Sabtu, 26 Mei 2012
Menkeu: Defisit Anggaran Dijaga 1,7%
Kamis, 30 September 2010 04:29
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 30/9 (SIGAP) - Menteri Keuangan Agus Martowardojo saat ditemui di Jakarta, Rabu malam, mengatakan, pemerintah akan tetap menjaga defisit anggaran pada RAPBN 2011 sebesar 1,7%.

Menurutnya, saat ini dunia internasional memandang Indonesia memiliki anggaran yang kredibel dengan defisit yang rendah.

"Ekonomi kita bagus sekali dan justru membuat semua negara percaya ke Indonesia karena kita punya anggaran dengan fiskal defisit yang tidak besar, yaitu 1,7 persen. Itu adalah kekuatan dari Indonesia," ujarnya.

Menurut Menkeu, dengan menjaga defisit anggaran, pemerintah akan terus meningkatkan kegiatan pembangunan khususnya infrastruktur untuk mengundang para investor asing dan swasta menanamkan investasi ke Indonesia.

"Untuk itu pemerintah ingin supaya semua pihak tahu bahwa kita ingin membangun infrastruktur dan kita sudah mengalokasikan Rp140 triliun untuk pembangunan infrastruktur, tapi kalau mau lebih itu memang dibutuhkan peranan dalam bentuk kerja sama pemerintah dengan swasta atau kita mengundang swasta untuk membangun," ujarnya.

Dirinya mengatakan, pemerintah tidak akan mengorbankan APBN yang telah dan akan berjalan dengan menaikkan defisit anggaran.

"Jangan kita korbankan anggaran, karena kalau anggaran sampai dikorbankan, dinaikkan defisitnya, nanti akan mempengaruhi kepercayaan internasional kepada kita, ini pandangan yang coba kita untuk sampaikan," jelasnya.

Sementara menurut laporan Bank Dunia, pemerintah secara tidak resmi memangkas proyeksi defisit pada 2010 menjadi 1,5% dari asumsi dalam APBNP sebesar 2,1% yang mencerminkan penyesuaian asumsi, realisasi penerimaan yang kuat dan lemahnya pencairan dana belanja pada awal tahun.

Dengan asumsi defisit anggaran sebesar 1,7% dalam asumsi RAPBN 2011 dan didukung dengan kuatnya ekonomi nominal, dampaknya akan membuat tingkat utang pemerintah terus menurun hingga 25% dari PDB.

Seperti dikutip NERACA, sebelumnya presiden mengingatkan tentang pentingnya  APBN sebagai jangkar perekonomian.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar implementasi APBN harus efektif dan efisien. Untuk tahun 2011 mendatang juga harus efisien dan tepat sasaran dimulai dengan penyusunan yang hati-hati dan teliti.

"Saya ingatkan harus tepat sasaran, Alhamdulillah semakin besar karena GDP dan penerimaan naik, tapi kenaikan ini tidak efektif manakala desain, struktur, alokasi dan distribusi tidak tepat, mari kita pastikan itu semua tepat," kata Presiden.

Presiden Yudhoyono kemudian memerintahkan Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa untuk memperhatikan hal tersebut dalam penyusunan RAPBN 2011 termasuk mendorong peningkatan pengeluaran pemerintah bukan mendorong biaya overhead.

"Saya minta pada Menkeu dan Menko Perekonomian agar ke depan kita hilangkan inefisiensi, kurangi overhead cost yang tidak semestinya. Kalau anggaran naik bukan yang diperbanyak overliead tapi spending expenditure sehingga menggerakkan ekonomi," tegasnya.  (wa prasetya/ant)





 

Arsip Berita