Sabtu, 26 Mei 2012
Update Perkembangan Gunung Sinabung
Jumat, 24 September 2010 15:12
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 24/9 (SIGAP) – Pasca letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara masih terus dipantau perkembangannya oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Berdasarkan laporan khusus BNPB yang diterima SIGAP, Jum’at siang (24/9) dilaporkan kejadian alam dan bencana di wilayah Indonesia yang terjadi sejak hari Kamis, 23 September 2010 pukul 08.00 WIB sampai dengan hari Jum’at, 24 September 2010 pukul 08.00 WIB yang diperoleh Pusdalops BNPB.

Hasil pemantauan aktivitas kegempaan Gunung Sinabung Kamis (23/9), adalah berikut, pada pukul 00.00-06.00 diinformasikan terjadi 3 kali gempa vulkanik, 12 kali gempa hembusan, dan 1 kali gempa tektonik jauh. Selanjutnya, cuaca mendung,angin lemah dari timur laut, gunung teramati, asap putih tipis ke barat, suhu di pos 19°C.

Sedangkan pada pukul 06.00-12.000 diinformasikan terjadi 2 kali gempa vulkanik, 8 kali gempa hembusan dan 1 kali gempa tektonik lokal. Cuaca pada saat itu mendung, angin lemah dari barat laut, gunung tertutup kabut.

Sementara pada pukul 12.00-18.00 dinformasikan terjadi 4 kali gempa vulkanik, 9 kali gempa hembusan dan 1 kali gempa tektonik jauh. Cuaca mendung, angin dari barat, gunung tertutup kabut, suhu di pos 19C, hujan pukul 14.51 – 15.36 WIB.

Laporan BNPB juga menyebutkan, hingga Kamis (23/9) pukul 17.55 WIB jumlah pengungsi sebanyak 23,497 jiwa, yang terdiri Kecamatan Kabanjahe sebanyak 14.013 jiwa, Pos Kecamatan Kabanjahe 1.494 jiwa, Kecamatan Tigabinanga 1.031 jiwa, Kecamatan Brastagi 2,775 jiwa, Kecamatan Tiganderket 434 jiwa, Kecamatan Munte 232 jiwa, Kecamatan Kutabuluh 1.615 jiwa, Kecamatan Merek 201 jiwa, dan Kabupaten Langkat 1.702 jiwa.

Berdasarkan laporan BNPB tersebut diinformasikan, tidak terdeteksi gas-gas yang berbahaya bagi kehidupan pada jarak sekitar 3 km dari puncak Gunung Sinabung.

Ancaman bahaya erupsi Gunung Sinabung berupa abu vulkanik yang menyebar tergantung arah dan kecepatan angin dan lontaran lava pijar dalam radius kurang dari 3 km dari titik erupsi.

BNPB juga menyebutkan aktifitas vulkanik Gunung Sinabung menunjukkan penurunan berdasarkan hasil pengamatan kegempaan, deformasi, dan konsentrasi SO2.

Berdasarkan data dan analisis data pengamatan diatas maka status Gunung Sinabung diturunkan dari status AWAS (Level IV) menjadi SIAGA (Level III) terhitung sejak 23 September 2010 pukul 03.50 WIB.

Jika terjadi perubahan peningkatan/penurunan aktifitas vulkanik Gunung Sinabung, serta pemahaman akan aktifitas Gunung Sinabung harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman erupsi Gunung Sinabung.

Terkait dengan kondisi terakhir, BNPB mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat dapat kembali ke rumah masing-masing dan melakukan kegiatan seperti biasa, serta jangan terpancing isu-isu yang tidak jelas sumbernya. Dan disarankan masyarakat agar mengikuti arahan dari BPBD/Pemkab Karo/Muspida Karo.

Jika ada isu yang berkembang, masyarakat agar menanyakan langsung kepada BPBD/Pemkab Karo atau Pos Pengamatan Vulkanologi.

Karena masih ada potensi erupsi freatik maka masyarakat agar tidak beraktifitas/bertempat tinggal pada radius 3,5 km dari titik erupsi.

Desa Suka Meriah, Desa Bekerah, dan Desa Simacem berada dalam radius 3,5 km dari titik erupsi, juga berada di mulut lembah, oleh karena itu ketiga desa tersebut sangat berbahaya jika kelak kemudian hari terjadi erupsi dan atau banjir lahar.

BNPB melaporkan, jangka pendek bila status Siaga 3, desa tersebut tidak layak huni karena terdapat ancaman bahaya erupsi Gunung Sinabung.

Dan jangka panjang perlu dilakukan relokasi pemukiman dari aktifitas penduduk ke-3 desa tersebut keluar dari radius 3,5 km dan jauh dari mulut lembah.

