Sabtu, 26 Mei 2012
Gorontalo: Nelayan Tradisional Ikan Tuna Mengeluh Tangkapan
Rabu, 15 September 2010 09:53
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/9 (SIGAP) - Nelayan tradisional penangkap ikan tuna, di kawasan pesisir Kota Gorontalo, mengeluhkan minimnya hasil tangkapan, selama beberapa bulan terakhir.

Zakaria Haniku (45), salah seorang nelayan di Kelurahan Pohe, Kota Selatan, Kota Gorontalo, mengaku, sudah cukup lama dirinya pulang melaut, tanpa membawa satu ekorpun ikan tuna hasil tangkapan.

"Bahkan pernah selama Bulan Ramadhan baru-baru ini , sama sekali tidak ada satu ekorpun ikan yang terisi di perahu," ujarnya, Rabu (15/9).

Padahal satu kali turun melaut, Zakaria setidaknya harus menghabiskan tiga liter bensin untuk menghidupkan mesin tempelnya.

Hal serupa juga dikeluhkan oleh Eli Nusi (27), nelayan tradisional di perkampungan nelayan Tanjung Kramat, Kota Gorontalo.

"Biasanya, Di antara 20 hingga 30 perahu nelayan yang melaut dalam satu hari, yang pulang membawa hasil paling hanya satu hingga dua perahu, itupun hasilnya minim," Kata dia.

Bagi nelayan Tuna di Gorontalo, lanjutnya, ikan kualitas ekspor itu memang cukup menggiurkan, bahkan harga jualnya telah naik dari Rp27 ribu menjadi 30 ribu rupiah perkilo saat ini.

"Satu ekor ikan tuna saja beratnya antara 20 bahkan mencapai 30 kilogram, jadi wajar jika memang banyak nelayan yang memburunya," katanya.

Sebagian besar nelayan di Gorontalo, masih bekerja dengan cara tradisional untuk menangkap ikan Tuna, yakni dengan cara dipancing, mengingat kapasitas perahu yang cukup kecil , dan rata-rata hanya berdaya jangkau 2 mil dari bibir pantai.

Menurut kalangan nelayan di dua wilayah pesisir itu, pada jarak tempuh yang relatif dekat itu, persebaran dan populasi ikan tuna hanya melonjak pada saat-saat tertentu, hanya setiap Bulan Desember, itupun hanya berlangsung selama 3 hingga 4 hari. (panji al husein/ant)

 

Arsip Berita