Sabtu, 26 Mei 2012
Lombok Barat: 30 KK Korban Abrasi Terima Bantuan
Kamis, 16 September 2010 06:32
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 16/9 (SIGAP) - Sebanyak 30 kepala keluarga korban abrasi di Dusun Montong Bowoh, Desa Meninting, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menerima bantuan sembilan bahan pokok.

Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lombok Barat Hj Nanik Zaini Arony yang didampingi Kepala Dinas Sosial Lombok Barat H Poniman di Meninting, Kamis (16/9).

Nanik mengakui, bantuan yang diberikan kepada korban abrasi yang terjadi pada H-1 Idul Fitri 1431 Hijriah terkesan terlambat, sebab sejauh ini pihaknya belum menerima laporan tentang musibah tersebut. "Kami bukannya sengaja tidak mendengar, tapi kami betul-betul tidak tahu musibah ini, karena tidak ada laporan. Oleh sebab itu begitu mendengar musibah tersebut, kami langsung datang ke sini," katanya di sela-sela penyerahan bantuan.

Nanik mengatakan, pihaknya baru mampu memberikan bantuan untuk meringankan kebutuhan sehari-hari para korban, sementara kerusakan dan kerugian yang bersifat fisik akan dikoordinasikan dengan dinas instansi terkait.

"Kami akan melaporkan hal ini ke Bupati agar segera ditindaklanjuti ke Dinas Perjaan Umum (PU) serta Dinas Kelautan dan Perikanan," katanya.

Kepala Dinas Sosial Lombok Barat H Poniman mengatakan, bantuan yang diberikan merupakan bantuan yang bersifat nonfisik berupa sembako, yang berisi beras, sarden dan mi instan.

"Mulai hari ini, sebanyak 30 kepala keluarga(kk) yang menjadi korban akan mendapatkan batuan makanan selama 10 hari ke depan, namun jika mereka belum bisa kembali melaut kami akan berikan bantuan lagi," katanya.

Menurutnya, akibat abrasi tersebut masyarakat yang rata-rata memiliki mata pencaharian sebagai nelayan belum bisa melaut akibat, beberapa peralatan tangkap mereka, sepeti jaring, dan perahu hanyut terbawa abrasi pantai.

"Kami berharap dengan bantuan kebutuhan sehari-hari ini dapat meringankan beban para korban hingga mereka kembali melaut," katanya.

Abrasi merupakan proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi  pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut.
Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, namun manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya abrasi adalah dengan penanaman hutan mangrove.
Seperti  yang diberitakan SIGAP sebelumnya, ekosistem hutan mangrove memiliki fungsi ekologis, ekonomis dan sosial yang penting dalam pembangunan, khususnya di wilayah pesisir. Meskipun demikian, kondisi hutan mangrove di Indonesia terus mengalami kerusakan dan pengurangan luas dengan kecepatan kerusakan mencapai 530.000 ha/tahun.

Untuk itu, perlu dilakukan berbagai upaya untuk memulihkan kembali hutan mangrove yang rusak agar dapat kembali memberikan fungsinya bagi kesejahteraan manusia dan mendukung pembangunan wilayah pesisir. (panji al husein/ant)

 

Arsip Berita