Sabtu, 26 Mei 2012
Lubuklinggau: Pedagang Mainan Meraup Keuntungan Lebih
Minggu, 12 September 2010 09:29
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/9 (SIGAP) - Datangnya hari raya Idul Fitri 1431 Hijriah juga memberikan berkah bagi sejumlah pedagang mainan di Kota Lubuklinggau, Sumatra Selatan.

"Lebaran ini telah memberi tambahan pendapatan, dari dagang mainan ini cukup untuk makan kami sekeluarga," kata Indra (43) salah seorang pedagang mainan yang berada di komplek pertokoan di jalan Yos Sudarso, Kelurahan Talang Jawa, Sabtu (11/9).

Aneka mainan yang dijualnya terdiri dari mobil-mobilan, senapan dan pistol hingga boneka mainan, yang dibelinya dari salah satu agen mainan yang ada di daerah itu dengan modal Rp2 juta.

Lelaki dengan delapan anak ini, sebelum lebaran berprofesi sebagai petugas parkir dan telah menekuni usaha tahunan tersebut sejak dua tahun belakangan.

Pada hari pertama lebaran kemarin dengan ditemani istrinya Yana (37) dirinya mampu mengantongi keuntungan dari barang yang terjual mencapai Rp750.000.

Mainan yang belum laku tersebut kata dia akan dijual pada lebaran hari kedua dan seterusnya dan jika tidak habis akan dijual pada lebaran haji mendatang.

Ditambahkan Yana istrinya, aneka mainan produk China tersebut antara lain jenis pistol dijual antara Rp10.000 hingga Rp20.000, sedangkan untuk jenis senapan seperti jenis Shoutgun maupun MP-5 dijual Rp50.000, dan untuk jenis AK-47 dan M-16 dijual Rp70.000 dan untuk boneka dan mobil-mobilan dijual Rp20.000 sampai Rp45.000.

"Untuk yang beli pistol dan senapan dapat bonus satu kantong peluru plastik, dan untuk pelurunya bagi yang mau beli satu kantongnya Rp1.000," kata Yana.

Sementara itu hal sama juga diutarakan Marni (27) pedagang mainan di kawasan pasar Inpres Lubuklinggau, namun bedanya di kawasan ini pedagang mainan terlihat lebih banyak sehingga harga jual mainan antara satu pedagang dengan pedagang lainnya lebih bersaing.

"Disini yang jual mainan banyak ada puluhan, jadi harganya tidak beda jauh. Jadi kalau kita jual lebih mahal tidak laku, karena anak-anak sekarang paling banyak bawa uang Rp50.000," terangnya.

Seperti diketahui, Impor produk mainan asal Cina yang membanjiri pasar Indonesia membuat industri dalam negeri terpukul.

"Yang paling terpukul adalah produsen jigsaw atau puzzle bergambar yang umumnya industri kecil," kata Sudarman Wijaya, Wakil Ketua bidang Pemasaran Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI), seperti dikutip Tempo.

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, ekspor produk Jigsaw atau puzle bergambar pada Januari-April 2010, turun 97,36% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada Januari-April 2009, ekspor produk tersebut masih mencapai US$ 12,630 ribu. Namun, pada periode Januari-April 2010, ekspor produk puzzle bergambar tinggal US$ 333. (wa prasetya/ant)





 

Arsip Berita