Sabtu, 26 Mei 2012
Bantaeng: BPPT Ingin Wujudkan Pertanian Berdaya Saing Tinggi
Rabu, 29 September 2010 15:06
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 29/9 (SIGAP) - Luas wilayah yang terbatas dengan potensi yang cukup baik memaksa Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, harus mampu menghasilkan produk pertanian berdaya saing tinggi.

Menurut Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah,  salah satunya langkah yang dilakukan melalui rekayasa teknologi. Karena itulah, Bantaeng berharap Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) dapat mewujudkan visi pertanian berdaya saing tinggi tersebut

Hal in dikatakan Nurdin ketika melakukan pertemuan dengan tim BPPT di ruang rapat Bupati Bantaeng, Senin (27/9).

Pada kesempatan itu Bupati didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Syamsu Alam, Staf Ahli Bupati Bidang Pertanian Muchtar A Nawir, Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah HM Yasin, Kepala Badan Ketahanan Pangan Suharini Harsoyo dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

Menurut Bupati, kerjasama dengan BPPT diharapkan meningkatkan produktivitas dan keseragaman kualitas maupun rasa, terutama pada pengembangan komoditi talas yang diharapkan menjadi ikon daerah berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar ini.

"Kami punya potensi dan BPPT miliki teknologinya sehingga bila dipadukan tentu akan menghasilkan produk berkualitas," tambah Nurdin Abdullah yang berharap, pasar talas dunia bisa dipenuhi dari daerah berjuluk Butta Toa ini.

"Mitra kami menguasai 60 persen pangsa pasar talas dunia. Hanya saja selama ini mereka mengimpor dari China. Bila pengembangan talas bisa dilakukan dengan baik, otomatis pasar talas akan kita penuhi," tambahnya.

Karena itulah, Bupati berharap, kerjasama dengan BPPT ini dapat dikembangkan dalam bentuk sharing kegiatan. Misalnya saja pembuatan sonasi antara pengembangan talas dengan komoditas lainnya.

Direktur Pusat Teknologi Industri Proses BPPT Danny M Gandana menyambut baik kerjasama yang kesepakatannya dilakukan sejak 2009 untuk pengembangan potensi pertanian di daerah ini.

Potensi lahan dan tanah di Bantaeng masih bagus dan subur untuk diwujudkan menjadi daerah pusat bibit. Meski begitu diperlukan pembinaan agar pemanfaatan lahan tidak sampai merusak dalam jangka panjang.

Karena itu, BPPT akan membantu dalam teknis pemupukan yang baik dan berimbang seperti yang sudah dilakukan di beberapa daerah. "BPPT akan melakukan pembimbingan agar daerah ini menjadi daerah terkemuka dan menjadi pusat pertanian unggulan Sulsel, terutama bidang umbi-umbian, padi dan jagung," jelasnya.

Danny M Gandana juga mengatakan, untuk mewujudkan program tersebut BPPT akan mengirim tim ke Bantaeng. Selain itu, didinya juga berharap, Bantaeng mengirim orang untuk belajar dan melihat kondisi pertanian binaan BPPT seperti di Serpong.

Khusus komoditi talas, bupati mengatakan, akan melakukan riset bersama agar rasa dan kualitasnya sama. Ini memerlukan teknik tersendiri agar pihaknya bisa memasok kebutuhan talas Jepang, urainya.

Berdasarkan catatan SIGAP, pada 22 Mei 2009 telah dilaksanakan penandatanganan kerjasama antara BPPT dengan Pemerintah Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan yang diwakili oleh Bupati Bantaeng. Dalam sambutannya Sekretaris Utama BPPT Jumain Appe ketika itu mengatakan,  peranan teknologi dalam menghadapi era globalisasi saat ini serta bagaimana menyikapinya. Dalam kesempatan itu BPPT siap membantu dalam pembangunan daerah kebupaten Bantaeng sesuai dengan kemampuan dan potensi Kabupaten Bantaeng.

Bupati Bantaeng dalam sambutannya sangat menyambut kerjasama tersebut dan berharap BPPT khususnya untuk teknologi air bersih, energi alternatif (karena sampai saat ini hanya sekitar 50% yang dapat dijangkau oleh PLN), pertanian, rumput laut, kakko, kopi, talas dan ketersediaan pupuk untuk pertanian.

Khusus untuk talas, saat itu dikatakan telah ada investor dari Jepang yang meminta 10.000 ton/hari, dan jagung 20.000 ton/hari. Dalam menjawab kebutuhan tersebut melalui Kepala Bidang Teknologi Produksi tanaman perkebunan dan kehutanan Sutardjo mempresentasikan tentang kultur jaringan dan budidaya talas Jepang (Satoimo).

Respon yang diperoleh cukup baik, dimana Pemkab Bantaeng akan melakukan penanaman talas Jepang yang bibitnya diperoleh dari konsorsium talas Jepang di Jakarta. Untuk mengurangi ketergantungan akan bibit talas tersebut, Pemkab Bantaeng mengharapkan bimbingan teknis mengenai perbanyakan bibit talas Jepang dengan kultur jaringan yang telah dilakukan oleh Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT.

Kemudian kunjungan dilanjutkan ke Balai Benih Hortikultura milik Pemkab Bantaeng di Kecamatan Uluere. Di Balai tersebut saat itu sedang dilakukan perbanyakan bibit kentang Var, Granola dan Atlantis untuk G0 dengan sistem aeroponik, sedang G1 sampai G3, diperbanyak di lapangan.  (rusman/ant)



 

Arsip Berita