Sabtu, 26 Mei 2012
Lampung Timur: Produksi Kopra Menurun
Senin, 27 September 2010 02:07
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 27/9 (SIGAP) - Produksi kopra di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung menurun dalam sebulan terakhir, seiring minimnya hasil panen buah kelapa di daerah itu.

"Panen buah kelapa sekarang tidak sebanyak dahulu, sehingga para pembuat kopra kesulitan mendapatkan bahan baku," kata seorang warga, Romadoni di Kecamatan Margatiga, Lampung Timur, sekitar 85 Km dari Bandarlampung, Minggu (26/9).

Romadoni menjelaskan, penyebab berkurangnya hasil panen buah kelapa karena tanaman kelapa banyak yang disadap untuk diambil nira (saripati bunga kelapa).

"Nira tersebut yang kemudian dijadikan bahan untuk membuat gula merah atau minuman khas tuak, apalagi kedua jenis olahan itu cukup tinggi permintaannya," ujarnya.

Akibat hasil panen buah kelapa berkurang, menyebabkan produksi kopra di daerahnya berkurang mencapai 35 persennya." Kami bandingkan produksi kopra saat ini dengan tiga bulan sebelumnya, perbedaannya cukup jauh, yang mengalami penurunan lebih dari sepertiganya," terangnya.

Dirinya menambahkan, pendapatan dari membuat kopra yang minim juga membuat sebagian warga beralih menekuni usaha lain.

Dirnya berharap, pemerintah daerah dapat menjalin kerja sama dengan pihak investor untuk mendirikan pabrik pengolahan kopra berskala besar, sehingga di daerahnya masih tetap menjadi sentra kopra di Kabupaten Lampung Timur ini.

Hal senada disampaikan warga lain, Arif Rohman di kecamatan yang sama, yang mengatakan bahwa produksi kopra kini semakin menurun karena tanaman kopra sudah banyak yang tidak produktif.

Selain itu minat warga untuk membuat kopra juga menurun karena banyak yang beralih menekuni usaha lain.Sebelumnya jumlah unit usaha pembuatan kopra di daerahnya cukup banyak, namun saat ini semakin berkurang karena sebagian beralih ke usaha lain.

"Sebelumnya usaha pembuatan kopra di daerah kami sekitar 20-an unit, namun kini telah berkurang hingga tidak lebih dari 15 unit lagi," ujarnya.

Arif berharap, meski produksi kopra menurun namun warga yang menekuni usaha pembuatan kopra masih dapat dipertahankan, karena dengan adanya pembuat kopra tersebut dapat mengontrol harga minyak goreng agar tidak semakin naik.

Berdasarkan pantauan, harga kopra di tingkat pembuatan, antara lain kopra kualitas asalan mencapai Rp1.225 per kilogram dan kopra kualitas super mencapai Rp1.435 per kilogram.

Adapun daerah yang cukup prospek untuk didirikan pabrik pengolah kopra karena merupakan sentra tanaman kelapa, seperti di Kecamatan Margatiga, Sekampungudik, Margasekampung, Wawaykarya, Melinting, Bandarsribawono dan Wayjepara.

Selain itu, total luas perkebunan keseluruhan di Kabupaten Lampung Timur mencapai 45.330 hektare, terdiri atas tanaman kelapa 58%, lada 21%, kakao 13% dan sisanya ditanami jenis komoditas lain.

Selanjutnya dari potensi perkebunan itu, mampu menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat (AS) dan Benua Eropa, antara lain komoditas lada 5.226 ton, kopi robusta 919 ton, kakao 2.170 ton, dan kopra 2.489 ton dengan nilai ekspor mencapai 10,9 juta dolar AS.

Dalam catatan SIGAP, kopra merupakan komoditas unggulan Lampung Selatan karena usaha tersebut yang didukung oleh perkebunan kelapa seluas 31.918 hektare dengan jumlah produksi mencapai 33.370 ton, produktivitas mencapai 1.045,5 kilogram per hektare.

Kemudian, luas areal kelapa hibrida 2.081 hektare dengan produksi mencapai 1.774 ton dengan produtivitas 852,5 kilogram per hektare. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita