Sabtu, 26 Mei 2012
Kadin Makassar Beri Pelatihan Bagi UMKM
Jumat, 17 September 2010 06:23
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 17/9 (SIGAP) - Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Makassar memberikan pelatihan bagi pemilik Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah tersebut.

Ketua Kadin Makassar, Amrullah, di Makassar, Jumat (17/9) mengatakan, pelatihan yang diberikan akan langsung difasilitasi oleh pengusaha dari Jepang sebanyak 6 orang.

"Jika memang kondisinya mendukung, pelatihan bagi pemilik UMKM ini bahkan bisa langsung dilakukan di Jepang," tuturnya.

Amrullah memilih Jepang sebagai fasilitator, sekaligus negara tujuan pelatihan karena negara ini mampu bangkit dari keterpurukan dengan mengandalkan sektor UMKM.

"Pasca perang dunia kedua, kondisi ekonomi Jepang sangat terpuruk. Akan tetapi saat ini bisa menjadi negara besar yang perekonomiannya sangat maju," ucapnya. Hal tersebut, kata Amrullah, patut menjadi contoh bagi Indonesia, khususnya Makassar untuk bisa meningkatkan pertumbuhan ekonominya.

"Pada dasarnya program pelatihan ini sudah kami lakukan di seluruh kecamatan di Kota Makassar, dan sampai saat ini kami masih tetap melanjutkannya," ujarnya.

Amrullah mengatakan, di Kota Makassar sangat banyak pemilik UMKM yang pada dasarnya berpotensi besar untuk berkembang menjadi pengusaha. Hanya saja, katanya, tidak diimbangi dengan pengetahuan mengenai managemen bisnis yang baik, sehingga tidak bertahan lama. Karena itulah, selain memberikan pelatihan, Kadin Makassar juga memberikan bantuan perkreditan untuk pemilik UMKM.

"Mengenai besarnya, tergantung dari jenis usaha dari setiap pemilik UMKM," tuturnya. Dengan program pelatihan dan bantuan kredit ini, diharapkan agar seluruh UMKM di Kota Makassar dapat tumbuh dan berkembang sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi.

Sebelumnya, peneliti ilmu koperasi yang juga dosen Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), Dr. H. Sugiyanto, M.Sc mengatakan selama ini pelatihan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) oleh pemerintah atau lembaga-lembaga asing semakin intensif. Namun umumnya hasil pelatihan tersebut belum maksimal, bahkan nol besar, terutama dalam hal pembinaan dan pendekatan yang digunakan.

Jika kondisi itu terus dibiarkan, katanya, hasil pelatihan tersebut sama sekali tidak akan bermanfaat bagi pelaku UMKM. Selama ini seluruh UMKM cenderung disamaratakan, dikumpulkan, lalu diberi training secara umum dan menyeluruh. Padahal tidak semua UMKM memiliki problematika yang sama.

"Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus lebih fokus, kasus per kasus, mendudukkan masing-masing UMKM secara spesifik, membuat analisis problematika, kemudian baru mengeluarkan resep," ujarnya seperti dilansir galamediaonline, Juli lalu.

Dirinya menjelaskan, pelatihan akan sangat baik bagi para pelaku UMKM. Tapi lebih efektif bila mengembangkan UMKM dengan pendekatan standardisasi, kemudian baru disuntik dengan permodalan, mengingat kelemahan UMKM yang paling menonjol selama ini adalah "presisi".

"Dari semua persoalan yang kerap dihadapi UMKM tentunya harus diaplikasikan dalam realitas, bukan sekadar teori dalam kelas. Bagi para pedagang, termasuk kita, waktu adalah uang. Jadi akan lebih efektif kalau teori sedikit, praktik lebih diperbanyak," usulnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sugiyanto memberi tips bagaimana agar sektor UMKM bisa bertahan di tengah krisis seperti sekarang ini. "Pihak UMKM harus mengembangkan dengan tekun apa yang ada di bumi Indonesia. Banyak negara lain mengalami guncangan karena resource-nya enggak banyak. Sebenarnya kita masih disayang sama Tuhan dengan banyaknya sumber daya alam. Tanpa melakukan ekspor pun sebenarnya perdagangan domestik bisa tetap jalan," ujarnya.

Kondisi negara kita, lanjutnya, secara finansial masih belum berkembang, tapi bangsa ini beruntung karena masih mengandalkan sektor riil. "Dan UKM sebenarnya tidak perlu risau, karena PHK banyaknya di pabrik besar. Karena UMKM sifatnya kecil jadi bisa bertahan. Yang menarik di negara kita, UMKM masih mengandalkan bank untuk pinjaman modal," pungkasnya. (rusman/ant

 

Arsip Berita