Sabtu, 26 Mei 2012
Setidaknya 418 Titik Api Terdeteksi di Aceh
Sabtu, 18 September 2010 15:07
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 18/9 (SIGAP) - Manajer Advokasi, Riset, dan Media Pusat Studi Lingkungan dan Masyarakat Adat (Puslima) M Oki Kurniawan di Banda Aceh, Sabtu (18/9) mengatakan sedikitnya 418 titik api atau "hot spot" terdeteksi di 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh sejak Januari hingga 16 September 2010.

Oki Kurniawan menambahkan, dari seluruh titik api tersebut, 20 titik di antaranya berada di kawasan hutan dan 398 titik di luar areal hutan.

"Ratusan titik api tersebut terdeteksi berdasarkan olah data laporan satelit Terra dan Aqua milik National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan antariksa Amerika Serikat," katanya.

Dirinya menyebutkan, titik api terbanyak terdeteksi di Kabupaten Aceh Barat yakni 109 titik yang seluruhnya berada di luar kawasan hutan.

Secara keseluruhan, titik api terbanyak terjadi pada Mei 2010, dengan jumlah 99 titik, sebanyak 98 titik di antaranya di luar areal hutan dan satu titik di kawasan hutan yang terdeteksi di Kabupaten Bireuen.
Oki Kurniawan menyebutkan, titik api yang terjadi pada Mei 2010 tersebut terbanyak di Kabupaten Aceh Barat yakni 25 titik, Kabupaten Nagan Raya 22 titik, dan Kabupaten Aceh Singkil mencapai 19 titik api.

"Titik api yang terdeteksi pada September ini mencapai 61 titik, di antaranya 60 titik di luar areal hutan dan satu titik di kawasan hutan. Titik api di kawasan hutan ini terdeteksi di Kabupaten Gayo Lues," katanya.

Selain itu, kata Oki Kurniawan, titik api yang terdeteksi di Provinsi Aceh dalam rentang waktu empat tahun terakhir mencapai 2.445 titik. Titik terbanyak terjadi pada 2009 mencapai 1.060 titik, di antaranya di kawasan hutan 58 titik dan di luar kawasan hutan 1.002 titik.

Pada 2007 hanya 421 titik, di antaranya 89 titik di kawasan hutan dan 332 titik di luar areal hutan. Sementara, pada 2008 terdeteksi 546 titik, di antaranya 499 titik api di luar areal hutan dan 47 titik di kawasan hutan.

Menurut M Oki Kurniawan, titik api yang terdeteksi tersebut bisa dikatakan kebakaran, baik di kawasan hutan maupun di luar areal hutan, baik hutan lindung, hutan konversi maupun hutan produksi.
Dirinya menambahkan, kebakaran ini disebabkan beberapa faktor seperti pembersihan lahan atau "land clearing" dengan cara membakar untuk perkebunan dan pertanian.

"Pembersihan lahan dengan cara membakar bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup. Tindakan ini masuk unsur pidana," katanya.

Sebelumnya, seperti yang dilansir mediaindonesia.com, Kepala Staf Analisa Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Pekanbaru Marzuki mengatakan, berdasarkan pantauan satelit National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA) sejumlah titik api bermunculan di hutan Sumatera.

"Terdapat setidaknya 48 titik api di Sumatera saat ini, sebagian besar terdapat di Sumatera Selatan dan Jambi masing-masing 20 titik sedangkan di Riau delapan titik api," ujar Marzuki di pekanbaru, Rabu (15/9) lalu.

Delapan titik api di Riau tersebut tersebar di Rokan Hilir sebanyak lima titik api, Bengkalis satu titik dan Pelalawan dua titik api.

"Titik api tersebut muncul disebabkan cuaca di Riau yang saat ini cenderung panas yakni rata-rata 34,3 derajat Celcius," katanya.

Untuk beberapa hari ke depan, diprediksi titik api akan bertambah karena intensitas hujan yang sedikit.

"Memang terjadi hujan tetapi tidak merata di seluruh Riau dan terjadi tanpa bisa diprediksi," jelasnya

Hujan, lanjutnya, lebih banyak terjadi di wilayah Riau bagian barat seperti Kampar, Rokan Hulu dan Kuantan Singingi. Oleh karena itu, ia mengimbau pemudik yang berasal dari Sumatera Barat untuk berhati-hati karena sewaktu-waktu hujan turun dan menyebabkan longsor di wilayah tersebut.

"Daerah rawan longsor terutama di perbatasan Riau dan Sumatera Barat yang banyak terdapat tebing," katanya. (rusman/ant)

 

Arsip Berita