Sabtu, 26 Mei 2012
DPRD Sintang: Kondisi Cuaca Mengancam Ketersediaan Pangan
Selasa, 14 September 2010 05:25
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 14/9 (SIGAP) - Anggota DPRD Sintang, Ginidie mengatakan kondisi cuaca yang tidak menentu membuat masyarakat belum bisa memulai bercocok tanam, sehingga akan berdampak pada ketersediaan pangan warga di kabupaten itu.

Ginidie menjelaskan, biasanya Juli dan Agustus masyarakat sudah mulai berladang, namun hingga kini dirinya melihat kebanyakan masih belum bisa memulainya karena kondisi cuaca yang tidak menentu.

"Biasanya cadangan beras warga habis menjelang musim panen berikutnya, tapi sekarang bisa jadi musim panen akan mundur dari waktu biasanya dan tentunya akan berdampak pada ketersediaan pangan masyarakat," jelas Ginidie di Sintang, Senin (13/9) .

Walaupun demikian dirinya tidak menampik bahwa masyarakat sudah terbiasa dengan pola berladang untuk menaman padi yang sangat tergantung pada kondisi cuaca dimana pada saat kemarau biasanya lahan yang akan dijadikan ladang dibakar terlebih dahulu.

"Kebiasaan itu butuh proses untuk mengubahnya karena mereka lebih akrab dengan pola berladang bukan mencetak sawah, sehingga cuaca akan sangat menentukan kapan musim tanam dimulai," katanya.

Politisi PKPB yang juga Sekretaris Komisi I DPRD Sintang itu menilai cara membakar masih dianggap masyarakat sebagai cara yang efektif ketika membuka ladang, apalagi saat ini belum ada cara efektif lainnya tanpa membakar ladang yang bisa diterapkan warga.

Dikatakan Ginidie, dalam kondisi seperti itu, warga tentunya akan sangat bergantung pada distribusi bahan pangan.

"Disinilah saya lihat peran pemerintah dan tentunya ketika distribusi lancar maka ancaman kerawanan pangan bisa teratasi," imbuhnya.

Menurutnya, pemerintah kabupaten sudah harus memiliki langkah antisipasi jika ternyata kondisi cuaca tetap seperti saat ini hingga beberapa bulan ke depan.

"Jangan sampai masyarakat yang bergantung dengan hasil berladang ini kekurangan bahan pangan, prediksi kemungkinan bencana sudah semestinya diantisipasi sejak dini," katanya.

Seperti diketahui dalam beberapa hari terakhir, hujan terus mengguyur Sintang dan sekitarnya sehingga membuat air Sungai Kapuas dan Sungai Melawi yang melintasi kabupaten itu kembali naik dan menggenangi sejumlah jalan utama di permukiman warga yang berada di pinggiran kedua sungai itu.

Berdasarkan pantauan SIGAP, perubahan musim yang tak menentu akhir-akhir ini mempengaruhi pola tanam di sejumlah daerah. Di Provinsi Bangka Belitung (Babel) misalnya, akibat perubahan musim ini petani tidak optimal untuk melakukan dua kali penanaman padi dalam setahun.

Kondisi cuaca saat ini bisa menguntungkan dan bisa pula merugikan petani. Musim penghujan yang terus mengguyur wilayah Babel membuat tanaman rentan terserang hama.

Penyimpangan iklim global dilaporkan terjadi akibat pengaruh fenomena cuaca global La Nina. Dengan adanya penyimpangan cuaca itu, musim kemarau diperkirakan akan berlangsung lebih pendek dan bersifat basah di Indonesia.

Musim kemarau yang biasanya berlangsung mulai April-September, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, tahun ini hanya akan berlangsung selama dua bulan mulai akhir Juli hingga September. Memasuki Oktober musim penghujan kembali. (rusman/ant)

 

Arsip Berita