Sabtu, 26 Mei 2012
Ekspor Bali ke AS Capai 58,3 Juta Dollar
Minggu, 19 September 2010 06:20
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 19/9 (SIGAP) – Kepala Seksi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Putu Bagiada SE di Denpasar Sabtu (18/9) mengatakan, realisasi ekspor aneka barang industri kecil dan kerajinan, hasil pertanian, perkebunan dan perikanan Bali ke Amerika Serikat selama Januari-Juli 2010 seluruhnya berrnilai 58,3 juta dolar AS.

Perolehan devisa itu naik 6,25% dibandingkan periode sama 2009 hanya 54,9 juta dolar AS, demikian dijelaskan Putu Bagiada SE.

Walau perekonomian negeri adidaya itu diperkirakan tumbuh hanya 2,9% tahun 2010 dan pemulihan ekonomi lamban, tetapi konsumen AS masih menjadi pembeli terbesar aneka barang kerajinan masyarakat Bali.

Importir Paman Sam umumnya membeli aneka kerajinan berupa patung kayu jenis kontemporer karena harga terjangkau dan kualitas yang disuguhkan setimpal.

Pakaian jadi juga banyak dikapalkan ke negeri itu, di samping hasil perkebunan berupa vanili, sebagai bahan baku makanan ringan, serta ikan jenis tuna segar dan sudah dibekukan, memperbesar perolehan devisa dari AS.

Peranan konsumen AS dalam membeli aneka barang kerajinan dan nonmigas Bali tidak kurang dari 18 persen dari total ekspor 320,2 juta dolar periode tujuh bulan I-2010, ujar Putu Bagiada.

Pembeli aneka barang kerajinan bernilai seni buatan masyarakat Bali setelah AS adalah konsumen Jepang dengan membeli seluruhnya seharga 54 juta dolar selama Januari-Juli 2010.

Sementara  Perancis menjadi pembeli terbesar ketiga dengan 30,1 juta dolar, disusul Italia yang terkenal menginginkan aneka barang seni jenis antik berada diurutan empat dengan mengeluarkan devisa 20,8 juta dolar.

Berdasarkan catatan SIGAP, perekonomian Bali mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan berkat semakin baiknya perkembangan sektor pariwisata dan berkurangnya tekanan krisis ekonomi global.

Sebelumnya Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Ida Komang Wisnu, Mei lalu mengatakan, pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 1,19% selama triwulan pertama 2010.

Dijelaskan lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi yang cukup menggembirakan itu didorong oleh seluruh sektor perekonomian di luar sektor jasa.

Hanya sektor jasa yang mengalami kontraksi sebesar 1,07%. Hal itu akibat menurunnya sumbangan jasa dari sektor pemerintahan.

Penyerapan anggaran pada awal tahun 2010 masih sangat rendah dibanding akhir tahun 2009 (triwulan IV) menjadi salah satu penyebab terjadinya kontraksi.

Pertumbuhan ekonomi Bali selama 2009 menurut Kabag Publikasi dan Dokumentasi Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng sebesar 5,33% diharapkan semakin membaik dalam tahun 2010.

Membaiknya pertumbuhan ekonomi Bali menjadi salah satu indikator semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pulau Dewata.

Struktur ekonomi Bali tersebut masih didominasi sektor tersier sebesar 65,58%, menyusul sektor primer 18,86% dan sektor sekunder 15,56%.

Sektor pertanian hanya memberikan andil sebesar 18,21%, pertambangan dan penggalian 0,65%, sektor industri pengolahan 9,16%, serta listrik, gas dan air bersih 2%.

Selain itu sektor bangunan 4,4%, perdagangan, hotel dan restoran 30%, angkutan dan komunikasi 13,76%, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 7,11% dan sektor jasa-jasa lainnya 14,72%.

Ketut Teneng menjelaskan, produk domestik regional bruto (PDRB) Bali atas dasar harga berlaku mencapai Rp57,579 miliar selama 2009, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya Rp49,922 triliun.

PDRB perkapita mengalami peningkatan dari Rp14,2 juta pada tahun 2008 menjadi Rp16,21 juta pada akhir 2009.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika bertekad meningkatkan perdapatan perkapita masyarakat Bali sebesar dua kali lipat pada tahun 2013 atau menjadi sebesar Rp22,5 juta.

Tekad tersebut didasarkan atas kenyataan, banyak potensi Bali belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal sangat berpeluang untuk dalam mengangkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Bali, ujar Ketut Teneng. (rusman/ant)

 

Arsip Berita