Sabtu, 26 Mei 2012
FKH UGM: Peminat Fakultas Kedokteran Hewan Naik
Selasa, 21 September 2010 02:21
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 21/9 (SIGAP) - Minat masyarakat untuk menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta meningkat dalam waktu 3 tahun terakhir. 

Demikan disampaikan Dekan FKH UGM Prof Dr Bambang Sumiarto dalam pidato peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-64 FKH UGM, di Yogyakarta, Senin (21/9). Dipaparkannya, pada 2008 sebanyak 1.215 orang, sementara pada 2009 meningkat menjadi 1.502 orang, dan meningkat lagi menjadi 2.031 orang pada 2010.

Kondisi eningkatan jumlah peminat tersebut, kata Bambang memungkinkan FKH UGM untuk memilih calon mahasiswa dengan kualitas yang lebih baik.

Djelaskan Bambang, peningkatan jumlah peminat itu terutama karena gencarnya sosialisasi mengenai program studi di FKH UGM ke berbagai sekolah di Indonesia.

Pada kesempatan itu dirinya mengatakan, memasuki usianya yang ke-64 tahun, FKH UGM terus bertekad mewujudkan visinya menjadi fakultas kedokteran hewan terkemuka di tingkat nasional dan internasional dengan mengutamakan profesionalisme, serta meningkatkan kesejahteraan manusia melalui bidang veteriner.

"Salah satu upaya untuk mewujudkan visi tersebut adalah dengan meningkatkan jumlah tenaga pendidik bergelar doktor," katanya.

Menurutnya, sampai dengan akhir Juli 2010 FKH UGM telah memiliki 43 tenaga pendidik bergelar doktor, atau 52,4% dari seluruh tenaga pendidik yang saat ini sebanyak 82 orang. "Dari jumlah tersebut, 11 orang di antaranya merupakan guru besar," katanya.

Bambang mengatakan untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik, pada 2010 FKH UGM menyediakan berbagai skema pendanaan penelitian melalui bantuan publikasi maupun presentasi penelitian di dalam dan luar negeri.

"Sampai akhir Juli 2010 FKH UGM telah merealisasikan dana penelitian sebesar Rp175 juta untuk 21 judul penelitian," katanya.

Selain itu, kata Bambang, FKH UGM juga sedang memperluas jaringan kerja sama internasional dengan beberapa universitas yang memiliki fakultas kedokteran hewan.

"Universitas itu di antaranya Veterinary School The University of Queenslnd Australia, School of Veterinary Medicine Hokaido University Jepang, dan Universiti Putra Malaysia," katanya.

Berdasarkan catatan SIGAP, jumlah dokter hewan di Indonesia masih relatif kurang. Tercatat saat ini jumlahnya hanya 14.000 orang, sementara jumlah populasi ternak sekitar 28 juta. Artinya, setiap dokter harus melayani 2.000 ekor hewan, padahal idealnya satu dokter hanya merawat 70 ekor hewan.

Seperti diketahui, tenaga dokter hewan dihasilkan dengan sebuah pendidikan yang meliputi pendidikan jenjang sarjana (strata 1) selama 4 tahun, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan profesi dokter hewan (PPDH) dengan masa studi 15 sampai dengan 20 bulan.

Barulah setelah berhasil melalui kedua jenjang tersebut, mahasiswa diwisuda menjadi seorang dokter hewan. Hingga tahun 2010, hanya ada 5 Fakultas Kedokteran Hewan yang telah meluluskan dokter hewan, yakni Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syah Kuala (Nanggroe Aceh Darussalam), Institut Pertanian Bogor (Bogor), Universitas Gadjah Mada (Jogjakarta), Universitas Airlangga (Surabaya), dan Universitas Udayana (Bali). Dari total 5 FKH tersebut tidak lebih dari 1.000 orang tiap tahunnya dokter hewan yang diluluskan.

Prof Dr Bambang Sumiarto kepada matanews.com mengatakan, hingga 2020, Indonesia masih membutuhkan 9000 orang dokter hewan dari total kebutuhan 20.000 orang dokter hewan. Padahal setiap tahunnya tidak sampai 1.000 orang dokter hewan yang diluluskan oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki fakultas kedokteran hewan.

Sejak 2008 sudah ada beberapa perguruan tinggi yang membuka baik itu fakultas kedokteran hewan (FKH) ataupun program kedokteran hewan (PKH) baru selain 5 FKH tersebut. Ada PKH Universitas Brawijaya (Malang), FKH Universitas Mataram, FKH Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, dan baru-baru ini FKH Universitas Hasanuddin. Namun FKH dan PKH baru tersebut belum meluluskan dokter hewan.

Akibatnya, perbandingan antara jumlah dokter hewan dengan kebutuhan masih sangat kurang. Lebih parahnya lagi banyak pos yang seharusnya diisi tenaga dokter hewan tetapi diisi tenaga lain yang bukan ahlinya. Akibatnya pemberantasan penyakit menular menjadi tidak efisien.

Di beberapa daerah yang seharusnya diperiksa dokter hewan tidak diperiksa sehingga pemberantasan penyakit menular tidak efektif mengingat fungsi dan tugas utama dokter hewan adalah memberantas penyakit menular, mengembangkan peternakan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat veteriner. (rusman/ant)

 

Arsip Berita