Sabtu, 26 Mei 2012
Delapan Rumah Roboh Akibat Banjir Bandang
Senin, 20 September 2010 08:36
AddThis Social Bookmark Button

Jakata, 20/9 (SIGAP) - Sedikitnya 8 rumah di Desa Jeruklegi Wetan dan Prapagan, Kecamatan Jeruklegi, Cilacap, Jawa Tengah, roboh akibat banjir bandang yang terjadi Senin dinihari. Berdasarkan data sementara yang dihimpun dari Posko Bencana Alam di Kantor Kecamatan Jeruklegi, Senin (20/9) pagi, rumah roboh di Desa Jeruklegi Wetan sebanyak 5 unit dan di Desa Prapagan 3 unit.

Data itu juga menyebutkan, di Desa Prapagan juga terdapat 23 rumah yang rusak serta 112 kepala keluarga yang rumahnya kebanjiran. Peristiwa ini mengakibatkan 448 warga Desa Jeruklegi Wetan mengungsi, sedangkan di Prapagan dan Brebek belum terpantau," kata seorang petugas di kecamatan itu.

Banjir bandang tersebut juga menghancurkan sebuah mobil bak terbuka di Desa Jeruklegi Wetan serta menghanyutkan empat ekor kambing serta seekor sapi di Desa Prapagan.  Banjir bandang tersebut akibat meluapnya Sungai Jambu yang merupakan anak sungai Bengawan Donan setelah wilayah ini diguyur hujan deras sejak Minggu (19/9) malam.

Ketinggian air akibat luapan air sungai tersebut di sejumlah titik mencapai 1,5 meter sehingga mengakibatkan lalu lintas dari arah Cilacap menuju Wangon dan sebaliknya macet total. Arus lalu lintas kembali lancar sejak pukul 06.00 WIB meskipun masih ada sedikit genangan air di sejumlah titik.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap telah memberi bantuan bahan makanan sehingga pihaknya dapat membuka dapur umum di Dusun Warnasari, Desa Jeruklegi Wetan. Banjir juga menggenangi sejumlah desa di Kecamatan Kawunganten dan Bantarsari.

Menanggapi bencana tersebut, Faisal Haq, pemerhati lingkungan, mengaku prihatin. “Banjir bandang  yang terjadi seharusnya menjadi pelajaran. Karena bencana tersebut bukan hanya satu-dua kali terjadi,” katanya kepada SIGAP, Senin (20/9).

Pelajaran itu maksudnya, ungkap alumnus Universitas Gajah Mada (UGM)  Yogyakarta, semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah setempat menyadari pentingnya menjaga lingkungan hidup. “Faktanya, aktivitas perusakan Daerah Aliran Sungai  (DAS)dan hutan terjadi di mana-mana tanpa disertai revitalisasi DAS maupun penanaman kembali hutan yang telah gundul,” katanya.

Sejatinya, lanjut Faisal Haq, pemerintah setempat membuat kebijakan tentang rehabilatasi DAS maupun areal hutan yang gundul. “Program pendidikan lingkungan hidup perlu digagas,digulirkan, dan disosialisasikan  kepada segenap lapisan masyarakat,” katanya. (laporan Sofyan Badrie/ ant)

 

Arsip Berita