dari 66 Kota yang diambil sampel IHK Nasional, ada 57 kota mengalami inflasi dan sembilan kota mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tarakan yakni sebesar 1,80%, diikuti Kota Pangkal Pinang (1,50%), Kota Maumere (1,38%), Kota Tegal (1,27%), Kota Bengkulu (1,19 %). Inflasi terendah terjadi pada Kota Batam, yaitu sebesar 0,03%.

Sementara deflasi tertinggi terjadi di Kota Lhokseumawe, yakni sebesar 1,28%, diikuti Kota Ternate (0,57%), Kota Manokwari (0,46%). Deflasi terendah terjadi di Kota Medan, yaitu sebesar 0,20%.

Untuk diketahui Perkembangan harga berbagai komoditas pada bulan September 2010 secara umum menunjukkan adanya peningkatan.

Berdasarkan  hasil  pemantauan BPS  terhadap perkembangan harga sejumlah barang dan jasa yang secara umum di konsumsi tumah tangga di pasar tradisional dan pasar modern di Kupang dan Maumere,  pada bulan September 2010 Nusa Tenggara Timur  mengalami inflasi 0,39% atau terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 131,46 pada bulan Agustus 2010 menjadi 131,97 pada bulan September 2010.

Sementara itu, Kota Kupang terjadi inflasi 0,20%, atau terjadi peningkatan IHK dari 130,99 pada bulan Agustus 2010 menjadi 131,25 pada bulan September 2010 sedangkan Kota Maumere terjadi inflasi sebesar 1,38 persen, atau terjadi peningkatan IHK dari 134,04 pada bulan Agustus 2010 menjadi 135,89 pada bulan September 2010.

Laju inflasi tahun kalender September 2010 sebesar 8,66% dan inflasi “year on year” (September 2010 terhadap September 2009) adalah 10,86 persen untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Untuk Kota Kupang, laju inflasi tahun kalender September 2010 sebesar 8,81% dan inflasi “year on year” (September 2010 terhadap September 2009) adalah 11,42% sedangkan untuk Kota Maumere, laju inflasi tahun kalender September 2010 sebesar 7,84% dan inflasi “year on year” (September 2010 terhadap September 2009) adalah 8,05%. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita