Sabtu, 26 Mei 2012
Kulon Progo: Sekitar 90 Hektare Tanaman Bawang Terendam Air
Jumat, 24 September 2010 06:55
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 24/9 (SIGAP) – Akibat hujan deras yang mengguyur daerah ini pada Kamis (23/9) malam, sekitar 90 hektare tanaman bawang merah di Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terendam air.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Padmo Sumitro, di Wates, Jumat (24/9) mengatakan, kalangan petani bawang merah diperkirakan mengalami kerugian sebanyak Rp3 miliar akibat tanamannya terendam air.

Dirinya mengatakan, umur bawang merah yang terendam air antara 35 hari hingga 40 hari. Modal yang dikeluarkan kalangan petani untuk menanam bawang merah sudah banyak sehingga dengan cuaca tidak menentu ini mereka mengalami kesulitan untuk mengembalikan modal.

"Setiap 1.000 meter persegi lahan menghabiskan benih sebanyak 125 kilogram yang harganya Rp20.000 per kilogram, sedangkan untuk pembelian pupuk dan obat-obatan setiap 1.000 meter persegi mencapai Rp2,5 juta. Tanaman bawang merah di Desa Srikayangan sudah lima kali terendam air. Namun kali ini yang terparah," katanya.

Terkait bencana ini, kalangan petani sudah mengerahkan 200 pompa air untuk membuang air ke saluran air yang sudah dimulai sejak Kamis (23/9) malam. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kerugian semakin meningkat. Menurut Padmo, meski sudah dilakukan pembuangan, air ternyata masih belum kering.

"Air masih susah dibuang karena saluran air tidak mampu menampung air dari sawah sehingga tanaman bawang masih terendam. Sebelum di pompa, ketinggian air mencapai 40 centimeter hingga 50 centimeter hingga parit tidak terlihat," katanya.

Padmo mengatakan, Pemerintah Desa Srikayangan sudah mengirimkan pompa air besar namun tidak bisa difungsingkan karena saluaran air sudah tidak mampu lagi menampung air. "Airnya akan dibuang kemana lagi, saluran sudah tidak bisa menampung air dan ada beberapa saluran yang tersumbat sampah sehingga menyebabkan air tidak mengalir," katanya.

Akibat bencana ini petani mengaku mengeluarkan dana yang cukup banyak untuk menanam komoditas ini. "Kami hanya bisa pasrah adanya kejadian ini. Tanaman yang bisa diselamatkan kemungkinan besar hanya 10 persen. Jika kondisi masih seperti ini, kami akan mencabuti bawang merah yang masih mudah dripada menderita kerugian yang semakin banyak," kata Minto Raharjo, salah satu petani di Desa Srikayangan.

Seperti  yang diberitakan SIGAP sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Yogyakarta, Drs Budi Waluyo Dipl Seis, Kamis (16/9) mengatakan, kondisi cuaca di DIY yang tidak menentu dalam beberapa minggu terakhir.  Hal ini menurutnya disebabkan gangguan cuaca seperti La Nina dan Madden-Julian Oscillation (MJO). Kondisi tersebut menjadikan curah hujan pada musim kemarau mengalami peningkatan cukup ekstrem.

Akibatnya tidak sedikit masyarakat awam yang beranggapan bahwa tahun ini, musim kemarau menghilang. Anggapan itu muncul karena musim kemarau yang biasanya selalu identik dengan kekeringan justru terjadi hujan dengan intensitas ringan sampai sedang.

”Selain musim kemarau tahun ini tergolong basah, adanya gangguan cuaca berupa La Nina dan MJO menjadikan hujan di DIY tergolong cukup ekstrem. Bahkan berdasarkan data yang kami miliki dalam sehari curah hujannya bisa mencapai 15 milimeter, padahal dalam kondisi normal hanya berkisar antara 2 sampai 4 milimeter. Karena perubahan cuaca yang terkadang sulit diprediksikan itu masyarakat khususnya petani harus lebih cermat,” kata Budi Waluyo.

Budi menambahkan, awal musim penghujan di DIY diprediksikan akan terjadi pada awal Oktober mendatang (sekitar minggu kedua). (rusman/ant)

 

Arsip Berita