Sabtu, 26 Mei 2012
Bermacam Tradisi Lebaran Meriah Di daerah
Minggu, 12 September 2010 09:14
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/9 (SIGAP) - Masyarakat selingkar Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), menggelar tradisi "rakik-rakik" (biduk-biduk kayu berobor, red) dalam memeriahkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 Hijiriah.

Pantauan ANTARA di Danau Maninjau, Sabtu (11/9), tradisi rakik-rakik dimulai sejak pukul 00:00 hingga menjelang subuh, di mana beberapa jorong (kampung, red) di selingkar danau melepas rakik-rakik yang dibuatnya ke danau dengan dikayuh sekitar 20 orang pendayung.

Rakik-rakik berupa bangunan terapung yang dibuat di atas susunan sebanyak delapan biduk kayu. Bangunan itu dalam bentuk masjid atau rumah adat Minang yang dibuat dari bambu, kayu dan dilapisi kertas hias warna-warni.

Pada bagian bawah dan sudut-sudut bangunan masjid dari bambu itu dipasangan berjejer ratusan obor minyak terbuat dari polongan bambu yang menyala menyinari bangunan rakik-rakik.

Bangunan masjid itu dibuat diatas susunan lantai papan pada delapan biduk yang disatukan dengan tali sehingga berbentuk kapal tongkang dengan ukuran 40 meter persegi.

Selain bangunan masjid dengan penyinaran ratusan obor, setiap tongkang juga diberi 20 meriam bambu.

Selepas pukul 00:00 WIB dini hari, rakik-rakik dilepas tokoh masyarakat jorong ke danau untuk selanjutnya mengitari danau dikayuh perlahan sekitar 20 orang pemuda. Di tengah kegelapan malam di permukaan air terlihat pemandangan masjid-masjid diterangi cahaya ratusan obor melaju di tengah danau.

Rakik-rakik dari beberapa jorong kemudian menghiasi Danau Maninjau dengan gerlap-kerlip obor menyinari bangunan-bangunan masjid yang dibawanya, sehingga nampak indah di pandangi dari sisi danau.

Sedangkan para pendayung, juga dilengkapi meriam bambu yang kemudian diledakan sahut bersahut saat rakik-rakit melaju di tengah danau. Bunyi meriam bambu yang bersahut-sahutan menambah semarak tradisi masyarakat selingkar Danau Maninjau dalam memeriahkan lebaran.

Di pinggiran danau, ribuan warga baik perantau, warga lokal maupun wisatawan berkumpul memandangi keindahan banguna-bangunan masjid yang melaju tenang di tengah danau.

Rakik-rakik melaju menyusuri danau hingga masuknya waktu sholat subuh dan menjelang pagi, bangunan-bangunan masjid itu dilarutkan (dibenamkan, red.) ke dalam danau, sekaligus menandai berakhirnya tradisi rakik-rakik.

Menurut tokoh pemuda setempat, Epi (45), tradisi rakik-rakit digelar setiap Idul Fitri dan berlangsung sejak ratusan tahun di selingkar dana tersebut. Bagi masyarakat setempat, rakik-rakik sebagai tanda telah selesainya bulan Ramadhan, sekaligus menyambut kedatangan saudaranya dari rantau yang pulang mudik.

Dirinya mengatakan, jumlah rakik-rakik yang dibuat dan dilepas ke danau kini semakin sedikit, karena mahalnya biaya pembuatan dan operasional satu rakik.

"Membuat satu rakik butuh dana mencapai Rp20 juta termasuk untuk menyewa biduk-biduk kayu yang membawa bangunan masjid ke tengah danau," katanya.

Biaya pembuatan rakik dan operasionalnya dari sumbangan masyarakat setempat terutama yang merantau dan tengah pulang kampung untuk berlebaran bersama keluarga, tambah Epi.

Di Nusa Tenggara Barat, tradisi Lebaran Topat berlangsung turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Selain merupakan rangkaian kegiatan untuk merayakan Idul Fitri, acara itu memiliki misi mempertahankan tradisi leluhur. Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam Lebaran Nine (wanita). Mulai nilai budaya, agama, hingga pesta rakyat.

Dari aspek agama, masyarakat Sasak melaksanakan Lebaran Topat dengan melakukan kegiatan-kegiatan ritual. Salah satunya, ziarah kubur ke makam para aulia-alim ulama terkenal yang telah berjasa menyebarkan agama Islam di Pulau Lombok.

Di Kota Mataram, masyarakat biasanya datang ke dua tempat, yaitu Makam Bintaro dan Makam Loang Baloq. Dua makam itu dipandang cukup keramat.

Dalam ziarah kubur, warga sejatinya tidak hanya memanjatkan doa, tapi juga melakukan beragam ritual keagamaan dan atraksi simbolik. Misalnya, di dua makam yang dianggap keramat tadi, pengunjung menyempatkan mencukur rambut bayinya (ngurisan).

Bayi yang dicukur rambutnya di tempat tersebut diyakini akan menjadi anak yang saleh dan sukses di masa yang akan datang. Tidak hanya itu, acara tersebut juga menjadi haul bagi mereka yang sukses dalam hidupnya. Untuk melambangkannya, mereka datang dengan membawa perbekalan berupa makanan. Misalnya, ketupat, pelalah ayam, daging, opor telur, pakis, paku, urap-urap, dan pelecing kangkung. Semua makanan itu kemudian dimakan bersama-sama di halaman makam. Setelah selesai berziarah, pengunjung berpindah ke pinggir-pinggir pantai. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita