Sabtu, 26 Mei 2012
Dinkes Padang Imbau Warga Lakukan 3M Guna Antispasi Penyebaran DBD
Minggu, 12 September 2010 06:29
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/9 (SIGAP) – Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Efrida Azis di Padang, Sumatera Barat, Minggu (12/9) mengatakan, dinasnya saat gencar mengimbau warganya melakukan program 3M (menguras, menutup, mengubur). Hal itu dilakukan guba menekan menyebarnya virus dengue (DBD) yang dibawa nyamuk aedes agypti dewasa.

Imbauan tersebut digencarkannya terkait warga Kota Padang khususnya di kompleks perumahan dan di perkantoran resah karena anaknya ada yang terjangkit DBD sehingga Dinas Kesehatan dimintai untuk segera melakukan fogging (pengasapan).

Menurut Efrida, pengasapan hanya bisa membunuh nyamuk yang besar sedangkan jentik-jentik nyamuk tetap bisa hidup dan menjadi dewasa.

Karena itu untuk pencegahan dan penularan nyamuk demam berdarah cara yang paling baik adalah melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSM) dengan cara menguras, menutup, dan mengubur (3M).

"Dengan cara 3M itu diyakini telur-telur nyamuk akan mati sehingga penularan virus DBD bisa ditekan," katanya.

Dijelaskan Efrida, ada dua macam fogging --jika diperlukan-- dilakukan oleh dinas kesehatan yakni fogging massal dan fogging fokus.

Fogging massal, katanya, dilakukan sebelum dan sesudah musim hujan. Fogging dilaksanakan pada lokasi rawan DBD yang dinyatakan rawan jentik nyamuk berdarah berdasarkan survei dari dinas kesehatan dan puskesmas setempat.

"Sedangkan fogging fokus dilakukan di musim hujan jika kasus DBD ditemukan," katanya bahwa gerakan 3M lebih baik dilakukan ketimbang fogging itu.

Sebab fogging (mengandung zat malation bersifat racun) itu jika disemprotkan ke rumah-rumah penduduk sangat berbahaya bagi anak-anak dan balita.

Berdasarkan catatan SIGAP, demam berdarah dengue atau istilah kedokterannya Dengue Hemorrhagik Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Dengue tipe 1-4, dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti betina (dominan) dan beberapa spesies Aedes lainnya.

Di Indonesia sendiri, keempat tipe virus Dengue dapat ditemukan, dan yang dihubungkan dengan gejala DHF yang parah adalah tipe 3. Kekebalan (imunitas) terhadap satu jenis virus tidak berlaku untuk infeksi jenis virus lainnya, bahkan dapat menimbulkan reaksi yang kurang menguntungkan bagi tubuh. Jumlah kasus DHF utamanya meningkat pada musim hujan dimana sumber air bersih bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes tersedia dimana-mana, jika tidak dilakukan program pembersihan lingkungan yang baik.

Seperti diketahui gejala yang tampak akibat infeksi virus dengue biasanya muncul setelah masa inkubasi (masa dimana virus berkembang hingga menimbulkan gejala) 3-8 hari setelah virus masuk ke dalam tubuh. Jika sistem pertahanan tubuh dapat mengatasi virus, maka gejala yang tampak bisa ringan atau bahkan tidak didapatkan. Namun jika tidak, dapat timbul beberapa kondisi sebagai berikut Demam tinggi mendadak, >38° C, 2-7 hari; Demam tidak dapat teratasi maksimal dengan penurun panas biasa;  Mual, muntah, nafsu makan minum berkurang; Nyeri sendi, nyeri otot (pegal-pegal);  Nyeri kepala, pusing; Nyeri atau rasa panas di belakang bola mata; Wajah kemerahan; Nyeri perut; Konstipasi (sulit buang air besar) atau diare

Jika seluruh atau beberapa gejala diatas ditemukan pada seseorang, maka secara medis orang itu didiagnosis menderita Demam Dengue (Dengue Fever).

Semantara tanda-tanda seseorang menderita Demam Berdarah Dengue (DHF) adalah jika didapatkan Demam tinggi mendadak >38°C selama 2-7 hari; Adanya manifestasi perdarahan spontan, seperti bintik-bintik merah di kulit yang tidak hilang jika ditekan (utamanya di daerah siku, pergelangan tangan dan kaki), mimisan, perdarahan gusi, perdarahan yang sulit dihentikan jika disuntik atau terluka;  Pembesaran organ hepar (hati) dan limpa; syok. (rusman/ant)



 

Arsip Berita