Sabtu, 26 Mei 2012
Prof Derom: Diplomasi Sawit Industri dan Lingkungan
Selasa, 28 September 2010 08:18
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 28/9 (SIGAP) - Profesor Derom Bangun menuangkan pengalaman mengelola dan mengembangkan perkebunan sawit serta melakukan diplomasi untuk memperjuangkan kepentingan petani dan pengusaha sawit dalam sebuah buku berjudul "Derom Bangun, Memoar `Duta Besar` Sawit Indonesia."

Buku berisi catatan Prof Derom selama berkecimpung dalam dunia persawitan tersebut diluncurkan di Balai Kartini, Jakarta, Senin malam, dalam sebuah acara yang dihadiri keluarga, handai taulan, dan sahabat.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Achmad Mangga Barani dan Ketua Umum Dewan Sawit Indonesia 2006-2010 Franky O Widjaja hadir dalam acara tersebut.

Prof Derom, yang saat ini menjabat Vice President II pada Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO), berharap pengalamannya bisa menjadi referensi yang tidak menjemukan bagi orang-orang yang ingin mengetahui seluk-beluk persawitan.

"Apa yang saya tuangkan mungkin ada yang bisa diambil sebagai pelajaran," kata pendiri PT Kinar Lapiga, perusahaan pengelola perkebunan kelapa sawit.

Mantan Wakil Presiden M Jusuf Kalla pun mengaku mendapat pelajaran tentang sawit dari Prof Derom saat menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

"Dalam setiap biografi selalu ada yang bisa dipelajari, karena menceritakan pengalaman, pengalaman adalah guru yang terbaik. Dulu saya jadi menteri, meski cuma empat bulan, juga dapat banyak ilmu sawit dari dia," kata Kalla serta serta dirinya menambahkan Prof Derom adalah orang yang konsisten menekuni sawit sejak lama.

Menurut Bonnie Triyana, sang penulis, Prof Derom menuangkan kesaksiannya mengenai beberapa bagian sejarah persawitan Indonesia dari dua sisi, sisi industri dan lingkungan, dalam buku yang dipersempahkan kepada pengusaha dan petani sawit nusantara tersebut.

Buku memoar Prof Derom yang tebalnya 548 halaman berisi pengalaman masa kecil dan kisah hidup, suka dukanya bekerja dan membangun perkebunan sawit, serta perjalanannya melakukan negosiasi dan diplomasi sawit.

Sejumlah tokoh menuliskan pengakuan mereka terhadap keahlian Prof Derom dalam ranah perkelapa-sawitan termasuk di antanya Jusuf Kalla, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Pertanian suswono, mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih dan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi.

Saat ini pemerintah sangat getol untuk menjadikan lingkungan sebagai fokus pembangunan ekonomi.

Seperti yang kutip metrotvnews, salah satu penjabaran Letter of Intent (LoI) Pemerintah Indonesia kepada Pemerintah Norwegia pada 26 Mei 2010 adalah rencana moratorium penebangan hutan alam dan lahan gambut.

Rencana itu sebagai perwujudan dari skema pengurangan emsisi karbon dari deforestasi dan kerusakan hutan atau REDD (reducing emission from deforestation and degradation of forest) dengan imbalan hibah dari Norwegia sebesar US$ 1 milliar atau Rp 9 triliun sampai tahun 2013.

Rencana kebijakan moratorium itu akan dituangkan dalam sebuah Peraturan Presiden (Perpres), yang konon saat ini telah masuk dalam babak akhir pembahasan yang cukup mendebarkan. 

Pemerintah Indonesia dibantu Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) nampak sangat serius untuk mewujudkan strategi baru pro-environment Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk melengkapi strategi besar: pro-growth, pro-job dan pro-poor.  (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita