Sabtu, 26 Mei 2012
Pantura: "Blakutak” Dominasi Hasil Tangkapan Nelayan
Minggu, 26 September 2010 14:11
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 26/9 (SIGAP) - Hasil tangkapan nelayan tradisional di derah Pantura Kabuaten Indramayu, Jawa Barat, didominasi oleh "blakutak" karena pada musim penghujan keberadaan ikan tersebut cukup melimpah dibandingkan ikan laut lainnya.

Dedi Aryanto, manajer Tempat Pelelangan Ikan Glayem Indramayu, Minggu (29/9), kepada wartawan di Indramayu, mengungkapkan, hasil tangkapan nelayan yang mendaratkan ikan di TPI Glayem didominasi oleh "blakutak" dan ada sebagian lagi cumi-cumi.

"Musim penghujan diperairan Utara Indramayu `blakutak` cukup melimpah dibanding dengan ikan laut lain, seperti kakap merah, kakap putih, bawal putih, kerapu, namun jika musim kemarau sulit mencari `blakutak` tersebut,"katanya.

Dirinya menambahkan, harga "blakutak" stabil saat ini dijual sekitar Rp23 ribu per kilogram dari nelayan, sedangan cumi-cumi bervariasi mulai dari Rp20 ribu hingga Rp26 ribu per kilogram tergantung kualitas dan ukuran cumi-cumi tersebut.

Dikatakannya, permintaan "blakutak" cukup tinggi karena sangat diminati oleh konsumen baik di Indramayu maupun untuk keluar kota, sehingga harga ikan itu selalu stabil, dibandingka hasil tangkapan lain, sementara cumi-cumi biasanya dipesan oleh rumah makan yang menghidangkan aneka masakan laut.

"Hasil tangkapan cumi-cumi dan `blakutak` dapat membantu kesejahteraan nelayan lokal, karena permintaan dari konsumen tetap tinggi juga harganya stabil," katanya.

Sementara itu, Edi Edwar kepala UPTD Dinas perikanan Kecamatan Indramayu dan Balongan menbenarkan, hasil tangkapan nelayan tradisional di Tempat Pelelangan Ikan Glayem didominasi oleh "blakutak" juga ada sebagaian dari mereka yang menangkap cumi-cumi.

"Nelayan lokal di TPI Glayem menggunakan alat tangkap dogol,juga menggunakan perahu sederhana cara penangkapan hasil laut mereka pulang pergi dari daratan satu hari kembali mendaratkan hasil tangkapannya," katanya.

Dia menjelaskan, cara tradisional dengan pulang pergi darat laut hanya satu malam, hasil tangkapan mereka masih segar, dan sangat diminati pembeli, namun jumlah tangkapannya terbatas karena perahu yang digunakan sederhana.

Restrukturisasi Kapal

Seperti diketahui, restrukturisasi kapal ikan menjadi salah satu program Kementerian Kelautan dan Perikanan pemerintah perahu tanpa motor milik nelayan berbobot mati di bawah 30 gross ton (GT) secara bertahap akan diganti kapal motor 30-50 GT.

Sebagai langkah awal akan dibuat seribu kapal diprioritaskan untuk nelayan di pantai utara dan pantai selatan Jawa. Jawa Timur dipilih dan diberi target merestruktur 13 ribu lebih kapal hingga tahun 2014.

Dalam catatan SIGAP,  dari 38 kabupaten atau kota. 22 daerah di antaranya mempunyai wilayah pesisir. Posisinya sebagai salah satu sentra perikanan tangkap cukup strategis. Potensinya sebesar 1,7 juta ton per tahun dengan nilai Rp 4,6 triliun.

Potensi lestari 804 ribu ton dan baru dimanfaatkan sebesar 453 ribu ton atau 56,3 persen (tahun 2004). Akan tetapi pada tahun 2008 produksinya turun menjadi 328 ribu ton akibat mahalnya biaya operasional imbas kenaikan harga solar, susutnya sumber daya ikan (SDI), dan anomali iklim.

Besarnya potensi perikanan ini juga ditandai keberadaan 95 Pelabuhan Perikanan skala kecil dan besar. Dengan program pembaruan kapal diharapkan dari 10 ribu kapal yang saat ini beroperasi di 200 mil (ZEEI) bertambah menjadi 30 ribu kapal.  (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita