Sabtu, 26 Mei 2012
Yogyakarta: Wisatawan Mancanegara Kagumi Upacara `Grebeg`
Jumat, 10 September 2010 13:38
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 10/9 (SIGAP) - Sejumlah wisatawan mancanegara mengatakan kagum terhadap upacara tradisional `grebeg` syawal yang diselenggarakan oleh keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

"Saya terkesan dengan prosesi upacara `grebeg` terutama keunikan prajurit yang mengawal `gunungan` tersebut," kata wisatawan asal Austria Florian di Yogyakarta, Jumat (10/9).

Menurut Florian keunikan prajurit pengawal gunungan `grebeg` terletak pada seragam yang digunakan. "Tidak tahu kenapa saya menyukainya, tetapi menurut saya prajurit-prajurit tersebut tampak berwibawa sekaligus bersahaja," katanya.

Dirinya mengatakan meskipun cuaca Yogyakarta saat upacara `grebeg` berlangsung sangat terik, dirinya tetap mengikuti prosesi tersebut dari awal hingga akhir.

"Menurut saya masyarakat Yogyakarta dan Indonesia sangat beruntung karena warisan budaya semacam upacara `grebeg` masih terpelihara dan rutin digelar setiap tahun," katanya.

Sementara itu wisatawan asal Belanda Gabi yang juga menyaksikan upacara `grebeg` syawal tersebut mengatakan dirinya tertarik terhadap upacara tersebut karena filosofinya yang mendalam.

"Saya banyak membaca buku tentang sejarah Keraton Ngayogyakarta, salah satu yang menarik perhatian saya adalah upacara `grebeg` karena filosofinya yang mendalam yaitu keteladanan seorang raja yang rela memberikan hadiah kepada rakyatnya," katanya.

Daya tarik lain menurut Gabi adalah meskipun pada upacara tersebut Sri Sultan Hamengku Buwono X tidak terlibat secara langsung, tetapi warga Yogyakarta tetap mengikuti `grebeg` dengan antusias. "Ini membuktikan bahwa rakyat Yogyakarta memiliki kesetiaan yang besar terhadap rajanya," katanya. `

Seperti yang dilansir trulyjogja.com, Grebeg` adalah tradisi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai wujud `hajad dalem` atau sedekah Sultan kepada rakyatnya yang disimbolisasikan dengan gunungan berisi sayuran, di antaranya kacang panjang, cabai, dan sebagainya.

Ritual `grebeg` ini diadakan tiga kali dalam satu tahun, yaitu saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, memasuki bulan Syawal, serta pada hari raya Idul Adha.

Upacara yang juga biasa disebut "Bedhol Songsong" oleh masyarakat Yogyakarta ini merupakan upacara puncak dari peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara ini diselenggarakan pada tanggal 12 Maulud setiap tahunnya. Ini berarti pagi hari setelah perangkat gamelan kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu dibawa masuk kembali ke dalam keraton dan di simpan di bangsal Sri Manganti.

Upacara Grebeg Maulud dimulai dengan kirab atau parade kesatuan prajurit kraton yang mengenakan pakaian kebesaran masing-masing. Sedangkan puncak dari acara ini adalah iringan gunungan yang dibawa menuju Masjid Agung, dimana diselenggarakan do'a dan upacara persembahan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pada upacara ini, sebagian gunungan, yang dipercaya memiliki daya tuah terutama bagi kaum tani, dibagi-bagikan kepada masyarakat dengan cara diperebutkan. Masyarakat berebut mendapatkannya. Menutut anggapan mereka, dengan mendapatkan bagian dari gunungan ini, tekad mereka akan dapat semakin kuat.

Dan bila di tanam di lahan persawahan, maka hasil panen mereka akan melimpah. Mereka meyakini bahwa khasiat do'anya dapat membawa berkah dari Tuhan berupa kesuburan dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman. (wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita