Sabtu, 26 Mei 2012
Jambi: Masa Pancaroba Ancam Benih Ikan Budidaya
Sabtu, 02 Oktober 2010 19:30
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 3/10 (SIGAP) - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi, Herman Suherman di Jambi, Sabtu (2/10) mengatakan, musim kemarau yang diselingi hujan menyebabkan debit Sungai Batanghari bergerak naik.

Dijelaskan Herman, pergantian musim atau masa pancaroba dari kemarau ke musim hujan itu dapat mengancam benih ikan budidaya, karena naiknya endapan lumpur mengandung racun dan limbah ke permukaan.

"Selama musim kemarau tidak terjadi penurunan produksi perikanan di perairan umum atau air tawar, baik budidaya maupun tangkapan, bahkan cenderung meningkat," katanya.

Selama musim kemarau yang diselingi hujan kondisi air sungai dan danau masih normal, dan saat itu ikan-ikan akan mudah ditangkap, sementara petani budidaya juga ramai-ramai melakukan panen.

Menurut Herman, panen itu dilakukan guna mencegah kematian dan terserang penyakit, karena pada arus normal terjadi peningkatan kadar kadar oksigen.

Dikatakan Herman sejak dua pekan terakhir telah terjadi hujan cukup lebat mengguyur sejumlah daerah baik hilir maupun hulu, sehingga terjadi kekeruhan dan naiknya endapan lumpur atau sedimentasi ke permukaan.

Naiknya lumpur atau sedimentasi itu ke permukaan dapat menyebabkan bibit ikan mabuk dan mati, namun bagi ikan dewasa daya tahannya akan sedikit lebih.

Guna mengatasi kerugian akibat kematian benih itu, para petani budidaya disarankan menunda penaburan benih hingga tiga bulan ke depan, atau hingga kondisi arus sungai benar-benar stabil atau normal.

Di Sungai Batanghari yang memiliki panjang 1.740 km itu, kini terdapat 4.200 lebih jaring apung atau keramba yang diusahakan petani budidaya, dan tersebar di sejumlah Kabupaten Muarojambi, Batanghari, Tanjung Jabung Timur dan Kota Jambi.

"Selain Sungai Batanghari, sungai besar lainnya seperti Batang Tebo, Batang tembesi, Batang Tabir, Batang Merangin dan lainnya juga akan menjadi sasaran budidaya keramba atau jaring apung," kata Herman Suherman.

Berdasarkan pakiraan Badan Meteorologi, klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi, akhir bulan September lalu, diinformasikan musim penghujan diprakirakan akan terjadi di dasarian (per sepuluh hari) kedua Oktober mendatang.

Menurut BMKG, seiring dengan berakhirnya pancaroba dan datangnya musim penghujan ini, fenomena Lanina yang merupakan fenomena tingginya curah hujan dengan kategori menengah diprakirakan juga ditemui di bulan Oktober mendatang.
Hal ini disampaikan Prakirawan BMG Jambi, Kurnianingsih kepada laman tribunjambi, Minggu (26/9). Dirinya menjelaskan, lanina ini tidak sebentuk dengan badai, namun hanya fenomena alam berupa tingginya curah hujan di kawasan Samudra Hindia, dalam hal ini termasuk Provinsi Jambi.

Dengan adanya fenomena lanina ini, curah hujan bisa di atas normal. Hal ini disebabkan menurunnya suhu permukaan air laut Samudra Pasifik. Hal ini menyebabkan curah hujan di sekitaran Samudra Hindia meningkat bahkan melebihi normal.

Fenomena la nina ini dikatakan Kurnianingsih, sebenarnya sudah ada sejak masa pancaroba. Hal ini tampak dari tingginya curah hujan yang mengakibatkan anomali cuaca atau penyimpangan cuaca. "Jadi, musim kemarau dikatakan sangat pendek dan juga berkategori basah," katanya.

Dengan adanya fenomena lanina ini, yang perlu diwaspadai adalah cuaca ekstrim yang mungkin bisa berupa angin dengan kecepatan di atas 30 knot atau bisa berupa angin puting beliung. Selain angin kencang, petir yang muncul dari awan hitam pekat atau awan cumulunimbus juga mesti diwaspadai masyarakat. "Memang cuaca diprediksikan akan ekstrim. Namun, itu tidak berlangsung setiap hari," ujarnya. (rusman/ant)

 

Arsip Berita