Sabtu, 26 Mei 2012
NTB: Masyarakat Bertanya, Menkes Menjawab
Sabtu, 18 September 2010 02:08
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 18/9 (SIGAP) - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih melalui "obrolan bareng" yang digelar di Mataram Mall, Jumat (17/9) malam berhasil menyerap berbagai aspirasi dari masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Kegiatan obrolan bareng yang berlangsung pukul 20.00-22.00 WITA tersebut merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan refleksi 2 hun kepemimpinan pasangan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) HM Zainul Majdi dan Wakil Gubernur H Badul Munir atau yang disebut dengan pasangan "Baru".

Sejumlah pertanyaan bergulir dalam ”obrolan bareng” tesebut, seperti upaya pemerintah dalam mengatasi berbagai persoalan kesehatan, diantaranya menyangkut upaya pemerintah dalam menekan angka kasus anak yang kurang gizi, kematian ibu melahirkan, jaminan kesehatan bagi warga miskin dan beberapa masalah seputar kesehatan lainnya.

Dlalam kesempatan itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, kasus gizi kurang yang terjadi pada anak-anak kemungkinan disebabkan karena mereka kurang memperoleh pangan yang memenuhi standar gizi.

Kondisi itu tentunya tidak saja tanggung jawab dari Dinas Kesehatan, melainkan tugas dari Dinas Pertanian dan lembaga lain yang terkait dalam hal itu.

"Kasus gizi kurang pada anak mungkin juga disebabkan karena anak sering sakit. Kalau sudah kondisinya seperti itu, dinas kesehatan yang harus pro aktif untuk melakukan tindakan perawatan," katanya.

Sementara mengenai kematian ibu melahirkan, kata Menkes, pihaknya memang berupaya agar masalah itu bisa ditekan dengan cara memberikan kemudahan bagi ibu hamil untuk melahirkan secara gratis di pusat-pusat kesehatan milik pemerintah.

Menkes Endang Rahayu, yang didampingi oleh Gubernur NTB HM Zainul Majdi dan Ketua DPRD NTB, H Lalu Sujirman, menambahkan persoalan jaminan kesehatan bagi warga kurang mampu merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

"Pemerintah sudah menjamin hak dari setiap warga miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan secara gratis di seluruh pusat-pusat kesehatan milik pemerintah mulai dari puskesmas di desa hingga rumah sakit," katanya.

Sementara itu, Gubernur NTB HM Zainul Majdi menjelaskan, pihaknya sudah menjalankan program bebas biaya melahirkan. Program yang menyentuh seluruh elemen masyarakat tersebut sudah berjalan sejak 2009 lalu.

Sementara program jaminan kesehatan masyarakat juga sudah berjalan dan ditangani oleh Badan Pelaksana Jaminan Kesehatan Masyarakat (JPKM) yang sudah dibentuk.

"Pemerintah daerah sudah berupaya memberikan yang terbaik bagi masyarakat seperti gratis biaya persalinan. Tapi jangan ramai-ramai hamil. Bisa repot bagi NTB nantinya," ujar Zainul Majdi disambut tawa hadirin.

Berdasarkan catatan SIGAP, masalah kesehatan yang terkait gizi di Indonesia semakin kompleks dalam beberapa dekade mendatang. Pasalnya, Indonesia masih memerlukan waktu panjang untuk mengatasi kemiskinan yang erat kaitannya dengan kekurangan gizi (undernutrition).

Hingga saat ini Indonesia masih menghadapi masalah gizi kurang seperti Kurang Energi Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), Anemia Gizi Besi (AGB) dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).

Di sisi lain, prevalensi gizi lebih (overnutrition) dengan segala implikasinya pada kesehatan dari waktu ke waktu cenderung meningkat seiring dengan derasnya arus global yang mempengaruhi budaya dan pola makan masyarakat Indonesia.

Munculnya kasus gizi buruk NTB dan beberapa daerah lain di Indonesia pada pertengahan tahun 2005 lalu sangat menggemparkan segenap elemen masyarakat, meskipun hal tersebut bukan merupakan hal baru di Indonesia. Gizi buruk ini merupakan bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun serta tingginya kejadian infeksi.

Semua masalah gizi tersebut berpengaruh terhadap pembentukan kualitas sumber daya manusia sebagai aset penting dalam pembangunan, demikian catatan para ahli gizi di NTB.

Masalah gizi klinis sebagai masalah gizi yang ditinjau secara individual mengenai apa yang terjadi dalam tubuh seseorang dan memerlukan penanganan secara individual juga semakin beragam dan kompleks.

Adanya kecenderungan peningkatan kasus penyakit yang terkait gizi pada semua kelompok rentan dari ibu hamil bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa dan usia lanjut menunjukkan semakin dirasakan perlunya penanganan secara khusus. Semua ini memerlukan pelayanan gizi yang bermutu yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan status gizi yang optimal sehingga tidak terjadi kurang gizi serta untuk menunjang mempercepat penyembuhan. (rusman/ant)

 

Arsip Berita