Sabtu, 26 Mei 2012
Lampung Barat: Budidaya Ikan Lele Berkembang
Kamis, 30 September 2010 05:15
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 30/9 (SIGAP) - Budidaya ikan lele di Kabupaten Lampung Barat berkembang pesat, dan mampu menopang perekonomian masyarakat.

"Selama membudidayakan ikan lele diarea pemukiman saya, hasil dari panen ikan tersebut mampu mencukupi kebutuhan hidup selain bertani," kata masyarakat Pekon (Desa) Tambak Jaya, Kecamatan Way Tenong, Lampung Barat, Asril Junaidi (43) di Tambak Jaya, Lampung, Rabu (29/9).

Dirinya mengatakan, membudidayakan ikan lele tidak sulit, dan tidak memerlukan modal besar.

Menurutnya, ikan lele yang dipanen mampu mencukupi permintaan ikan di pasaran.

"Dalam empat bulan saya mampu menghasilkan ikan lele mencapai 1,5 hingga 2 kuintal lebih, dan bersyukur selama panen, ikan lele tersebut pasti ludes terjual, sebab kebutuhan ikan ini cukup tinggi," katanya.

Upaya peningkatan gizi masyarakat, pemerintah setempat menggencarkan sosiallisasi akan pemanfaatan lahan tepat guna untuk dijadikan media yang menghasilkan, baik pertanian, perkebunan atau kolam.

Budidaya ikan telah banyak dilakukan masyarakat, mulai dari kolam, empang, danau, atau mina padi.

Media tersebut menjadi pendukung masyarakat dalam meningkatkan budidaya ikan air tawar, dan mencukupi target pemerintah dalam menuju swasembada ikan tahun 2014.

Kebutuhan ikan air tawar masyarakat perhari bekisar delapan kwintal, jumlah tersebut akan meningkat seiring dengan meningkatnya pula jumlah permintaan di pasaran.

Lampung Barat menjadi daerah dengan hasil ikan air tawar melimpah, karena didaerah ini terdapat daerah perairan seperti sungai, danau, dan rawa, adapun jenis ikan yang di kembangkan yakni Nila, Emas, Gurame, dan Palau.

Pemkab Lampung Barat menargetkan swasembada ikan pada tahun 2010 dengan pencapaian target ikan 72 ton lebih pertahun, sementara pusat pengembangan ikan air tawar di Lampung Barat terdapat di Danau Ranau, Kecamatan Sukau, dan Kecamatan Sumber Jaya, dengan mengembangkan Keramba Jaring apung (KJA) dan Keramba Jaring Tancap (KJT).

Budidaya ikan lele salah satu dipilih masyarakat, disebabkan jenis ikan ini dapat hidup dan berkembang di beberapa media, selain itu pertumbuhan ikan lele tergolong cepat, petani hanya membutuhkan waktu empat bulan untuk memanen ikan ini dan siap dipasarkan.

Harga ikan lele di sejumlah pasar di Kabupaten Lampung Barat mencapai Rp17.000/kq, harga tersebut akan naik, bila pasokan ikan lele berkurang.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Barat Nata Djudin Amran mengatakan, masyarakat dapat mengembangkan jenis ikan untuk dibudidayakan.

"Daerah ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sarana pembesaran ikan, karena iklim yang baik, dimungkinkan ikan tersebut tumbuh dan berkembang, dan mampu mencapai bobot panen yang diinginkan," katanya.

Amran mengatakan, budidaya ikan dapat memicu peningkatan ekonomi masyarakat.

"Saya berharap agar masyarakat dapat terus mengembangkan potensi perikanan sehingga tingkat ekonomi masyarakat, semakin hari semakin meningkat, sehingga angka kemiskinan di daerah ini dapat di tekan," katanya.

Prasarana produksi
Seperti dikutip dalam situs lampungbarat.go.id luasnya potensi budidaya air tawar Kabupaten Lampung Barat khususnya  “wilayah atas”yang meliputi Kecamatan Sumberjaya hingga ke Kecamatan Sukau hingga saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal, sehingga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan masyarakat masih harus mendatangkan dari luar daerah sedikitnya 30 ton setiap bulannya.

Terdapat beberapa permasalahan yang terus dibenahi oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Barat, diantaranya selama ini para pembudidaya ikan kesulitan mendapatkan benih dan calon induk ikan yang berkualitas serta dalam jumlah dan waktu (penjadwalan budidaya/musim tanam) yang cukup.

Permasalahan lainnya yang dihadapi oleh peternak ikan adalah mekanisme pasar produksi perikanan yang belum jelas dan belum terkoordinir dengan baik, dimana sering terjadi kesulitan pemasaran ikan di satu wilayah sementara di wilayah lain masih kekurangan terutama untuk benih ikan.

Yang tak kalah pentingnya adalah pengetahuan dan keterampilan budidaya yang dimiliki oleh para pembudidaya masih cenderung konvensional sementara tuntutan produksi/budidaya dewasa ini menghendaki perlakuan teknologi yang lebih maju.

