Sabtu, 26 Mei 2012
Cimahi: Petani Singkong Alami Kerugian
Sabtu, 25 September 2010 04:15
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 25/9 (SIGAP) – Akibat ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah membuat hasil tani singkong dikampung Cireundeu RW 10 Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi, Jawa Barat, mengalami kerugian.


Tatang, petani singkong saat ditemui wartawan, Jumat (24/9) mengatakan saat TPA Leuwigajah masih beroperasi, sehari bisa memanen singkong hingga 4 ton. Namun saat ini sehari hanya 2 kwintal singkong yang bisa diolah menjadi beras singkong, tepung kanji, serta ampas singkong.

Busuknya sampah yang tertimbun di TPA Leuwigajah, diungkapkannya, menjadikan tanah pertanian di Cireudeu terganggu.

Karena uap bau busuk tersebut menyebabkan timbulnya zat-zat yang dapat merusak tanaman serta tanah.

"Mungkin kami bukan orang yang tahu tentang teori pertanian, tapi kan kalau diperhatikan kerusakan lahan kami ini terasa setelah TPA ditutup," ujarnya.

Dijelaskannya, pemenuhan permintaan ampas singkong menjadi turun drastis, hal itu tentu menyebabkan perekonomian Kampung Cireundeu menjadi berkurang.

Pihaknya hanya bisa mengirimkan ampas singkong hanya sekitar 1 kwintal saja. Padahal permintaan dari daerah lain terhadap singkong Cireundeu selalu ada.

"Sebetulnya permintaan ampas singkong terus meningkat, tapi kami tidak punya bahan yang bisa dikirimkan, karena hasil tani singkong sekarang ini jelek-jelek. Malahan sering busuk dan akhirnya tidak bisa digiling untuk membuat ampas yang biasa diolah mejadi tepung kanji, saos, beras singkong, serta bahan makanan lainnya," katanya.

Lebih jauh Tatang mengatakan, pihaknya telah mengajukan keluhan tersebut ke Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi beberapa kali, namun tidak juga ditanggapi.

"Kami sudah mengirimkan sample tanah, tanaman singkong yang rusak, sampai hasil olahannya, tapi belum juga ada hasilnya," ujarnya.

Ditambahkannya, selama ini Pemkot Cimahi kurang memberikan perhatian serius terhadap lahan pertanian kampung Cireundeu.

Padahal Kampung Cireundeu telah mengharumkan Kota Cimahi sebagai salah satu daerah percontohan pangan oleh Mentri Pertanian sebagai kawasan pangan alternatif.

Meski begitu, Tatang mengaku pihaknya tidak bergantung belas kasihan Pemkot Cimahi.

Petani Cireundeu terus berupaya untuk memperbaiki lahannya secara mandiri. "Biarkan saja Pemkot tidak memperhatikan kami. Toh hidup kami selama ini tidak pernah ditentukan mereka juga," cetusnya.

Munculnya rencana Pemkot Cimahi yang akan mengoperasikan kembali TPA Leuwigajah, dirinya secara pribadi tidak keberatan asal pengelolaanya menggunakan teknologi yang canggih sehingga aman dalam penggunaannya.

Berdasarkan catatan SIGAP, 5 tahun lalu, tepatnya 21 Februari 2005 pada dini hari, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Leuwigajah longsor dan mengubur 143 orang tewas seketika. Sekitar 137 rumah di Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung dan dua rumah di Desa Leuwigajah, Cimahi, Provinsi Jawa Barat juga tertimbun longsoran sampah dengan ketinggian mencapai 30 meter.

Selain itu, ribuan ton kubik sampah juga mengubur kebun dan lahan pertanian milik warga Kampung Pojok, Cimahi Selatan seluas 8,4 hektare. Bencana alam berupa longsoran sampah TPA dengan kemiringan tebing 15-45 derajat serta diapit Gunung Pasir Panji dan Gunung Kunci itu merupakan rekor tertinggi di Indonesia dan rekor kedua terbesar di dunia.

Rekor pertama adalah longsoran sampah di TPA Payatas, Quezon City, Filipina. Longsoran sampah yang terjadi pada 10 Juli 2000 sekitar pukul 05.00 waktu setempat itu menewaskan lebih dari 200 orang. Angka itu belum termasuk ratusan orang lainnya yang hilang dalam bencana tersebut.

Urutan ketiga ditempati Yunani. Longsoran sampah di TPA dengan sistem landfi ll (menghamparkan sampah di atas lahan terbuka) di Ano Liossia, sekitar 10 kilometer sebelah utara Athena itu menelan korban puluhan orang pada Maret 2003. (rusman/ant)

 

Arsip Berita