Sabtu, 26 Mei 2012
OECD: Pengangguran Masih Dekati Angka Tertinggi
Rabu, 15 September 2010 04:31
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/9 (SIGAP) - Tingkat pengangguran di negara-negara industri terkemuka tetap sebesar 8,5% pada Juli seperti Juni, tapi turun dari 8,6% pada Mei, OECD mengatakan pada Selasa (14/9).

Tingkat pengangguran secara keseluruhan di 30 dari 33 negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) adalah dekat dengan tingkat tertinggi sejak Perang Dunia II, kata OECD.

Jumlah pengangguran di negara-negara OECD adalah 45,5 juta pada Juli, meningkat sebesar 13,4 juta sejak Juli tahun lalu.

Data untuk anggota terbaru Chili, Israel dan Slovenia tidak termasuk.

Pada Agustus, tingkat pengangguran AS naik sedikit 0,1 persentase poin menjadi 9,6% dan margin yang sama di Kanada menjadi 8,1%.

"Pola umum stabilitas yang luas bertahan di sebagian besar negara-negara OECD," kata OECD mengacu pada data Juli.

Pada Juli, Spanyol memiliki tingkat pengangguran tertinggi di antara negara-negara OECD 20,3%, diikuti oleh Republik Slovakia dengan 15%, Irlandia 13,6%, Portugal 10,8% dan 10,3% Hongaria.

Korea Selatan memiliki tingkat pengangguran terendah sebesar 3,7% diikuti oleh Austria dengan 3,8%.

Sementara, pemerintah Kuba bersiap memberhentikan sekitar 1 juta orang pekerja sektor publik. Tujuannya, untuk kembali menstabilkan perekonomian negara tersebut.

Selama 6 bulan mendatang, Kuba berencana menutup 50% pekerjaan publik. Mereka yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), kabarnya, didorong pemerintah untuk membuka lapangan kerja, atau bergabung dengan perusahaan swasta.

Kalangan analis menilai rencana ini merupakan perubahan terbesar pada sektor swasta sejak revolusi yang bergulir pada 1959. Kini, Pemerintah Komunis Kuba mengendalikan hampir seluruh segi ekonomi negara. Negara itu pun mempekerjakan sekitar 85% seluruh tenaga kerja resmi ini, yang jumlahnya 5,1 juta orang.

''Negara tidak sanggup. Jadi, hendaknya tidak memelihara perusahaan, badan produksi, sektor jasa, dan sektor yang menelan anggaran, ongkos, dan kerugian dan membebani ekonomi,'' kata peryataan federasi buruh seperti dikutip tribune Jabar ( Wa prasetya/ant/afp)


 

Arsip Berita