Sebagai contoh sering terjadinya serangan hama penyakit yang sulit sekali dikendalikan disamping teknologi lainnya seperti teknis pembenihan dan pembesaran intensif; Pengetahuan dan keterampilan lainnya yang dimiliki para pembudidaya berkaitan dengan rekayasa lingkungan masih relatif rendah.

Misalnya suhu udara dan air di Kabupaten Lampung Barat yang secara umum cukup rendah memerlukan perlakuan teknologi sehingga tidak menjadi kendala terhadap pertumbuhan ikan.

Untuk mengatasi beberapa permasalahan yang dihadapi oleh peternak ikan selama ini, terdapat beberapa upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah Lampung Barat diantaranya, Pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) dan penumbuhan Unit Pembenihan Rakyat yang yang terletak di Kecamatan Sumberjaya, dimana nantinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan benih ikan di Kabupaten Lampung Barat; Pembangunan Pabrik Pakan Ikan sebagai penyedia pakan dan sarana pembelajaran produksi pakan bagi masyarakat; Pembangunan Pasar Benih Ikan untuk mengkoordinir dan memfasilitasi pemasaran produksi perikanan baik hulu maupun hilir; Pembangunan dan penumbuhan kios-kios sarana produksi perikanan di wilayah sentra produksi perikanan; Pembangunan laboratorium dan penyediaan sarana pengendalian hama penyakit; Pengembangan Unit Pelayanan dan Pengembangan (UPP) sebagai salah satu sumber permodalan pembudidaya disamping media pembelajaran kemiteraan usaha dengan perbankan.

Pemetaan Wilayah

Upaya lain yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam upaya pengembangan ikan air tawar di Lampung Barat adalah dengan melakukan pemetaan wilayah produksi ikan. Pemetaan wilayah budidaya dimaksudkan sebagai upaya percepatan peningkatan produksi melalui spesifikasi usaha budidaya pada masing-masing wilayah.

Berdasarkan potensi wilayah dan potensi sumberdaya manusia yang ada dan daya dukung lingkungan lainnya, dilakukan pemetaan wilayah budidaya yang meliputi , wilayah I yang terdiri dari Kecamatan Sumberjaya, Kecamatan Gedung Surian, Sekincau, dan Kecamatan Way Tenong.

Diharapkan wilayah tersebut dapat berkembang sebagai wilayah sentra produksi benih ikan-ikan komersial melalui optimalisasi pengembangan Balai Benih Ikan (BBI) Sumberjaya dan Unit Pembenihan Rakyat (UPR).

Selain itu, sebagai pusat pengembangan dan informasi pasar melalui pembangunan Pasar Ikan Air Tawar Sumberjaya, disamping pengembangan fungsi dan kontribusi para Pedagang yang memang selama ini untuk Pedagang ikan air tawar Lampung Barat pada umumnya berdomisili di Sumberjaya.

Disamping itu melalui Pasar Ikan diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai media transaksi komoditai ikan saja, tetapi berkembang lebih jauh pada sarana produksi perikanan lainnya dan pengendalian hama penyakit ikan.

Kemudian sebagai  pintu gerbang Lampung Barat, diharapkan Kecamatan Sumberjaya dapat berfungsi sebagai etalase produksi perikanan se Kabupaten Lampung Barat.

Kemudian Wilayah II terdiri dari Kecamatan Suoh, Belalau dan Batu Brak diharapkan dapat berkembang sebagai wilayah budidaya (pembesaran) yang lebih memanfaatkan kolam dan sawah sebagai media budidaya; juga sebagai pengembangan wilayah ini juga diharapkan dapat berkembang Aneka Usaha Perikanan yang meliputi Usaha Pemancingan dan pengolahan hasil perikanan (siap saji).

Selanjutnya Wilayah III terdiri dari Kecamatan Balik Bukit dan Kecamatan Sukau diharapkan dapat berkembang sebagai sentra produksi perikanan terutama ikan konsumsi melalui optimalisasi pemanfaatan perairan umum (Danau Ranau); Pengembangan jaringan pembenihan (khususnya sekuen pendederan); dan Mendukung pengembangan wisata Lombok;

Disamping pengembangan wilayah dan pemenuhan produksi ikan yang juga harus mendapatkan perhatian adalah pengembangan sumber daya manusia yang akan mengelolanya. Karena bagaimanapun hebatnya suatu program kalau tidak didukung oleh sumber daya manusia yang handal, maka program tersebut akan sia-sia saja.

Pengembangan SDM ini dilakukan dengan melakukan berbagai pembinaan, pendidikan dan pelatihan serta mengikuti berbagai studi banding ke daerah-daerah yang memang budi daya ikannya telah berkembang dengan baik. Dengan demikian, maka kemampuan teknis yang dimiliki dalam mengembangkan dan membudidayakan ikan air tawar ini akan semakin meningkat.

Pengembangan SDM ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti Pendidikan dan Pelatihan Petugas dan Pembudidaya; Penyediaan Tenaga Pendamping Teknologi (TPT); Penumbuhan Penyuluh/Pembina swakarsa yang berasal dari pembudidaya ikan berhasil; serta Operasional Perpustakaan BBI Sumberjaya yang memuat paket teknologi terapan hasil kajian BBI Sumberjaya. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita