Sabtu, 26 Mei 2012
Mura: Warga Bergairah Kembangan Kebun Karet
Selasa, 14 September 2010 10:14
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 14/9 (SIGAP)- Warga di wilayah Kabupaten Murung Raya (Mura), Kalimantan Tengah kini mulai bergairah mengembangkan perkebunan karet.

"Hampir semua warga di desa kami mulai mengembangkan karet sebagai usaha utama," kata seorang warga Desa Tumbang Lahung Kecamatan Permata Intan, Fauzi, ketika berada di Puruk Cahu, Selasa.

Komoditas karet merupakan produk unggulan kabupaten paling utara di Sungai Barito itu dulunya belum dilirik masyarakat setempat karena hasilnya tidak sebanyak mengusahakan tambang rakyat seperti intan dan emas.

Namun, kini usaha tambang intan dan emas baik dilakukan di Sungai Barito maupun di darat tersebut mulai berkurang, karena lokasi yang menjadi mata pencaharian sehari-hari warga sudah masuk areal perusahaan tambang emas.

"Apalagi pemerintah daerah akan menertibkan dan melarang penambangan yang tidak dilengkapi izin, sehingga untuk mengantisipasi itu kami mulai buka kebun karet," kata Fauzi.

Menurutnya, kini warga tidak sebebas dulu mencari emas, karena lahannya masuk areal perusahaan tambang setempat, sedangkan di sungai mereka masih tergantung kondisi air.  Kalau debit air naik aktivitas terhenti, sedangkan tambang intan tergantung nasib bisa dalam beberapa hari tidak membuahkan hasil.

"Bahkan dulu usaha karet masih dipandang sebelah mata karena hasilnya sedikit, namun setelah tambang berkurang komodotas tersebut menjadi potensi ekonomi utama masyarakat setempat," katanya.

Kini perekonomian masyarakat setempat lebih maju dengan usaha karet yang setiap hari mendapat hasil mencapai puluhan kilogram per orang, dengan harga berkisar Rp10.000 - Rp12 ribu/kilogram untuk jenis slab.

Bahkan, lahan pertanian tanaman padi ladang kini sebagian besar berubah fungsi menjadi kawasan perkebunan karet.

Sementara itu, Wakil Bupati Murung Raya, Nuryakin, mengakui usaha perkebunan karet di daerah ini mulai dilirik warga sebagai usaha utama, karena hasilnya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

Guna mendorong masyarakat untuk mengusahakan perkebunan karet itu, maka Pemkab Mura kini telah menyalurkan jutaan bibit karet secara gratis kepada petani setempat.

Di samping itu, kata wakil Bupati Murung Raya Nuryakin, Pemkab setempat juga memprogramkan revitalisasi perkebunan karet dengan sasaran seluas 10.000 hektare di 10 kecamatan, namun masih terkendala peraturan daerah rencana tata ruang wilayah provinsi (RTRWP) yang belum disetujui pemerintah pusat.

"Kami akui selama ini hasil kebun karet mampu membantu penghasilan warga di saat menghadapi kesulitan dan krisis ekonomi saat ini," katanya.

Karet merupakan salah satu komoditias unggulan di kabupaten paling utara Kalteng ini milik masyarakat luasnya mencapai 40.000 hektare baik jenis lokal maupun unggul dengan produksi 36.000 ton per tahun.

Produksi Nasional

Tahun ini, seperti dikutip Neraca, pemerintah memasang target produksi karet sebanyak 2,5 juta ton. Tahun lalu, produksi karet nasional hanya 2,4 juta ton.

Namun guna mentargetkan produksi ini dilakukan peremajaan melalui pengembangan karet non-revitalisasi. “Melalui pengembangan karet non-revitalisasi diharapkan permasalahan yang dihadapi seperti produktivitas rendah karena banyak tanaman karet tua akan dapat diatasi untuk kesejahteraan petani itu sendiri," kata Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Achmad Mangga Barani, di Palembang, Agustus lalu.

Menurutnya, pengembangan karet non-revitalisasi tahun 2010 ditargetkan seluas 8.688 hektare/ha, dan akan dilakukan di 16 provinsi dan kabupaten, sedangkan tahun sebelumnya baru 7.035 hektare untuk 13 provinsi dan 43 kabupaten. Program pengembangan karet non-revitalisasi tersebut, imbuhnya, mendapat bantuan dana dari pemerintah melalui APBN sebesar Rp20 juta tiap hektare, jadi kalau diprogramkan seluas 8.688 hektare, berarti tahun 2010 mendapat subsidi total mencapai Rp173,7 miliar.

Achmad mengungkap, pengembangan karet rakyat non-revitalisasi akan menambah total luas areal perkebunan nasional secara keseluruhan yang kini baru mencapai 2,4 juta hektare. Sementara volume ekspor karet Indonesia tahun 2009 tercatat sebanyak 1,991 juta ton dengan nilai perolehan devisa US$3,241 miliar. 
Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo), Suharto Honggokusumo, menilai produktivitas kebun karet di Indonesia masih paling rendah diantara produsen utama karet alam dunia.

Produktivitas di India, Thailand dan Vietnam di atas 1.700 kilogram/hektare/tahun, Malaysia, Sri Lanka dan China di atas 1.000 kg/hekater/tahun.
Menurutnya, perkebunan karet Indonesia terluas di dunia (3,43 juta hekater pada 2009), disusul Thailand 2,76 juta hektare, namun produksi salah satu hasil perkebunan itu di Tanah Air baru 2.440 ribu ton per tahun atau berada di posisi kedua setelah Thailand yang mencapai 3.086 ribu ton per tahun. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita