Sabtu, 26 Mei 2012
KRUS: Akan Bangun Pulau Khusus Untuk Orang Utan
Senin, 20 September 2010 03:12
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 20/9 (SIGAP) - Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda (KRUS), Kalimantan Timur, Syarif Efendi, di Samarinda, Minggu (19/9) mengatakan KRUS akan membangun kawasan konservasi berupa sebuah pulau tersendiri untuk menjadi habitat khusus habitat orang utan.

Menurut Syarif Efendi, rencana pembangunan pulau orang utan itu telah diajukan ke Meteri Kehutanan. "Tinggal menunggu persetujuan pemerintah sebab sudah ada lembaga asing yang akan membantu pembiayaan program dan proyek ini," ungkapnya.

Rencananya, pulau orang utan seluas 2 hingga 3 hektare itu akan dibuat di dalam kawasan KRUS. Konsepnya disusun oleh sebuah LSM dari Inggris sekaligus akan membiayai pembangunan kawasan itu.

Dikatakan Syarif Efendi, pulau orang utan tersebut akan didesain sesuai habitat asli orang utan dan aman dari kontak dengan manusia.

"Habitat orang utan memiliki karakter tersendiri sehingga harus dibuat sedemikian rupa agar satwa langka ini dapat hidup seperti di alam bebas. Pulau itu akan dikelilingi danau sehingga tidak terjadi kontak langsung dengan manusia," kata Syarif Efendi.

Populasi orang utan yang ada di KRUS saat ini hanya 6 ekor. Orang utan itu merupakan sumbangan dari beberapa pihak.

"Kami (KRUS) hanya merawat orang utan itu dan bukan sebagai tempat perkembangbiakan," katanya.

Jika pulau orang utan itu selesai dibangun, maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi tempat penangkaran sehingga populasi orang utan akan berkembang

Selain orang utan, sarana rekreasi seluas 300 hektare yang berada di Kota Samarinda itu juga merawat 24 jenis hewan, 5 di antaranya merupakan jenis yang dilindungi seperti beruang madu dan beberapa jenis unggas.

KRUS yang luasnya 300 hektare dibagi 3 area, yakni arena rekreasi seluas 65 hektare, kebun raya seluas 100 hektare dan zona konservasi 135 hektare.

Orang utan atauu mawas adalah sejenis kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan atau coklat, yang hidup di hutan tropika Indonesia dan Malaysia, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatera.

Berdasarkan catatan, orang utan mencakup dua species, yaitu orang utan sumatera (Pongo abelii) dan orang utan kalimantan (borneo) (Pongo pygmaeus). Uniknya, orang utan memiliki kekerabatan dekat dengan manusia pada tingkat kingdom animalia, dimana orang utan memiliki tingkat kesamaan deoxyribonucleic acid (DNA) sebesar 96.4%.

Orang utan memiliki tubuh yang gemuk dan besar, berleher besar, lengan yang panjang dan kuat, kaki yang pendek dan tertunduk, dan tidak mempunyai ekor . Orang utan memiliki tinggi sekitar 1.25-1.5 meter.

Menurut laman World Wildlife Fund  (WWF), jumlah populasi orangutan liar telah menurun secara kontinyu dalam beberapa dekade terakhir akibat semakin berkurangnya hutan-hutan dataran rendah dan dalam beberapa tahun belakangan ini. Penurunan populasi yang terjadi cenderung semakin cepat. Masih terjadinya perburuan dan perdagangan orangutan, termasuk untuk diselundupkan ke luar negeri juga memberikan kontribusi terhadap penurunan populasi orangutan liar di alam. Hilangnya habitat dan perburuan serta perdagangan masih merupakan ancaman utama terhadap keberlangsungan hidup orangutan di Indonesia. 

Pemerintah Indonesia sudah melakukan berbagai upaya untuk melestarikan orangutan dan habitatnya dengan mengeluarkan berbagai peraturan perundangan  serta mengembangkan berbagai program kemitraan dengan sektor lain dan pemangku kepentingan lainnya.
Bersama dengan seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk para ahli orangutan nasional maupun internasional, pemerintah juga telah menyusun Strategi dan

Rencana Aksi Konservasi Orangutan 2008 – 2017 untuk mendukung upaya konservasi orangutan.
Dimasa mendatang, sektor industri kehutanan seperti HPH, sawit dan  hutan tanaman diharapkan dapat berperan lebih banyak untuk mendukung upaya konservasi orangutan yang terdapat di area konsesi mereka.

Perubahan iklim di masa mendatang, diperkirakan akan menjadi ancaman serius terhadap konservasi orangutan,  terutama pada aspek ketersediaan sumber pakan akibat terganggunya sistim perbungaan dan perbuahan pohon yang menjadi sumber pakannya karena adannya  kenaikan suhu dan curah hujan. Ancaman lain adalah hilang serta rusaknya habitat akibat terjadinya  kebakaran hutan yang dipicu oleh gejala perubahan iklim.

Orangutan harus dijaga kelestariannya dan dapat dipertahankan keberlangsungan hidupnya dalam waktu yang  panjang karena primata frugivora (pemakan buah, termasuk daun dan kambium) ini memiliki peranan sangat penting dalam  menjamin kelestarian hutan yang menjadi habitatnya. Banyak jenis pohon buah di hutan yang penyebarannya sangat tergantung kepada primata langka ini dan diketahui hingga saat ini lebih  terdapat lebih dari 1000 jenis tanaman, hewan kecil dan jamur yang menjadi pakan orangutan.

Kelestarian orangutan hanya bisa dicapai jika terdapat  dukungan sungguh-sungguh dan optimal dari seluruh pihak yang berkepentingan terhadap kelestarian satwa ‘flagship’ ini dengan  didasari  pemahaman bersama yang jelas tentang makna dan fungi kelestarian orangutan di habitat alaminya. (rusman/ant)

 

Arsip Berita