Sabtu, 26 Mei 2012
Kerinci: Waspadai Calo TKI Ilegal Pasca Lebaran
Selasa, 14 September 2010 21:58
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 14/9 (SIGAP) - Calo tenaga kerja Indonesia ilegal akan berkeliaran membujuk dan mengajak warga Kabupaten Kerinci untuk bekerja ke luar negeri terutama ke Malaysia tanpa prosedur dan aturan yang berlaku.

Kabag Humas Kabupaten Kerinci, Amri Swarta di Jambi, Selasa (14/9) mengatakan, pihaknya sudah memperingatkan warga supaya waspada dan tidak mudah terbujuk rayuan calo TKI ilegal tersebut.

"Kita sudah ingatkan warga supaya mewaspadai perusahaan pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) ilegal pasca lebaran yang marak mencari pekerja untuk diberangkatkan secara ilegal ke Malaysia," katanya.

Dirinya mengatakan Kabupaten Kerinci terbanyak mengirin TKI ke Malaysia dibanding kota dan kabupaten lainnya di Provinsi Jambi, maka tidak heran PJTKI dan calo TKI ilegal tiap tahun pascalebaran banyak berkeliaran di Kerinci.

Dalam modusnya calo itu selalu mencontohkan warga asal Kerinci yang berhasil mengadu peruntungan di negeri jiran itu, dan bagi warga yang ingin mencoba atau mengadu nasib di sana mereka akan siap membantu dan memberangkatkannya.

Calo TKI itu akan meminta sejumlah uang untuk pengurusan berbagai syarat yang diperlukan, namun setelah mendapat uang banyak mereka menghilang.

Warga asal Kabupaten Kerinci paling banyak sebagai TKI di Malaysia, bahkan di negri jiran itu mereka sudah membentuk perkampungan dengan nama `Kampung Kerinci`.

Sebagian besar warga Kerinci yang bekerja di negri Jiran itu juga cukup berhasil, dan terbukti keluarga dan rumah yang ditinggalkan di kampung halamannya ekonominya terbantu.

Dalam keterangan terpisah Kepala Bidang Pembinaan Hubungan Industrian (PHI) Disnakertransos Provinsi Jambi, Mahmud, mengatakan, warga calon TKI asal kabupaten Kerinci, diminta mewaspadai perusahaan PJTKI ilegal, yang banyak beroperasi mencari mangsa menipu warga.

Kabupaten Kerinci Jambi selama ini merupakan daerah terbesar yang warganya menjadi TKI dibandingkan dari kabupaten lainnya di Provinsi Jambi, termasuk Kota Jambi.

Karena itu tidak heran jika di kabupaten tersebut terdapat calo yang secara sembunyi-sembunyi atau bergerilya dari kampung ke kampung mencari mangsa calon TKI.

Untuk menertibkan PJTKI illegal itu, pihaknnya sudah bekerjasama dengan instansi terkait, terutama pihak kepolisian untuk melacak maupun mengambil tindakan tegas.

Dirinya menyarankan calon TKI, agar mendatangi kantor Dinas Tenaga Kerja setempat guna mengetahui informasi PJTKI yang telah mendapat izin, dan apakah ada job order atau permintaan tenaga kerja dari luar negri, terutama Malaysia.

Sementara itu, Jumlah dana yang masuk ke Kabupaten Kerinci, dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kerinci, baik yang legal maupun yang ilegal, pada tahun 2010, mencapai puluhan miliar rupiah. Sebuah angka yang luar biasa banyak untuk ukuran saat ini ditengah minimnya peluang kerja di Provinsi Jambi.

Angka kiriman uang tersebut bisa jadi terus meningkat, mengingat jumlah TKI asal Kerinci di luar negeri terus bertambah. Diperkirakan saat ini ada 14 ribu warga Kerinci yang bekerja di luar negeri, terutama di negeri jiran Malaysia.

Sementara 12 ribu di antaranya merupakan TKI ilegal. "Jumlah TKI resmi yang bekerja di Malaysia saat ini, diperkirakan mencapai 2 ribu orang," katanya.

Data Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Kerinci, menyebutkan, kiriman uang dari 700 orang TKI resmi yang bekerja di luar negeri, hingga Agustus 2010, menyentuh angka Rp 12 miliar.

"Jumlah tersebut hanya dari 700 orang TKI yang mereka kirim lewat bank dan Kantor Pos. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah, mengingat kebiasaan TKI Kerinci untuk mengirim uang ke sanak saudara di kampung menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha," ujar Kasi Penempatan Tenaga Kerja, Tarmizi, saat dikonfirmasi Tribun, bulan lalu.

Sementara kiriman uang yang dikirim TKI tidak resmi disinyalir lebih besar lagi. Biasanya mereka menggunakan jasa pengiriman uang, dan dititipkan langsung kepada keluarga yang akan pulang dari Malaysia. (wa prasetya/ant)


 

Arsip Berita