Sabtu, 26 Mei 2012
Yogyakarta: Pendapatan Kusir Andong Meningkat Saat Lebaran
Selasa, 14 September 2010 10:40
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 14/9 (SIGAP) – Jika dibandingkan dengan hari biasa, pendapatan kusir andong di Yogyakarta saat Lebaran meningkat 50%.

Salah seorang kusir andong yang mangkal di kawasan Jalan Malioboro Marsudi, di Yogyakarta, Selasa (14/9) mengatakan, pendapatannya pada H+2 dan H+3 Lebaran meningkat signifikan jika dibandingkan dengan hari biasa.

"Pendapatan saya pada Lebaran sekarang meningkat 50 persen jika dibandingkan dengan hari libur biasa," katanya.

Dirinya mengatakan, meningkatnya jumlah penumpang andong sudah mulai terasa pada H+2 Lebaran, dan umumnya mereka ingin keliling Kota Yogyakarta.

"Sebagian besar penumpang andong saya adalah wisatawan Lebaran dan pemudik. Tempat yang paling banyak diminati mereka untuk dikunjungi di antaranya pusat-pusat pembuatan dan penjualan makanan khas Yogyakarta seperti bakpia di kawasan Patuk, keraton, dan kawasan Jalan Malioboro," katanya.

Meski pendapatan kusir andong di Yogyakarta meningkat pada Lebaran sekarang dibanding hari biasa, namun menurut Marsudi menurun jika dibandingkan dengan Lebaran tahun sebelumnya.

"Pada Lebaran 2009 jumlah penumpang sudah meningkat pada H+1. Sedangkan pada Lebaran tahun ini hingga H+2 peningkatannya sedikit, bahkan bisa dikatakan masih sepi," katanya.

Marsudi mengatakan, pada Lebaran tahun sebelumnya dirinya memperoleh pendapatan antara Rp600.000 hingga Rp1 juta dalam satu hari. Dirinya mulai mencari penumpang sejak pukul 08.00 hingga pukul 17.00 WIB.

"Sedangkan pada Lebaran tahun ini pendapatan saya hingga H+3 antara Rp300.000 hingga Rp500.000 per hari. Namun, pendapatan sebesar ini meningkat jika dibandingkan dengan hari-hari biasa" katanya.

Menurutnya, seperti pada Sabtu dan Minggu jumlah penumpang meningkat dibandingkan dengan hari biasa, dan sebagian besar mereka adalah wisatawan. Dalam satu hari dirinya bisa mendapatkan Rp100.000 sampai Rp300.000.

Sedangkan pada hari biasa, atau di luar hari Sabtu dan Minggu, pendapatannya sangat sedikit, yakni antara Rp80.000 sampai Rp100.000 per hari. Umumnya penumpang andongnya warga Yogyakarta, dan sebagian besar mahasiswa.

Hal yang sama juga dikatakan kusir andong lainnya, Supri, yang juga sering mangkal di kawasan Jalan Malioboro, bahwa pada Lebaran 2010 jumlah penumpang cenderung sedikit, berbeda dengan tahun sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan hari-hari biasa, memang ada peningkatan jumlah penumpang pada Lebaran sekarang.

Namun, dirinya optimistis jumlah penumpang akan terus meningkat untuk beberapa hari ke depan hingga H+7 Lebaran.

"Saya memperkirakan jumlah penumpang akan meningkat hingga menjelang berakhirnya masa libur sekolah, karena saat ini pun masih banyak anak sekolah dari luar daerah yang berlibur di Yogyakarta," katanya.

Semakin Menyusut

Transportasi andong atau delman di Kota Yogyakarta menyusut seiring berkurangnya populasi kuda di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam catatan  kata Ketua Persatuan Olah Raga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumlah kuda yang dipakai untuk kebutuhan transportasi hanya tinggal sekitar 700 ekor, jumlah sebelumnya mencapai 1.000 ekor lebih.

Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat ketua Pordasi DIY, Februari lalu kepada Media Indonesia mengungkapkan, menyusutnya transportasi delman di Kota Yogyakarta disebabkan lantaran profesi kusir (sopir andong) tidak menjanjikan untuk pekerjaan yang bisa menghasilkan uang banyak. Sehingga profesi kusir ditinggalkan generasi penerus.

"Jarang sekali generasi muda mau jadi kusir. Jadi, kalau dapat warisan kuda dari orang tuanya, malah justru dijual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi," katanya. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita