Sabtu, 26 Mei 2012
Silungkang: Perantau Minang Di Jakarta Borong Kerajinan
Selasa, 14 September 2010 01:58
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 14/9 (SIGAP) - Para perantau Minangkabau, Sumatra Barat (Sumbar) yang berdomisili di Jakarta --rata-rata pedagang-- yang mudik ke Sumbar itu, nyaris memborong aneka kerajinan tangan anak nagari Silungkang, Kota Sawahlunto.

"Kepulangan perantau Minang dalam masa libur Idul Fitri tersebut sekaligus menjadi berkah bagi nagari Silungkang, dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi mikro," kata seorang pemudik asal Silungkang Zurial Nofdi (45), di Sawahlunto, Senin.

Menurut Zurial, sama dengan tahun-tahun sebelumnya, kepulangan para perantau tersebut selain mempererat silaturrahmi dengan sanak famili, mereka juga menyempatkan diri membeli aneka produk kerajinan anak nagari Silungkang.

Aneka kerajinan anak nagari Silungkang, katanya, cukup diminati perantau Minang di Jakarta guna mereka jual kembali untuk mendapatkan keuntungan khususnya di pasar Tanah Abang.

"Di pasar Tanah Abang, produk kerajinan asal Silungkang sangat diminati konsumen mulai dari sapu ijuk, sandal, cenderamata, tenunan Silungkang dan lainnya," katanya.

Sementara itu produk kerajinan Silungkang yang mereka beli diangkut dengan paket tiki, atau dibawa dengan kendaraan pribadi yang bernomor polisi dari daerah asal kedatangan mereka umumnya asal Jakarta, dan lainnya sebagian kecil juga berasal dari Surabaya dari Sumatra Utara.

Zurial mengatakan, aneka kerajinan Silungkang juga tenunan Silungkang masih dikelola oleh putra asli daerah itu sedangkan perajinnya berasal dari pemuda dan pemudi dari Nagari Kubang, Nagari Cangkok Ayam atau berada di sekitar Kota Sawahlunto.

Berdasarkan data Pemkot Sawahlunto, kota itu merupakan satu kota yang terletak 90 kilometer lebih dari kota Padang, Sumbar atau lebih dikenal dengan "kawasan kota tua", karena sejak dulu hingga kini, masih berdiri beberapa bangunan tua peninggalan kolonial Belanda yang usianya telah mencapai ratusan tahun.

Kini, beberapa di antara bangunan itu masih dijadikan sebagai rumah sakit umum Sawahlunto, perkantoran, serta sekolah. Kota Sawahlunto dapat ditempuh selama dua jam perjalanan dengan kendaraan pribadi ataupun bus umum.

Di kota itu, terdapat objek pariwisata yang dijadikan pusat pertambangan Sawahlunto pada abad ke-19. dan pada tahun 1880, penambangan batubara di Sawahlunto untuk pertama kali dikelola pemerintah kolonial Belanda yang bermula dari aktivitas pertambangan. Nama Sawahlunto mulai dikenal oleh dunia Internasional sebagai kota arang.

Guna menelusuri sejarah pertambangan itu, dapat dilihat dari sebuah lubang bekas tambang dengan ukurannya relatif besar. Pada awalnya, lubang bekas tambang itu hanya menjadi saksi bisu ekspansi pertambangan Sawahlunto masa pemerintahan kolonial Belanda. Namun sejak pertengahan tahun 2008, pemerintah Kota Sawahlunto menjadikan tempat ini sebagai tempat pariwisata sejarah di Sawahlunto.

Silungkang desa terletak di tepi jalan raya Sumatera sekitar 95 km dari selatan-timur Kota Padang. Desa ini juga terkenal dengan seni seperti kerajinan anyaman rotan, tongkat, bambu, sapu dan menenun. Songket dan sarung tangan tenunan Silungkang sudah terkenal di Sumatera Barat. Songket Silungkang juga dibuat secara tradisional, dengan alat tenun yang mirip dengan alat tenun di Pandai sikek tapi sedikit memiliki ukuran lebih besar dari alat tenun di Pandai sikek. Tenun tradisi di daerah ini umumnya dilakukan oleh perempuan dalam rumah mereka.

Tenun di Silungkang telah umum jenis Batabua, songket yang dihiasi tidak memenuhi bidang kain, dan dengan beberapa dasar songket sangat polos dan beberapa kotak. Motif tenunan Silungkang berasal dari lingkungan alami seperti rabuang pucuak, bunga, motif burung, sirangkak, Balah katupek dan lain-lain. Bentuknya cukup sederhana jika dibandingkan dengan songket Pandai sikek dan tidak begitu rumit dalam proses tersebut sehingga dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. (rusman/ant)

 

Arsip Berita