Pihak Daerah agar menyiapkan sarana komunikasi seluruh perangkat kerjanya untuk mempermudah dilakukannya koordinasi dalam mengantisipasi ancaman bahaya erupsi jika tiba-tiba terjadi situasi yang membuat panik masyarakat.

BPBD Provinsi dan Satlak PB setempat tetap siaga mengantisipasi jika sewaktu-waktu Gunung Sinabung meningkat kembali dari status SIAGA menjadi AWAS.

Dikabarkan, Pemkab Karo melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang ancaman bahaya erupsi Gunung Sinabung dan tata cara antisipasinya. Dan PVMBG akan selalu berkoordinasi dengan BPBD Provinsi dan Satlak PB Karo dalam memberikan informasi tentang aktifitas Gunung Sinabung.

Hingga kini berbagai upaya yang telah dilakukan BNPB. BNPB dan Pemerintah Provinsi Sumut beserta unsur Muspida Kabupaten Karo langsung turun ke lokasi bencana untuk Penanganan Darurat bencana letusan Gunung Sinabung.

BNPB melalui BPBD Provinsi dan Kabupaten beserta lintas sektor menghimbau kepada masyarakat di sekitar gunung Sinabung agar segera menghindari kemungkinan terjadinya bahaya sekunder berupa banjir lahar.

Kementerian PU melalui Dinas Cipta Karya mengirim bantuan diantaranya berupa 30 unit Hidran Umum, 10 unit WC, 6 unit truk tangki air, 2 dumptruck dan 1 IPA mobile kapasitas 900 liter/perjam.
Dinas Sosial Provinsi Sumut telah memberikan bantuan berupa kecap sebanyak 528 botol, minyak goreng sebanyak 360 kg, sardencis sebanyak 12.600 kaleng, selimut sebanyak 190 potong, tikar plastik sebanyak 240 lembar, sarung sebanyak 1.000 potong, kain panjang sebanyak 1.000 potong, kaos berkerah sebanyak 150 potong, daster dewasa sebanyak 1.500 potong, kemeja batik sebanyak 1.100 potong, kidware sebanyak 150 paket, dan tenda biru sebanyak 40 lembar.

BNPB dan Pemerintah Provinsi Sumut beserta unsur Muspida Kabupaten Karo langsung turun ke lokasi bencana untuk Penanganan Darurat bencana letusan Gunung Sinabung.

BNPB melalui BPBD Provinsi dan Kabupaten beserta lintas sektor menghimbau kepada masyarakat di sekitar  Gunung Sinabung agar segera menghindari kemungkinan terjadinya bahaya sekunder berupa banjir lahar.

Dilaporkankan, Kementerian Kesehatan telah melakukan Rapid Health Assesment (RHA), surveilence penyakit, pengamatan sanitasi lingkungan dan observasi kepadatan vector di lokasi pengungsi.
Dapur umum telah didirikan di 11 lokasi, yaitu 9 unit di Kecamatan Kabanjahe, 1 unit di Kecamatan Brastagi dan 1 unit di Kecamatan Munte.

Presiden RI melalui BNPB memberikan bantuan berupa selimut sebanyak 8.500 lembar, tikar sebanyak 1.000 lembar, tenda gulung sebanyak 500 lembar, mie instant sebanyak 3.000 kotak, susu Promina sebanyak 2.000 dus, bubur Promina sebanyak 3.000 dus, pakaian dalam wanita sebanyak 200 lusin, pembalut wanita sebanyak 500 dus, obat-obatan sebanyak 3.000 paket, minyak goreng sebanyak 600 liter, ikan asin sebanyak 120 kg, gula pasir sebanyak 850 kg, susu kental manis sebanyak 7.500 kaleng dan masker sebanyak 30.000 buah.

Pada Hari Senin Tanggal 6 September 2010 Presiden RI melakukan kunjungan ke lokasi pengungsi korban letusan G. Sinabung dan menyerahkan bantuan sejumlah Rp. 3.000.000.000; dengan rincian Rp. 1.000.000.000; dari Rumah Tangga Kepresidenan dan Rp. 2.000.000.000; dari Kementrian Sosial.
Sementara itu, Pemda Kabupaten Karo telah memperpanjang masa tanggap darurat hingga tanggal 24 September 2010.

Terakhir, Tim TRC BNPB membawa sample debu yang di keluarkan Gunung Sinabung untuk diteliti lebih lanjut.

Dilaporkan, saat ini kebutuhan mendesak yang dibutuhkan masyarakat adalah air bersih dan sanitasi berupa sarana MCK beserta manajemen pengelolaan sampah. (rusman/BNPB)





 

Arsip Berita