Sabtu, 26 Mei 2012
Sidoarjo: Aktivitas Belajar Siswa SD Pindah ke Mushala
Kamis, 30 September 2010 01:35
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta,  30/9 (SIGAP) - Aktivitas kegiatan belajar mengajar siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pejarakan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Jatim, terpaksa dipindahkan ke mushala setempat, menyusul terjadinya luapan Lumpur Lapindo.

Guru SDN Pejarakan Misbaqus Sobir, Rabu (29/9) mengatakan, para siswa ini terpaksa belajar di ruang mushala karena ruang kelas mereka sudah tidak layak pakai.

"Selain itu, bau gas metan yang menyengat yang muncul di sela-sela lantai ruang kelas dan ruang kamar mandi siswa juga turut mengganggu proses aktivitas belajar mengajar siswa," katanya.

Misbaqus mengemukakan, semburan gas metan dari bawah permukaan tanah ini muncul menyebar di area sekolah yang ditandai dengan gelembung air dan gas di atas permukaan tanah dan lantai bangunan.

"Meski demikian, pihak sekolah hingga saat ini belum berupaya melakukan evakuasi sekolah ke tempat yang lebih aman, mengingat belum ada lokasi lain untuk pindah," ucapnya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) sendiri hingga kini belum mengambil tindakan apapun terkait semburan gas metan yang mengganggu dan mengancam siswa dan guru.

Wakil Kepala Humas BPLS Akhmad Kusairi, mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menyalakan api di lokasi tersebut, mengingat kandungan gas yang keluar mudah sekali terbakar jika disulut api.

"Saat ini kandungan gas yang ada di SDN Pejarakan tersebut masih berpotensi untuk terjadinya kebakaran," ujarnya.

Oleh karena itu, dirinya telah menginstruksikan kepada petugas keamanan BPLS untuk terus melakukan pemantauan di lokasi tempat munculnya semburan lumpur tersebut.

Dirinya mengatakan, BPLS sendiri juga tidak melakukan pemasangan sparator di lokasi semburan karena lokasinya yang menyebar di beberapa titik.

"Namun demikian, kami memprediksi jika sifat semburan lumpur yang keluar dari halaman belakang sekolah ini sama dengan semburan lumpur lainnya, yakni tidak bersifat lama serta cepat berhenti," paparnya.

Pada Selasa (28/9) Kegiatan belajar mengajar siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pejarakan terpaksa terhenti, akibat adanya semburan lumpur yang muncul di halaman sekolah.

Belasan semburan yang muncul tersebut mengakibatkan proses belajar mengajar siswa dihentikan, menyusul bau gas yang keluar cukup menyengat hidung dan mengganggu konsentrasi belajar siswa.

Sedikitnya ada 14 titik semburan yang muncul akibat luapan Lumpur Lapindo di kawasan tersebut.

Semburan terbesar di sekitar SDN Pajarakan, Kecamatan Jabon terutama yang muncul di bekas sawah belakang gedung sekolah.

Sebelumnya (24/9), muncul semburan baru yang  terjadi di rumah penduduk yang terletak di Desa Mindi, dan belum ada tindakan konkrit dari Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) .

Semburan liar ini muncul tadi pagi sekira pukul 04.30 WIB. Semburan liar ini muncul di bagian depan rumah Bunardi, penduduk tersebut,  yang biasa digunakan sebagai workshop industri konveksi miliknya.

Pada saat pertama kali muncul semburan, material yang keluar adalah air bercampur dengan lumpur, seperti ditulis okezone.

Tidak hanya itu,karena semburan ini muncul di bagian depan yang digunakan untuk usaha konveksi, Bunardi dengan terpaksa meliburkan 20 karyawannya. Para karyawan dibantu dengan para tetangga dikerahkan untuk mengevakuasi alat-alat konveksi yang menggunakan aliran listrik.

Selain mengevakuasi alat-alat konveksi, para tetangga juga bahu membahu untuk membuatkan saluran pembuangan airnya. Namun pekerjaan ini belum membuahkan hasil yang maksimal. Air pun masih menggenangi rumah Bunardi. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita