Sabtu, 26 Mei 2012
Babel Dorong Generasi Muda Lestarikan Kesenian Daerah
Sabtu, 02 Oktober 2010 14:33
AddThis Social Bookmark Button

 

Jakarta, 2/10 (SIGAP) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bangka Belitung terus mendorong generasi muda untuk melestarikan kesenian dan budaya daerah agar tidak tergilas oleh kemajuan zaman.

"Generasi muda terus didorong untuk melestarikan kesenian dan budaya daerah dengan menjiwai dan menggali filosofi seni tersebut agar tidak tergilas oleh kemajuan zaman," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangka Belitung (Babel), Yan Megawandi di Pangkalpinang, Jumat (1/10).

Menurutnya, dengan demikian maka tidak ada kekuatiran seni dan budaya daerah "dicolong" atau diklaim oleh daerah atau negara lain atau tergilas oleh kemajuan zaman.

"Kami tidak hanya mengkuatirkan seni dan budaya daerah diklaim, tetapi juga hilang digilas kemajuan zaman akibat generasi muda tidak mampu melestarikan dan mengembangkannya," katanya.

Di antara upaya untuk mempertahankan seni dan budaya daerah agar tetap terlestarikan, kata dia, adalah dengan menjiwai dan menggali filosofinya.

"Seni dan budaya itu akan lengket dan terus menjadi ciri dan jati diri daerah, jika sudah menjiwai dan memahami filosifinya. Tidak hanya sebatas berkreasi saja," ujarnya.

Di samping itu, kata dia, seni dan budaya daerah harus terus dipromosikan agar masyarakat luar mengetahuinya bahwa tarian dan budaya tersebut berasal dari Babel.

"Dengan demikian, maka kesenian tradisional dan budaya daerah tidak dengan mudah dicolong atau diklaim oleh daerah lain," ujarnya.

Ke depan, katanya, seni dan budaya ini harus ditransformasikan dengan baik kepada generasi muda yang merupakan komponen terpenting dalam menjaga dan melestarikan kesenian dan budaya daerah.

"Babel memiliki banyak kesenian dan budaya, ini harus dilestarikan. Selama ini generasi muda sudah mampu mengkreasikan seni dan budaya itu dengan baik melalui berbagai pertunjukan, namun lebih jauh harus menjiwai dan memahami filosofinya," ujarnya.

Memang, katanya, untuk mentransformasikan nilai-nilai seni dan budaya kepada generasi muda tidak semudah membalikkan telapak tangan tetapi butuh waktu dan proses yang panjang.

"Jati diri seni dan budaya daerah juga harus ditemukan, yang pada akhirnya nanti mampu menjiwai dan memahami filosofi seni dan budaya itu sendiri," ujarnya.

Menurutnya, secara perlahan generasi muda sudah mulai menjiwai dan memahami filosofi seni dan budaya daerah. Hal itu terlihat ketika dilaksanakan festival budaya.

"Mereka tidak hanya berkreasi di atas panggung, tetapi sudah mulai menjiwai dan memahami filosifi seni dan budaya itu sehingga tarian yang diperagakan sangat memukaU dan menunjukkan kekhasannya," ujarnya.

Tarian budaya daerah yang mereka peragaan sudah memadukan antara tari asli daerah dengan tari kontemporer, seperti tari "Burung Kedidi" dan beberapa tarian tradisional lainnya.

"Dengan demikian, kesenian tradisional dan budaya daerah memiliki ciri khas tersendiri bagi daerah yang tidak mungkin diklaim oleh negara lain," ujarnya.

Dirinya juga mengatakan, sudah melayangkan surat kepada pemerintah kabupaten dan kota untuk menginventarisir kesenian dan budaya daerah untuk dipatenkan agar tidak mudah diklaim negara lain.

"Kami minta pemerintah kabupaten dan kota mengumpulkan audio visual dari kesenian dan budaya daerah dan mengumpulkan data-data lainnya, sebagai langkah awal inventarisir," ujarnya.

Dirinya mengatakan, untuk mematenkan kesenian dan budaya daerah memang cukup sulit karena membutuhkan biaya cukup tinggi.

"Namun hal itu bukan tidak mungkin kalau pemerintah kabupaten benar-benar serius menjaga dan melestarikan kesenian dan budaya daerah," demikian Yan Megawandi.

Seperti diketahui, kebudayaan nasional merupakan puncak dari kebudayaan-kebudayaan  daerah, serta masih banyak kebudayaan daerah yang belum tergali dan diketahui kelebihannya oleh daerah lainny. (wa prasetya/ant)

 

 

Arsip Berita