Sabtu, 26 Mei 2012
Bantul: Pemkab Bantu Penanaman Mangrove Di Pesisir
Selasa, 14 September 2010 21:43
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 14/9 (SIGAP) - Pemerintah Kabupaten Bantul membantu penanaman mangrove di lahan seluas 20 hektare di pesisir pantai Baros, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, untuk mencegah abrasi di pantai itu.

"Kami mendukung upaya masyarakat sekitar Baros dalam mencegah abrasi pantai, sehingga pemerintah kabupaten (pemkab) akan memperbanyak tanaman mangrove (bakau) pada lahan pesisir pantai itu," Kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Kabupaten Bantul, Edy Suhariyanta di Bantul, Provinsi DI Yogyakarta, Selasa.

Menurut Edy lahan sekitar pantai Baros yang dapat ditanami mangrove seluas 25 hektare, namun hingga saat ini baru seluas 5 hektare yang sudah ditanami masyarakat secara bertahap.

"Kami melihat semangat warga cukup tinggi sehingga Pemkab akan memikirkan hal tersebut untuk memaksimalkan lahan yang bisa ditanami mangrove untuk tujuan jangka panjang," katanya.

Edy mengatakan, untuk itu Pemkab akan menganggarkan bibit manggrove dan setidaknya pada musim kemarau mendatang sudah mulai ditanami secara bertahap.

"Untuk merealisasikan hal itu Pemkab akan melakukan secara bertahap, dan setidaknya pada 2012 mendatang diharapkan seluruh lahan sudah ditanami mangrove," katanya.

Menurutnya, bibit mangrove harus didatangkan dari Jepara, Jawa Tengah.Sementara pada setiap hektare dibutuhkan sebanyak 200 bibit, penanaman dilakukan pada musim kemarau.

Lebih lanjut, kata Edy selain tujuan penanaman mangrove untuk mencegah abrasi maupun erosi sekitar pantai, juga bertujuan untuk mempertahankan produktivitas lahan pertanian di sebelah utara tanaman mangrove.

"Tanaman mangrove dapat menahan hempasan angin dari pantai yang mengandung garam yang mengarah ke lahan pertanian, sehingga tidak menyebabkan tanaman mati," katanya.

Edy mengatakan, lahan tanaman yang bisa diselamatkan dengan adanya tanaman manggrove itu seluas 60 hektare yang menjadi lahan produktif dan potensial yang dimanfaatkan petani sekitar.

"Lahan tersebut saat ini telah ditanami bawang merah, cabai, jagung dan padi, tanaman tersebut harus dipertahankan dalam jangka panjang," katanya.

Dalam catatan SIGAP, mangrove penting dikembangkan karena tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut.

Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor).

Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob.

Hutan mangrove juga merupakan habitat bagi beberapa satwa liar yang diantaranya terancam punah, seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatranensis), bekantan (Nasalis larvatus), wilwo (Mycteria cinerea), bubut hitam (Centropus nigrorufus), dan bangau tongtong (Leptoptilus javanicus, dan tempat persinggahan bagi burung-burung migran (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita