Sabtu, 26 Mei 2012
Ratusan Keluarga di Pacitan Terjebak Longsor
Selasa, 28 September 2010 07:29
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 28/9 (SIGAP) - Ratusan keluarga di Desa Wonoasri, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur sampai saat ini masih terjebak longsor yang menutup seluruh akses jalan di sekitar permukiman mereka. Informasi dari kepala desa setempat, Bonasir, warganya yang masih terisolasi di pedalaman desa itu jumlahnya sekitar 450 kepala keluarga (KK).

"Mereka tersebar di tiga dusun yang semuanya berada di daerah yang sulit dijangkau, yakni Dusun Sipen, Sidowayah, serta Pakel," katanya. Selain menutup akses keluar dari tiga permukiman itu, guguran material longsor dalam jumlah banyak juga menyebabkan jalur alternatif menuju Kabupaten Ponorogo nyaris terputus.

Warga sebenarnya sudah berusaha menyingkirkan material longsoran yang menutup badan jalan. Namun karena jumlah/volumenya sangat banyak, upaya itu tak berhasil maksimal. Sebagian kendaraan roda dua sudah ada yang bisa melintas. Namun, sebagian besar lainnya, terutama kendaraan roda empat atau lebih, terpaksa putar haluan karena jalur alternatif yang tertimbun longsor itu masih sangat rawan.

Akibatnya, puluhan siswa SMP dan SMA dari tiga dusun tersebut tak bisa masuk sekolah. Penyebabnya, mobil angkutan yang biasa menjemput tidak bisa sampai ke lokasi permukiman karena jalan tertimbun longsor tadi.

Demikian pula dengan dua jalur ke alternatif ke Desa Baosan Kidul dan Mrayan di wilayah Kecamatan Ngrayun, Ponorogo. "Ada sekitar 57 siswa SMP dan SMA yang tidak sekolah karena harus jalan 4 kilometer lebih," kata Bonasir.

Di Desa Wonoasri sendiri, total terdapat empat titik jalan ambles dan dua lainnya tertimbun tanah longsor. Salah satu jalan yang ambles berada di Dusun Sidowayah. Di jalur tersebut, lebar jalan rambatan yang ambles mencapai 25 meter.

Sebelumnya, ruas jalan juga sempat ambles terguyur hujan deras, tetapi dibanding sekarang, kondisinya jauh lebih parah. Selain itu, sebuah jembatan dilaporkan juga ambruk akibat diterjang banjir di sungai yang ada di bawahnya. "Dulu yang ambles hanya setengah meter saja," katanya.

Faisal Haq, pemerhati lingkungan, mengaku prihatin terhadap lambatnya pemerintah setempat dalam mengevakuasi warganya. “Seharusnya Pemda dapat segera mengevakuasi warga yang terisolir,” katanya kepada SIGAP, Selasa (28/9). Setidaknya, koordinasi di lapangan segera dilakukan untuk mencegah seminimal mungkin  korban.

Alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini mengingatkan bahwa musibah longsor itu  pertanda alam yang diberikan langit. “Pertanda ini ayat-ayat Allah, di luar al-Quran. Penduduk Pacitan selayaknya melakukan instrospeksi. Introspeksi terhadap apa saja yang dilakukan mereka selama ini terhadap alam dan lingkungan sekitarnya,” kata Faisal Haq.

Lebih jauh daripada itu, Faisal Haq, yang pernah nyantri di salah satu pondok pesantren modern di Jawa Timur ini mengutarakan untuk mencegah terulangnya bencana longsor, masyarakat dan pemerintah setempat harus melakukan penanaman pohon di lokasi-lokasi rawan longsor. “Kesadaran untuk menjaga keseimbangan alam. Misalnya tidak merusak apalagi mengeksploitasi  alam,” katanya. (sofyan badrie/ant)

 

Arsip Berita