Sabtu, 26 Mei 2012
Sumbar: Kogami Akan Gelar Simulasi Evaluasi Tsunami
Sabtu, 25 September 2010 04:03
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 24/9 (SIGAP) - Komunitas Siaga Tsunami (Kogami) Indonesia pada 20 September 2010 akan menggelar simulasi penyelamatan dan evakuasi warga dari bencana tsunami pada 2 kabupaten rawan bencana di Sumatera Barat (Sumbar).

Direktur Eksekutif Kogami Indonesia, Patra Rina Dewi di Padang, Jumat (24/9) mengatakan, simulasi akan dilaksanakan pada wilayah pesisir pantai di Kecamatan Ulakan dan Kecamatan Sungai Limau di Kabupaten Padang Pariaman.

Kemudian di Kecamatan IV Jurai serta Kecamatan Sutera di Kabupaten Pesisir Selatan, katanya.

Menurutnya, kegiatan tersebut akan melibatkan ribuan warga yang berdomisili di pesisir pantai pada 4 kecamatan itu.

Dirinya menambahkan, simulasi tsunami ini digelar dalam memperingati satu tahun bencana gempa bumi 7,9 skala Richter yang melanda sejumlah daerah di Sumbar pada 30 September 2009.

Pada simulasi nantinya akan dibuat suasana daerah pascaguncangan gempa yang berpotensi tsunami ditandai dengan bunyi sirine sekaligus sebagai pengumuman agar warga di daerah rawan tsunami segera menyelamatkan diri ke daerah aman.

Pada kegiatan itu, semua pihak terkait bersama masyarakat di daerah rawan tsunami akan dituntun melakukan penyelamatan diri melalui jalur-jalur evakuasi yang sebelumnya telah dibuat Kogami bersama pihak terkait.

Jalur-jalur tersebut akan menuntun warga menuju daerah aman pada posisi ketinggian dari atas permukaan laut yang diyakini tidak terkena jika gelombang tsunami terjadi, tambahnya.

Dalam simulasi juga diperankan upaya-upaya penyelamatan kepada korban yang menjadi korban gempa dan kegiatan lain yang perlu dilakukan masyarakat dalam menyelamatkan diri dari bencana.

Dirinya menjelaskan, melalui kegiatan tersebut diharapkan masyarakat yang berada di daerah rawan tsunami mempunyai pengetahuan terhadap upaya penyelamatan jika bencana itu terjadi di daerah ini.

Daerah pesisir pantai Sumbar dinilai paling berisiko terhadap bencana gelombang tsunami karena sebanyak 534.878 orang warga terdata bermukim pada zona merah tsunami di daerah itu.

Warga tersebut bermukim di zona merah tsunami di kawasan pesisir Kota Padang, Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Agam, Pasaman Barat dan Kepulauan Mentawai, kata Patra Rina Dewi.

Warga yang bermukim di zona merah tsunami itu terbesar di Kota Padang mencapai 380.402 orang, kemudian Pesisir Selatan (36.980), Pasaman Barat (29.649), Pariaman (25.029), Padang Pariaman (24.861), Agam (20.644) dan Kepulauan Mentawai (17.313).

Sumbar merupakan daerah dengan resiko dan potensi tsunami tinggi, berdasarkan sejarah dan hasil penelitian para ahli, katanya.

Dari penelitian diketahui bencana gelombang tsunami menghantam Pulau Sumatera setiap 200 tahun dan Sumbar mempunyai potensi risiko tinggi jika musibah itu terjadi.

Peneliti itu antara lain dilakukan Prof Kerry Sieh dan Dr Danny Natawidjaya, yang mengungkapkan bahwa Sumbar, terutama Kota Padang dalam sejarah telah dua kali dilanda gelombang tsunami, yakni pada tahun 1604 dan 1833.

Selain itu, majalah National Geographic Indonesia Edisi I juga menyebutkan Padang mempunyai potensi risiko tertinggi di dunia jika terjadi tsunami ditinjau dari jumlah penduduk yang berada di pesisir pantai.

Tingginya risiko ini disebabkan letak geografis daerah ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia dan dilalui lempeng Indo Australia-Eurasia yang aktif bergerak empat hingga enam centimeter per tahun.

Pergerakan lempeng itu jika bertumbukan atau mengalami patahan dapat memicu terjadinya gempa bumi yang berpotensi diikuti gelombang tsunami.

Meskipun tidak semua gempa menimbulkan tsunami, namun karena Padang dan Sumbar dilalui lempeng, maka gempa akan bisa dirasakan sehingga dapat menjadi peringatan dini akan terjadinya tsunami.

Tsunami didahului gempa yang disebabkan patahan atau tumbukan lempeng, jatuhnya benda langit atau kekuatan tektonik di daratan yang mempengaruhi gerakan lempeng di dasar laut.

Sedangkan tanda-tanda gempa berpotensi tsunami adalah yang menyebabkan manusia tidak bisa berdiri seimbang, robohnya bangunan dan getaran/goncangan terjadi lebih dari satu menit. (rusman/ant)


 

Arsip Berita