Sabtu, 26 Mei 2012
DIY: Disbud Rintis Program Promosi Budaya Daerah
Rabu, 22 September 2010 04:26
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 22/9 (SIGAP) - Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta merintis program untuk mempromosikan budaya daerah di hotel berbintang, restoran, dan kafe di provinsi ini.

"Program tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)," kata Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY Djoko Dwiyanto, di Yogyakarta, Selasa (21/9).

Menurutnya, program tersebut direalisasikan dengan menggelar acara seni budaya di hotel berbintang, restoran dan kafe di DIY. Kegiatan itu akan dilaksanakan secara berkelanjutan.

"Program ini akan berlangsung sampai seluruh hotel berbintang, restoran, dan kafe di DIY mau dan mampu melaksanakan pertunjukan seni budaya sendiri," katanya.

Djoko mengatakan, setiap acara seni budaya yang ditampilkan untuk sementara masih didanai Disbud DIY. Acara yang dilaksanakan dimaksudkan untuk mengangkat potensi budaya daerah agar lebih dikenal oleh wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

"Acara seni budaya akan digelar selama dua hari untuk satu tempat dengan menampilkan sekitar delapan atraksi di setiap tempat," katanya.

Menurut Djoko, pihaknya sengaja memilih hotel berbintang, restoran, dan kafe karena sebelumnya sudah ada kesepakatan mengenai hal itu, namun belum terealisasikan sampai sekarang.

"Program itu sebagai upaya kami untuk mengingatkannya dengan difasilitasi terlebih dulu. Program itu merupakan kewajiban kami untuk selalu menyuguhkan variasi tontonan seni budaya di Yogyakarta," katanya.

Ketua PHRI DIY Istijab M Danunagoro mengatakan, program yang dicanangkan Disbud DIY cukup baik untuk merangsang pemilik hotel dan restoran bersedia menggelar acara yang bernuansa tradisi Yogyakarta.

Hal itu, menurutnya, juga dapat memperkaya atraksi yang dapat dinikmati oleh wisatawan, karena Yogyakarta sudah menjadi daerah tujuan wisata kedua setelah Bali.

"Oleh karena itu, Yogyakarta memang memerlukan kegiatan yang bersifat budaya untuk dapat meningkatkan angka rata-rata menginap wisatawan khususnya wisatawan mancanegara," katanya.

Dirinya mengatakan kegiatan seni budaya diharapkan akan terus ada dan tidak hanya diadakan saat musim liburan. Jika memungkinkan, atraksi semacam itu dapat menjadi agenda tetap yang bisa dinikmati wisatawan.

"Kegiatan seni budaya memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tetapi jika kami tidak mulai memperkenalkan budaya Yogyakarta dari sekarang, kapan lagi kami bisa mewujudkannya," katanya.

Dalam catatan SIGAP, tingkat penghunian kamar hotel berbintang di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada Maret mencapai 51,8% atau naik 14,63% dibanding dengan bulan sebelumnya yang mencapai 45,19%.

"Sedangkan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel melati dan akomodasi lain mengalami kenaikan sebesar 5,97% atau dari 29,3% pada Februari menjadi 31,05% pada Maret," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Suharno, beberapa waktu lalu pada mediaindonesia.

Menurut Suharno, dari survei yang dilakukan BPS DIY rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang mengalami kenaikan sebesar 0,13 malam. "Rata-rata lama menginap tamu di seluruh hotel berbintang di DIY tercatat 1,74 malam, sedangkan bulan sebelumnya tercatat 1,61 malam dengan rata-rata menginap terlama dialami hotel bintang satu yang mencapai 2,03 malam sementara terendah 1,47 malam pada hotel bintang dua," katanya. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita