Sabtu, 26 Mei 2012
Pakar: Kelapa Sawit Lumbung Devisa Indonesia
Selasa, 21 September 2010 03:16
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 21/9 (SIGAP) - Prof Dr Erliza Hambali MSi, pakar pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan, kelapa sawit merupakan penggerak perekonomian dan menjadi salah satu lumbung devisa Indonesia.

Hal ini disampaikannya pada orasi ilmiah bertema "Peran Teknologi Proses Agroindustri dalam Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit" di hadapan senat akademik IPB di kampus IPB Darmaga Bogor, Sabtu (19/9), yang menghantarkannya menjadi guru besar tetap Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB.

Prof Erliza Hambali menyampaikan orasi ilmiah bersama dengan dua guru besar lain yaitu Prof Dr Sumardjo MS sebagai guru besar tetap Fakultas Ekologi Manusia serta Prof Dr Ary Purbayanto MSc sebagai guru besar tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Menurut Prof Erliza Hambali, industri kelapa sawit dapat diandalkan sebagai penggerak perekonomian nasional dan mampu menghasilkan devisa dalam jumlah besar.

Merujuk pada data yang dikeluarkan Kadin, proteksi devisa nasional 2010 dari industri CPO mencapai 14 miliar dolar AS.

Prof Erliza mengemukakan, pendapatan devisa dari CPO sebesar 14 miliar dolar AS dapat ditingkatkan lagi melalui pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit (IHKS).

Dengan pengembangan IHKS, nilai tambah produk kelapa sawit di Indonesia dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya baik untuk peningkatan devisa negara maupun kesejahteraan masyarakat.

Dikatakannya hingga kini Indonesia merupakan negara produser CPO terbesar di dunia. Predikat sebagai produser CPO terbesar dunia telah disandang Indonesia sejak 2006.

Menurutnya, keunggulan yang dimiliki Indonesia di sub sektor kelapa sawit perlu terus dipertahankan dan dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dirinya meyakini pengembangan IHKS dapat menjadi kunci penting dalam perekonomian nasional ke depan, khususnya untuk penyedia kebutuhan pokok masyarakat dan bahan baku industri, penghasil devisa, penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah kelapa sawit serta peningkatan ketahanan pangan dan energi nasional.

Berdasarkan catatan SIGAP, kelapa sawit merupakan tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

Sejarahnya, kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an.

Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad 19. Kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".

Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt.

Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 hektare. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai Avros), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912.

Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.

Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).

Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.

Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12 meter, dan merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika. (rusman/ant/wiki)


 

Arsip Berita